Sebuah perjuangan identitas di negeri seberang

2000_Agustus_Edisi 115_seni :
Sebuah perjuangan identitas di negeri seberang
Ade Tanesia

Kelompok Musik GengGong boleh berbesar hati. Pasalnya mereka di Festival Gamelan Yogyakarta 2000 pada Juli lalu memperoleh aplus besar dari penonton. Publik Yogyakarta adalah publik yang kritis, mereka tidak memberikan aprsiasinya kepada sebuah pertunjukan, sehingga riuh tepuk tangan punya arti besar.

Komunitas terbentuk dari adanya kebersamaan yang memungkinkan terjadinya komunikasi. Hal ini pula yang mengawali terbentuknya music GengGong, yaitu kerika musisi asal Indonesia Sawung Jabo serta Reza Achmad bersama musisi Australia -Ron Reeves serta Kim Sanders- yang tertarik pada negeri ini bertemu di Sydney. “Kita masing-masing sudah kenal lama. Tapi memang baru saat ini dialog lewat musik…dan media langsung klop. Akhirnya kita menganggap bahwa perkenalan kita di masa lalu merupakan akumulasi yang memunculkan musik GengGong,” ujar Sawung Jabo.

Peristiwa yang mempertemukan mereka dalam musik terjadi satu tahun silam, tepatnya bulan Februari 1999, saat dua orang Australia yang pernah belajar di Indonesia mengadakan perjalanan keliling untuk mengumpulkan dana bagi rakyat Indonesia yang sedang terkena krisis. GengGong tampil untuk melepas keberangkatan mereka. Sawung Jabo memainkan instrument gitar sekaligus vokalis, Ron Reevers yang sangat rancak memainkan kendang Sunda memegang kendali instrument kedang, Reza Achman bermain drum dan Kim Sanders pada alat tiup seperti flute, saksofon dan big-pipe. Sambutan meriah dari penonton telah memacu semangat mereka untuk melakukan eksplorasi. Walhasil di tengah kesibukannya, para personil GengGong menyisakan waktu-waktu sempitnya untuk latihan dan latihan. Di tengah sibuknya rutinitas masing-masing personil di Australia, mereka berusaha keras menyisihkan waktu untuk latihan, “wah, kadang-kadang Ron Reevers bisa, eeh Reza harus bekerja. Sulit sekali atur waktu dimana kita bisa kumpul bersama, “ungkap Sawung Jabo. Komposisi semi komposisi mulai terbentuk, sehingga lahirlah Garuk-garuk sampai ngantuk, Kontal-kantil kentul, Sweet kambing guling, Tut-tat-tit-tut, orak Arik, Hip hop Melayu, dan lain-lain. Kemudian GengGong mulai diundang ke berbagai festival di Australia dan memperoleh respon hangat penonton. “Waktu lagi krisis TimorTimur, kami main di sebuah festival dan diperkenalkan sebagai musik dari Indonesia. Wah, kita sudah dag-dig-dug saja, kan banyak orang Australia yang tidak suka Indonesia untuk soal Timor Timur, Ternyata dugaan ini meleset, mereka suka sekali dan joget, “ungkap Sawung Jabo.

Word Musik
Tidak seperti biasanya musik-musik garapan Sawung Jabo yang sarat muatan sosial-politik, komposisi GengGong yang dikerjakan bersama ini lebih eksplorasi rasa ke dalam diri masing-masing personil. Musik GengGong merupakan proses identity struggling orang-orang Indonesia yang berada di Australia, sebuah cara untuk menunjukkan bahwa inilah kata…Indonesia,” lanjut Sawung Jabo. Memang kebanyakan komposisinya digali dari musik-musik nusantara seperti Madura, Melayu, Jawa, dan lain-lain. Bahkan nyanyiannya menggunakan bahasa daerah yang menurut Sawung Jabo lebih unik. Bagi Ron Reevees yang bertahun-tahun belajar kendang Sunda di Jawa Barat- kerinduan untuk memainkan musik-musik bernuansa Indonesia bisa terobati lewat GengGong. Juga Reza Achman, yang beberapa tahun terakhir menetap di Australia memperoleh komunitas amat pas untuk melakukan proses kesenian. Kim Sanders –pemusik yang juga memiliki kelompok music Jazz di Australia- juga pernah bersentuhan dengan gamelan. Selain itu, Kim Sanders juga sangat tertarik dengan musik Turki, sehingga ia sempat belajar alat musik tiup tradisi Turki. Masing-masing membawa sejarahnya tentang Indonesia serta prosesnya dalam bentuk eksplorasi musik yang akhirnya memunculkan senyawa ornament musik tradisi nusantara. Timur Tengah, dan Barat. Bentuk senyawa musik semacam ini seringkali disebut new age music dan world music. Genre musik yang muncul di negara Barat pada akhir tahun 1960-an, yaitu jetuka konsekuensi Industrialisasi telah mengeringkan kebutuhan spiritual manusia. Kebutuhan ini telah melahirkan gerakan perdamaian, kembali ke alam, dan juga karakter musik yang sangat dipengaruhi olek musik-musik tradisi dari Timur seperti Deep Forest, Dead Can Dance, Spirit of the Aztec, Kitaro. Karakter musik GengGong juga berangkat dari tradisi yang ada di Indonesia. “Kalau memang lahir dan dibesarkan oleh tradisi Jawa. Dengar gamelan, nonton wayang, sudah menjadi bagian hidup saya,” ungkap sawung Jabo. Menurut Ron Reevees, musik GengGong bisa dikategorikan dalam world music, karena multikultur.

Masuk dapur Rekaman!
Setelah satu tahun berkeliling dalam berbagai festival musik, ternyata banyak penonton yang ingin memiliki rekaman GengGong. Respon inilah yang menjadi alasan kuat bagi GengGong untuk masuk dapur rekaman. Rencana rekaman bertepatan dengan adaya undangan untuk pentas di Festival Gamelan Yogyakarta 2000. Akhirnya GengGong memutuskan cari uang untuk membiayai keberangkatan mereka, “Dari komitemen bersama inilah kita bisa sampai di sini, rekaman, ikut festival, bahkan nanti di Jakarta tanggal 29 Juli kita main di Bengkel Teater, 5 Agustus di ruamhnya Iwan Fals, 21 agustus di Galeri Nasional dan ada undangan pentas di Bali,” ujar Sawung Jabo. Kelompok GengGong nampaknya lebih senang mengkuti proses alam, tanpa paksaan dan tetap enjoy dalam berkesenian. Bahkan nantinya GengGong tidak hanya melibatkan music, tapi juga teater tari, seni rupa dan sastra, sesuai dengan mottonya…GengGong not just music.

Leave a Reply

Close Menu