Sejarahnya Parakitri

1997_akhir Januari_Edisi 061_kenal:
Sejarahnya Parakitri

Satu lagi buku sejarah terbit. Berbeda dari kebanyakan buku sejarah yang kita kenal, buku ini tidak hanya berisi susunan tahun dan nama peristiwa, tapi mengajak kita menyusuri proses dari sebuah kejadian. “Menjadi Indonesia”, adalah buku sejarah buah tangan Prakitri T. Simbolon, pria kelahiran Samosir 49 tahun lalu, yang memang sangat gemar menelusuri sejarah.

Buku yang ditulisnya selama satu tahun ini bercerita mengenai proses panjang terbentuknya kebangsaan Indonesia, yang difokuskan pada akar-akar kebangsaan.

Kalau kemudian buku sejarah karya Parakitri menjadi berbeda, hal itu tidak mengherankan karena sumbernya pun memang banyak yang tak lazim dipakai untuk penulisan sejarah. Ia mengusulkan agar novel macam “Buiten het Gareel” karya Soewarsih Djojopoespito, Kenang-kenangan Pangeran Achmad Djajadiningrat, dan buku “Tempo Doele” dari Jan Fabricus, yang berisi coretan-coretan kocak disertai humoristis mengenai keadaan di masa lalu, dijadikan bahan pustaka untuk bukunya. Alasannya, buku-buku seperti itu dapat “menyegarkan”, selain banyak mengandung informasi. Karenanya ia juga punya niat untuk menerbitkan “Menjadi Indonesia” dalam versi komik.

Sejarah adalah hal penting bagi Parakitri. Menurutnya untuk mencintai sesuatu kita harus mengenalnya lebih dulu. Lewat sejarah, yang disebutnya sebagai metode induk dari ilmu Pengetahuan, kita bisa mengerti sesuatu, bahkan bisa melihat masa depan. Kecintaan Parakitri akan sejarah tidak lepas dari darah Batak yang mengalir di tubuhnya, seperti yang diakuinya dalam wawancara dengan Wimar Witoelar beberapa waktu lalu di acara Perspektif.

“Kalau antropolog mengerti betul, bahwa salah satu kelebihan Orang Batak, di samping ribuan kekurangannya, ialah mereka punya tradisi sejarah,” tuturnya saat itu.

Dalam tradisi yang disebut Tambo itu, keluarga Batak misalnya diajarkan untuk mengenal silsilah nenek moyangnya, bahkan sampai 20 generasi ke belakang.

Adalah ayahnya yang membangkitkan keingintahuan Parakitri akan banyak hal. Menurut Parakitri , ayahnya adalah seorang storyteller in optima forma. Walaupun buta huruf, ayahnya menuturkan segala macam cerita, dari silsilah keluarga hingga kisa-kisah suci. Bahkan seringkali orang datang pada ayahnya hanya untuk menanyakan silsilah keluarga mereka!

Penjelajah Parakitri lewat kisah yang dituturkan ayahnya, dilanjutkan dengan mengembangkan kegemaran untuk membaca. Bagi pria, yang menulis tesis tentang pembentukan suku-suku bangsa di Batavia ini, membaca membawa suatu kejadian tersendiri. Orang bisa menjelajahi dunia lewat imaji yang dibangun dari bacaan. Seperti Karl May, salah satu pengarang favoritnya, yang belum pernah ke Amerika tapi mampu menggambarkan daratan tersebut dalam bukunya Winnetou and Old Shatterhand. Imaji daratan Amerika didapat May melalui buku tentang Amerika yang banyak dibacanya ketika ia dipenjara. Seperti itu juga Parakitri. Ketika duduk di kelas 4 SD, ia telah membuat karangan tentang Kemerdekaan India, hanya dari koran-koran bekas pembungkus kue pedagang asal India! Kegemaran membaca membuat Parakitri haus akan segala bahan bacaan. Ia pernah mencuri Injil karena sangat ingin membacanya. Sambil mengembala, duduk di punggung kerbau, ia menghabiskan hari-harinya dengan membaca Injil tersebut. Ketika duduk di bangku SMP, Budi Mulia, ia bahkan menghabiskan seluruh buku yang ada di pepustakaan. Mulai dari “Kawan Bergelut” karya Suman HS, “Atheis” karya Achdiat Kartamihardja, “Hulubalang Raja” karya Nur Sutan Iskandar, sampai “Melawat ke Barat” karya Adinegoro, walaupun untuk itu ia harus sembunyi. Di sekoahnya tersebut, setiap siswa wajib tidur pada pk. 22.00. Karena masih ingin membaca, Parakitri seringkali membaca dengan cahaya lampu yang dibuatnya dari botol minuman diberi sumbu. Namun pada pagi hari, biasanya Bruder dapat mengetahui akal-akalan Parakitri dari hidungnya yang hitam kena asap.

Parakitri juga suka menulis. Di SMA bersama beberapa teamnnya ia menerbitkan majalah yang diberi nama ‘Sendi”, yang kemudian dipakai juga untuk nama majalah yang ia terbitkan bersama Ashadi Siregar semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada. Kegemarannya menulis membawanya pada satu pengalaman yang sampai saat ini tidak pernah ia lupakan.

“Saya pernah tidak tidur seminggu waktu tulisan saya dimuat di Basis untuk pertama kali…saking gembiranya saya waktu itu,” ujarnya dengan senyum mengembang.

Banyak penghargaan pernah diterima Parakitri untuk tulisannya. Beberapa yang masih diingatnya adalah penghargaan dari UNESCO tahun 1968 untuk “Ibu”, buku pertamanya yang ditulis ketika ia masih duduk di tingkat II. Ia juga pernah penghargaan sastra untuk tulisannya “Eulogi tentang Batak”, yang dimuat di “Horizon”, Bahkan ia juga pernah menerima piala Citra sebagai penulis scenario terbaik 1981 untuk film “Gadis Penakluk”.

Kini pria penggemar segala macam bacaan ini menjabat sebagai Direktur Kepustakaan Populer Gramedia. Dua buku yang telah diterbitkan adalah komik dengan tokoh bernama Bulbul, berjudul “Peluit Sakti’, dan Komik Politik Kerakyatan Menurut Machiaveli. Selain itu ia juga masih terlibat dalam “Proyek Kompas” untuk menerbitkan “Menjadi Indonesia” jilid II dan III, yang nantinya akan mengajak kita mengenal proses “mewujudnya negara Indonesia” dan berharap-harap tentang “masa depan bangsa Indonesia”. Kita nantikan.

Sumber ilustrasi : Menjadi Indonesia, Buku satu, Parakitri T. Simbolon, Kompas

Leave a Reply

Close Menu