Seni Titik – Titik (Pointilism)

1997_akhir Januari_Edisi 061_seni:
Seni Titik – Titik (Pointilism)

Jauh sebelum adanya seni modern, penggunaan unsur titik sudah banyak dipakai dalam motif tradisional. Tengok saja motif dalam kain tenun ikat Sumba, Flores atau kain batik. Juga pada bentuk-bentuk seni rupa Aborigin, unsur ini tampak jelas sebagai pembentuk sebuah symbol seni.

Di Eropa eksplorasi teknik penggunaan titik dalam seni rupa baru marak pada tahun 1885’an. Teknik pun dikenal dengan sebutan Pointilism. Adalah Geoeges Seurat yang menjadi penggagasnya, lukisannya yang berjudul “Sunday Afternoon On The Island of La Grande Jatte” merupakan wakil bersejarah bagi teknik ini.

Pointillism menjadi teknik lukis yang menerapkan titik-titik kecil dari pigmen murni keatas kanvas. Sehingga ketika dilihat dari jarak tertentu titik-titik itu akan bercampur satu sama lain dan memberikan efek seperti sapuan kuas.

Teknik Pointilism merupakan perkembangan dari penelitian tentang optik, cahaya dan warna yang dilakukan oleh Herman Von Helmholtz & Michel Cheuvreul ada tahun 1880. Lalu para pelukis aliran impresionisme melakukan pencarian bentuk ke jaman neoklasik untuk membangun jembatan anatara seni dan ilmu pengetahuan. Akhirnya ditemukan benang merah bahwa hukum persepsi visual melengkapi jembatan tersebut.

Teknik Pointilism akhirnya menjadi salah satu teknik di aliran postimpresionisme. Para perupanya sering memberikan istilah lain untuk Poitilism seperti “divisionism” atau “color huminism”. Keberadaan gaya ini dimulai pada pameran lukisan Impresionisme di Paris pada tahun 1886, Paul Signac dalam bukunya “D’eugune DelaCroix au nneo impresionisme” menyatakan jika penerapan teknik pointillism ini kualitasnya kurang bagus, maka lukisan cenderung tidak hidup, tidak spontan.

Sumber : Encyclopedia American Vol 20 USA : 1984

Leave a Reply

Close Menu