Sekilas kota di jaman purba

1998_Juli_Edisi 092_bahas:
Sekilas kota di jaman purba

Sekitar 10.000 tahun silam di masa Neolitik, manusia mulai hidup menetap dan selama kurang lebih 5000 tahun, kehidupannya terdiri dari pedesaan petani yang semi permanen. Evolusi dari betuk pedesaan ke bentuk perkotaan membutuhkan waktu sekitar 1500 tahun, misalnya di jaman kuno dari tahun 5000 SM ke 3500 SM.

Awal dari kebudayaan perkotaan muncul di daerah Mesir, Mesopotamia, Syria, Iran dan Asia Kecil. Biasanya banyak kota diawali di daerah yang subur seperti di tepi aliran sungai, misalnya kota tua Mesir berada di dekat sungai Nil, di Mesopotamia, banyak kota terletak di sepanjangan aliran sungai Efrat dan Trigis. Munculnya kota dimungkinkan sejak kemampuan produksi manusia melebihi takaran konsumsinya sehingga terjadi penyimpanan surplus persediaan makanan. Pemukiman perkotaan yang tertua ada di dataran tepi sungai Nill, Mesir, sungai trigis dan Eufrat di Mesopotamia, di Yangtze dan Hwang Ho, Cina. Bentuk tata kota kuno tersebut beragam, di Mesir kebanyak segi empat, di Sumeria berbentuk oval, di Asyiria berbentuk persegi panjang. Kendati beragam, tata kota kuno ini selalu mengikuti kepastian geografis dan pikiran keagamaan.

Di area subur inilah kota-kota mulai bermunculan sejalan dengan penemuan di bidang transportasi misalnya roda pertama kali digunakan dilembah Trigis dan Eufrat sekitar tahun 3500 SM. Dibuat dari gelondongan padar dan kemudian dipakai jari-jari, as dan pelek. Agar roda dapat digunakan, maka diperlukan sebuah pembangunan jalan, suatu seni yang berkembang menakjubkan di masa Romawi.

Keberadaan kota juga merupakan hasil spesialisasi profesi dimana kota-kota kuno memiliki pejabat, pendeta yang mengatur sebuah pemerintahan dan pengaturan sirkulasi barang. Disekitar mereka maka hiduplah para pengrajin, pekerja yang berada dalam sastra kelas lebih rendah.

Alasan lain terbentuknya kota adalah pentingnya membangun tempat pertahanan. Misalnya di Yunani kuno, tipe kota yang muncul disebut acropolis yang dikelilingi oleh kubu pertahanan. Sejak area kota tergantung pada suplai dari daerah pedalaman, maka diperlukan sebuah benteng kota untuk melindungi dari musuh. Dibuatlah dinding-dinding yang mengamankan kota.

Salah satu situs kota yang terkenal adalah kota Memphis yang didirikan oleh Raja Djoser dari dinasti ke-3 beserta penasihatnya dan arsitek Imhotep. Yang unik dari kota ini adalah keterkaitannya yang kuat dengan kompleks pemakaman di Saqqarah – kota menjadi symbol kediaman Raja yang masih hidup, dan Makam adalah simbol Raja yang sudah mati.

Kemampuan perencana yang baik juga ditemukan pada reruntuhan kota Kahun yang didirikan sekitar tahun 2000 SM di masa dinasti ke-12. Tata kotanya dibagi antara daerah pekerja di bagian barat yang padat dengan rumah berukuran kecil; dan daerah para petinggi di bagian utara yang memiliki rumah besar dengan ratusan kamar berikut koridor serta halamannya. Sementara itu di bagian timur terletak pasar-pasar dan sebagai pusatnya adalah kompleks percandian atau pemujaan. Kebanyakan rumah para pejabat menghadap ke arah angin utara yang menyejukkan, sementara lokasi para pekerja menghadap ke arah angin gurun yang sungguh panas.

Kota paling termasyhur dan monumental di jaman mesir kuno adalah Thibes-Ibukota dari kerajaan dinasti ke-11. Kota ini dihancurkan oleh bangsa Assyria di tahun 661SM, kemudia oleh Raha Cambyses dari Persia tahun 525 SM dan diluluh lantakkan oleh bangsa Roma di tahun 24 SM. Yang juga menarik adalah kota yang dibangun di Amama oleh Raja Amenophis IV yang sangat dipengaruhi oleh kekuasaan sang istri, Nefertiti. Masa pemerintahann Amenophis ditandai oleh pendobrakan tradisi lama dan hadirnya cara hidup baru, misalnya kesetaraan bagi kaum wanita, munculnya seni realis. Revolusi inipun terjadi pada tata letak kota yang bentuknya seperti pita kecil, agak melengkung di sepanjang aliran Sungai Nil. Rumah-rumah besar milik para pejabat kini bercampur dengan rumah kecil yang menunjukkan terjadinya pergeseran kesenjangan sosial antar kelas dalam masyrakat. Walaupun usia pemerintahan Amenophis sangat singkat, Ia telah menjadi oasis yang menyegarkan dalam sejarah Mesir Kuno. Sejak kematiannya, maka kota ini perlahan di tinggalkan penduduknya dan kembali menjadi onggokan pasir dan debu.

Kota bukan hanya sekedar ruang-ruang transparan, tapi memiliki jiwa seperti halnya irama dalam suatu komposisi musik. Bahkan sesuatu yang telah mati pun hendak dihidupkan kembali, misalnya melalui program revitalisasi kota lama. Tidak hanya ditopang perekonomian dan industri, Kota juga dihidupkan oleh seni sehingga betapa pentingnya seni di ruang kota bagi kenyamanan dan kebanggaan penduduknya.

Leave a Reply

Close Menu