Sejarah (kata) Bioskop

1997_mula Februari_Edisi 062_bahas:
Sejarah (kata) Bioskop

Kata bioskop dapat berarti dua hal; 1) pertunjukan yang diperlihatkan dengan gambar disorot sehingga dapat bergerak (berbicara), 2) gedung pertunjukan film cerita (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sedang kata “bioskop” sendiri berasal dari Bahasa Belanda “Bioscoop” yang artinya gambar idoep.

Sejarah mencatat tanggal 5 Desember 1900, penduduk Hindia Belanda di Batavia mendapat kesempatan pertama menonton “gambar idoep” ini. Pertunjukan yang diadakan dalam SK Bintang Betawi terbitan 30 Nopember dan 4 Desember 1900.

Iklan tersebut berbunyi antara lain: “De Nederlandsch Bioscope Maatschappij (Matschappij Gambar Idoep) member taoe bahwa lagi sedikit hari ija nanti kasi lihat tontonan amat bagoes jaitoe gambar-gmbar idoep dari banyak hal jang belon lama telah kedjadian di Eropa dan di Afrika Selatan”

Sebenarnya yang diputar saat itu adalah film documenter bisu yang bercerita tentang perang Transval di Afrika, pameran di Paris, serta tentang Ratu Belanda dan suaminya, Herteg Hendrij. Walau begitu penonton mengannggapnya sebagai tontonan ajaib.

Dalam hal pemutaran “gambar idoep” Indonesia tidak ketinggalan dibandingkan negara lain. Indonesia sudah melakukan pemutaran perdana pada tahun 1900, empat tahun sesudah “gambar idoep” pertamakali diciptakan tahun 1896, sementara Korea baru melakukannya pada tahun 1903, dan Itali pada 1905. Hanya oleh India, kita masih ketinggalan, mereka telah melakukannya pada tahun 1896.

Bermunculannnya gedung-gedung bisokop memperkenalkan masyarakat ke film Amerika dan Belanda hingga keinginan untuk membuat film dalam negeri pun terbit. Pada tahun 1926, NV Java Film company yang didirikan oleh L. Heyveldrop dari Batavia dan G. Kruger dari Bandung membuat Film “Loetoeng Kasaroeng”, yang merupakan film pertama yang dibuat di Indonesia. Diteruskan pada tahun 1927, dengan membuat “Euis Atjih”. Sebuah perusahaan lainnya Halimun, milik Owng bersaudara yang memproduksi film “Lily Van Java”. Film ini sangat disukai penonton dan selama bertahun-tahun diputar di bioskop hingga copy film tersebut rusak.

Film Bersuara Pertama
Di bioskop sejak tahun 1900 hingga 1929, film yang diputar masih merupakan film bisu. Baru pada tahun 1929 masyarakat dapat melihat film bersuara, atau dikenal dengan sebutan film “talkie” atau “film bitjara”. Film berjudul “Fox Follies” diputar untuk pertama kalinya di Bioskop Luxor, Surabaya pada 26 Desember 1929. Tiga bulan kemudian pada 27 Maret 1930 di Jakarta memutar film bersuara yang berjudul “Rainbow Man” di Bioskop Globe, Pasar baru. Pada waktu itu “Doenia film”, salah satu terbitan yang mengupas masalah bioskop dan film, menggambarkan suasana Globe yang “padet oleh penonton jang kepingin taoe keadaannja film bitjara”. Sementara itu kota Bandung tidak mau ketinggalan jaman, bahkan kota ini mendahului Jakarta memutar film Rainbow Man yaitu pada tanggal 15 Februari 1930 di bioskop Luxor.

Rainbow Man dibawa keliling oleh Charles Hugodari Surabaya, Malang, Semarang, Yogya, Bandung dan akhirnya Jakarta. Walaupun pemutaran film bicara lebih pesat di Jakarta terlambat dibandingkan kota lain, namun perkembangan bioskop yang memutar film bicara lebih pesat di Jakarta. Sesudah Globe, menyusul Capitol, Deca park dan Kramat Theater. Saat itu bioskop untuk film biacara membanggakan dirinya dengan menambah embel-embel “talkie” di belakang namanya.

Sebenarnya dengan film bicara ini, pengusaha bioskop harus mengeluarkan uang lebih banyak; mereka harus membeli peralatan baru untuk memutarnya. Sampai beberapa tahun kemduian bahkan Holywood masih membuat dua versi film, “bitjara” dan “biasa”.

Munculnya film bicara mendorong pengusaha bioskop memperhatikan akustik gedung pertunjukan miliknya. Akibatnya, tidak sedikit bioskop gulung tikar. Bila sebelumnya jumlah bioskop di Indonesia ada 300 buah, pada tahun 1934 setelah adanya film bicara, jumlahnya berkurang menjadi 250 buah. Bahkan pada tahun 1936 turun lagi menjadi 225 buah. Dari 225 buah bioskop ini, beberapa di antaranya masih setia pada film bisus,  seperti Hollywood Theater (labuan), “Union Bioscop” (Cianjur), Midden Java Bioscop (Jawa Tengah) dan Gemeente Bioscop (Lhok Suemawe).

Walaupun pemunculan pertama film bicara terjadi tahun 1929, film bicara local pertama baru dibuat tahun 1937, berjudul Terang Boelan. Film inilah yang kemudian melejitkan nama bintang pada saat itu, yaitu Roekiah dan W.D. Mochtar.

Sejarah Bioskop di Yogyakarta
Tahun 1916, seorang Belanda bernama Hellan Muler mendirikan bioskop Al Hambra di ujung malioboro. Konon harga masuknya seketip atau 10 sen yang sama dengan harga 2 kg beras. Sementara di belakang bioskop Al Hambra terdapat bioskop Maskot dengan htm sebenggol atau 2,5 sen. Meski yang diputar masih film bisu dengan suara yang berasal dari piringan hitam para pedagang berkocek tebal sangat gemar menonton film.

Setelah RI merdeka, bioskop milik orang Belanda diambil alih oleh Indonesia. Saat itu, Perfebi (Perusahaan Peredaran Film dan Eksploitasi Bioskop Indonesia) menjadi pengelola bioskop Luxor dan bioskop Bahagia. Oleh Pak Harsono, nama Luxor diganti menjadi bioskop Permata. Sedangkan bioskop Bahagia berubah nama menjadi bioskop Indra, singkatan Indonesia Raya. Pada tahun 1950 – 1975’an, keduanya menjadi raja bioskop Djogkarta yang melayani masyarkat dari kelas menengah ke atas. Lalu disusul Yogya Theatre, yang “kata orang-orang” raja bioskop se Jawa Tengah.

Dengan proyektor bermerk Chingkang buatan RRT, diputarlah film-film bermutu Gone With The Wind dan Tiga Dara. Selain itu film-film sejarah seperti Benhur pun sangat disukai penonton. Lain dengan jaman sekarang, bioskop Permata, Yogya Theatre, Indra, lebih sering memutar film nasional yang seronok atau untuk masyarakat kelas menengah ke bawah.

Kini kondisi Bioskop seperti Permata dan Indra bisa disebut hidup engga mati tak mau. Jika ingin lebih maju, merek harus memperbaiki mutu gedung sampai setingkat biokop kelas A. untuk prouyektornya saja bioskop Permata masih memakai 1000 watt sehingga warna filmnya agak kebiru-biruan. Menurut Pak Bambang Isnawan, pemilik Bioskop Permata hal yang paling memungkinkan adalah membeli tanah dan membangun gedung bisokop. Sehingga hidup bioskop bukan lagi dari penonton tetapi juga investasi tanah. Sekarang, gedung bioskop Permata masih menyewa sama Pemda sebesar Rp. 1.650.000,-/bulan. Pendapatan perbulannya sebesar Rp. 7 juta, tapi itupun belum cukup untuk sewa film dari pengedar di Semarang, bayar biaya perawatan dan gaji pegawai.

Bioskop Keliling di Djogja
Hari ini, tinggal 2 perusahaan yang mengelola bioskop keliling di Yogyakarta, NV. Perfebi dan CV. Slamet Anwar. Sebelumnya ada 6 sampai 7 perusahaan, tetapi akhirnya bangkrut semua.

Bioskop keliling dengan tujuan komersial dilihat kurang menguntungkan. Maksudnya komersial, membuka layar dan menjual karcis. Selain minat dan keengganan membeli dari masyarakat sangat rendah juga pemilik bioskop keliling akan terbelit kesulitan perijinan. Lalu bagaimana jalan keluarnya?

Akhirnya para pemilik bioskop mencari perusahaan rokok, obat, teh, dll yang sering melakukan promosi ke pelosok dengan hiburan layar tancep sebagai penarik masyarakat. Jadi sambil memutar film, mereka menjual produk. Berapa sih harga per-film unutk layar tancap ? Kalau di NV Perfebi jatuhnya Rp. 150.000,-. Bisa juga hanya sewa alat dan flm dari pihak penanggap, yang harganya Rp. 75.000,- – Rp. 100.0000,-. Bisa pilih 36 judul yang tersedia unutk film 35 mm.

Sumber :

  • M Ardan, “Dari Gambar Idoep ke Sinepleks”, GPSI – 1992
  • “Jakarta Tempo Doeloe”, diterjemahkan Tim Metro Pos 1988 dari “jaarbook van Batavia”, J.J. de Vries, Batavia, 1997.
  • Nuryani, pemilik Rivoli, Jakarta
  • Haryanto Kunto, “Serba Serbi Nonton Bioskop di Bandung Tempo Doeloe”, 1984
  • Bambang Ismawan, pemilik Bioskop Permata Yogyakarta dan Bioskop Keliling NV. Perfebi Yogyakarta
  • Harsono, pegawai Permata Yogyakarta
  • Pratomo dari kanwil Deppen Prop. DIY
  • Pak Agung Lindo dari GPS : data statistic “banyak bioskop, tempat duduk, pemutaran film, penonton dan uang masuk” menurut Daerah Tingkat II tahun 1994)
  • Moelyono, Manajer Legian 21 & Wisata 21
  • Wayan Juniarta, wartawan)

Leave a Reply

Close Menu