senilisan

1996_akhir Desember _Edisi 059_seni:
senilisan

Seorang bocah, dalam salah satu episode serial Anak Seribu Pulau, diceritakan menjadi andalan kampungnya untuk berbagai kejuaraan bertutur. Ia dipastikan akan menjadi seorang Ceh, ahli bertutur dalam tradisi Gayo. Episode tersebut menjadi sangat menarik, karena ternyata masih ada anak yang ingin menjadi penutur, padahal, seni lisan, di daerah manapun di Idoneisa, mulai ditinggalkan para pendukungnya. Seni lisan mulai digantikan sinetron atau film layar lebar. Cerita tidak lagi cukup untuk didengarkan, tapi juga harus dapat dilihat.

Ada banyak seni bertutur yang dulu pernah berjaya,beberapa di antaranya adalah;

Didong, seni lisan Gayo
Didong dimainkan oleh kaum pria yang dipimpin oleh penyair yang melagukan syair-syairnya, diiringi oleh beberapa pemuda. Seni Didong ditanggap pada acara pernikahan, dari malam sampai pagi hari. Seringkali pertunjukannya berlangsung dalam bentuk kompetisi, jadi ada dua kelompok Didong yang bermain. Masing-masing kelompok harus saling merespon dalam bentuk nyanyian syair, jadi kekuatannya terdapat di syairnya. Para pemimpin Didong menciptakan syairnya sendiri, dan tidak jarang syair itu dibuat pada saat pentas. Kadang-kadang penyair dalam Didong disebut ceh. Ceh yang cukup terkenal adalah To’et. Konon beliau kerap menyanyikan syair-syair saat sedang berjualan kopi di medan. Beliau pun pernah terkena kerja rodi pada jaman Jepang, namun karena kemerduan suaranya, To’et diberi tugas bernyanyi. Syair-syair berisi tentang kepedihan rakyat yang kerja rodi, tapi dinyanyikan dalam bahasa Gayo sehingga pihak Jepang tidak mengerti dan para pekerja merasa terhibur. Menurut Hamzah, seniman dari Takengon, seni ini tetap diminati oleh masyarakat Gayo, terutama jika ada kompetisi antar kampung.
(sumber hasil wawancara dengan seniman Didong di TIM, Jakarta 1993 dalam acara tradisi lisan)

Leave a Reply

Close Menu