Satelit Kominikasi & Militer

1998_Juni_Edisi 091_bahas:
Satelit Kominikasi & Militer
Santi

Ide pemakaian satelit untuk saluran informasi dapat dilihat pada artikel yang diterbitkan oleh ahli fisika Inggris Arthur C. Clarke pada tahun 1945. Clarkee melihat bahwa penempatan satelit dalam satu orbit khusus, disebut geostationary orbit (GSO), yang terletak 22.30 mil diatas ekuator, dapat mengirim pesan sepertiga permukaan bumi. Sehingga tiga satelit akan mampu dapat meliput seluruh bumi.

Sudah diketahui umum bahwa mayoritas satelit dalam orbit digunakan untuk tujuan militer dan bukan untuk tujuan masyarakat sipil. Program “peran bintang”, contohnya, adalah program militer yang telah menarik banyak perhatian publik dan program ini direncakanan untuk mengadakan perlombaan senjata di angkasa luar yang tahap pertamanya didahului dengan pembangunan satelit pembawa persenjataan yang memiliki kecepatan sangat tinggi.

Pada tahun 1970-an, NASA membuat satelit percobaan untuk negara lain. Indonesia adalah negara berkembang pertama (dan negara keempat setelah Kanada, Soviet dan Amerika Serikat) yang mendirikan satelit komunikasi domestik sendiri yang merupakan produk dari NASA. Satelit pertama, Palapa I, diluncurkan pada tahun 1976. Amerika berhasil meyakinkan negara-negara lain tentang keuntungan besar yang bisa didapatkan dengan penguasaan terhadap teknologi baru. Dan usaha ini ternyata tidak sia-sia, negara-negara berkembang seperti India, Indonesia, Brazil, dan Mexico berhasil diyakinkan oleh Amerika. Dan negara-negara inilah yang merupakan negara berkembang pertama yang mempunyai satelit domestik sendiri.

Pada tahun 1964, Organisasi Satelit Telekomunikasi Internasional (INTELSAT) didirikan untuk mengkoordinir pemakai komunikasi satelit diantara anggota dan negara-negara pemakai. Pada tahun 1971, organisasi Intersputnik didirikan untuk memenuhi tujuan yang sama, meskipun kebanyakan Uni Soviet dan sekutunya. Inmarsat mengorganisir komunikasi satelit internasional untuk kapal dagang, dan CospasSarsar melakukan hal yang sama untuk pemberian tanda bahaya pada saat laut bergelombang besar.

Beberapa negara berkembang mulai memperhatikan bahwa pemakaian orbit untuk komunikasi satelit dipenuhi oleh segelintir negara ketika negara-negara dunia ketiga berada dalam posisi meluncurkan satelit. Pada tahun 1979, konferensi internasional terbesar pernah dilaksanakan dengan bantuan Persatuan Telekomunikasi Internasional di Geneva, Swiss. Konferensi tersebut dihadiri 145 negara, mayoritas dari negara berkembang, meskipun negara-negara industri barat mengirimkan kontingen yang lebih besar. Negara-negara berkembang menuntut peraturan tentang “first come, first served” diubah agar supaya tersedia akses yang adil terhadap orbit bagi semua negara.

Tuntutan tersebut akhirnya disetujui pada tahun 1980-an setelah terjadi negosiasi yang cukup panjang. Produser “first come, first served” diubah dengan sebuah pola dimana satu tempat akan disediakan untuk setiap negara didunia. Dan dalam perkembangannya, semakin ramai pemanfaatan orbit satelit di luar geostationary satelit orbit (GSO) seperti orbit rendah bumi (LEO), orbit mengenah bumi (MEO) dan elliptical orbit, yang dipergunakan untuk berbagai jenis penyelenggaraan jasa telekomunikasi. Mulai dari jasa fixed di darat sampai jasa mobile di laut, darat maupun udara. Gobalstar, Iridium dan Odissey merupakan beberapa perusahaan (konsorsium) telekomunikasi yang telah, sedang dan akan memanfaatkan orbit non-GSO tersebut. Kapabilitas teknologis, memungkinkan seseorang melakukan tindakan by-pass, sehingga saat ini banyak negara sedang mengkaji kemungkinan penerapan kebijakan langit terbuka (open sky policy). Konsekuensinya, segala tindakan proteksi informasi akan “dihilangkan”. Hal ini, tentu saja banyak berdampak pada kehidupan sosial, budaya, politis dan keamanan suatu negara.

Beberapa negara industri dan negara berkembang menggunakan data yang disediakan oleh satelit pengendali jarak jauh untuk memperoleh gambaran tentang bumi, kandungan minyak dan mineral, pemetaan, dan bencana alam.

Satelit pengendali jarak jauh semula dibuat untuk pengawalan militer, untuk mengamati gerakan pasukan dan memotret instalasi militer. Kemudian pada tahun 1972, Amerika Serikat meluncurkan LandSat, sebuah satelit pengendalian jarak jauh pertama untuk sipil.

Di Perancis, sebuah perusahaan bernama Spot Image mengambil peran dalam penyusunan data dengan memakai satelit pengendalian jarak jauh menjadi sebuah komoditi yang menguntungkan. Kemudian hal ini diikuti oleh Uni Soviet. Hal ini membuat negara-negara berkembang berusaha untuk memiliki satelit pengendali jarak jauh sendiri, dengan anggapan bahwa jika mereka tidak memiliki satelit pengendali sendiri meraka akan berada dalam kekuasaan perusahaan asing untuk informasi tentang mereka sendiri.

Tetapi, penjualan satelit pengendali jarak jauh ini ditentang oleh pemerintah Amerika Serikat, yang mengklaim bahwa keamanan nasional akan terancam jika media dapat menyediakan gambar tentang instalasi militer di negara lain. [santi]

Sumber: “New Communication Technologies: A Plug ‘n’ Play world” dalam Questioning of The Media, John Downing dkk (1990)

Leave a Reply

Close Menu