sastra eksil indonesia: akankah pulang?

sastra eksil indonesia: akankah pulang?

2001_April_Edisi 123_Seni:
sastra eksil indonesia: akankah pulang?
Joni Faizal
eksil1
Saat memeriksa buku Literary Wxile in the Twentieth Century: An Anlysis and Biograpical Dictionary (Martin Tucker ed. London 1991) dalam rangka penelitian “Media dan Sastra Eksil Indonesia”, kami berharap menemukan entri Indonesia dalam apendik “Negara Asal”. Ternyata tidak ada. Indonesia malah masuk pada apendiks berikutnya: “Negara Tujuan”! Seorang penyair, Cai Qi-jian, dicatat pernah eksil di Indonesia pada tahun 1938. Mengapa para ssatrawan eksil Indonesia tak pernah masuk dalam catatan sejarah?

Munculnya sastrawan di Indonesia tidak lepas dari peristiwa 65 yang terjadi di Indonesia, ketika banyak penulis yang sedang berada di luar negeri tidak bisa pulang. Padahal cukup banyak karya-karya penulis eksil yang dimuat dalam terbitan majalah kaum eksil Indonesia. Sebut saja Kusni Sulang, Mawie Ananta Jonie, Kuslan Budiman, Noor Djaman, Sobeoa Aidit, Asahan Alham, Supriadi Tomodiarjo dan Alan Hogeland, mereka cukup aktif dan kadang menerbitkan sendiri karyanya dalam jumlah terbatas dengan nama-nama pena baru.

Menurut Agam Wispi, wartawan-penyair yang eksil di Cina, Jerman dan sekarang tinggal di Belanda, salah satu penyebab sastrawan eksil Indonesia tidak mencuat adalah mereka tetap menulis dalam bahasa Indonesia yang sama sekali tidak populer di negara tempat mereka tinggal, sehingga tidak ada apresiasi. Disamping itu, sasaran ‘pembaca utama’ sastrawan eksil Indonesia, adalah tanah airnya yang tidak bisa dijangkau. Apalagi di tanah asalnya, minimal oleh pemerintah, mereka adalah partai politik yang tidak diinginkan.

Penjelasan Agam di atas masih menyisakan satu pertanyaan penting: Lalu mengapa para penulis eksil Indoneisa tidak mengintegrasikan diri dengan bahasa, budaya dan pergaulan sastra di tempat mereka tinggal? Waktu lebih dari 20 tahun ternyata tidak juga membuat mereka menulis dalam bahasa Inggris, Perancis atau Belanda, bahasa di tempat mereka tinggal. Mereka masih terus mengolah ‘bagasi lama’ sebagai bahan buku karya-karyanya, atau malah terus mengikuti perkembangan mutakhir sastra Indonesia. Semua ini menyebabkan mereka semakin ekslusif dan terasing dari lingkungan nyata di mana mereka hidup. Karya-karya mereka beredar sangat terbatas di kalangan sendiri. Apakah ada sebab lain dibalik “dissimilasi budaya’ ini?

Memeriksa latar historinya, ternyata eksil Indonesia secara umum mempunyai kekhasan khusus, dibandingkan dengan berbagai fenomena eksil dunia lainnya. Eksil dunia pada umumnya adalah mereka yang melarikan diri ke luar negeri akibat berbagai tingkat tekanan politik. Mereka mempersiapkan diri untuk tidak akan pernah bisa pulang. Karenanya mereka akan berintegrasi penuh dengan budaya dan masyarakat baru di mana mereka akan tinggal. Sedangkan eksil Indonesia adalah mereka yang tidak bisa pulang. Karena itu mereka selalu mempersiapkan diri untuk pulang.
Ketika peristiwa 65 terjadi di Indonesia, para penulis yang sedang berda di luar negeri ini merasa gejolak ini sebagai hal yang wajar. Pada masa itu memang marak berbagai usaha kudeta dan pemberontakan, mulai dari PRRI sampai DI/TII. Kerena itulah mereka ‘tidak mempersiapkan diri’ untuk tidak pulang. Mereka masih percaya akan kharisma Soekarno dan kekuatan partai-partai pendukungnya (PNI dan PKI). Soeharto mereka ramalkan 10 tahun, lalu 15 tahun, sampai 20 tahun. Pada tahun 1990 baru muncul kesadaran bahwa meteka telah menjadi eksil selama 25 tahun. Karena mereka semakin tua, pemerintah setempat menuntut kejelasan kewarganegaraan sebagai syarat mendapatkan uang pensiun.
Sebuah harapan untuk pulang menyebabakan tema dominan yang diangkat melulu berhubungan dengan Indonesia, ke mana mereka akan ‘segera’ pulang. Bahan baku karya mereka biasanya berkisar tentang memori selama di tanah air, atau apa yang sedang terjadi di Indonesia. Jarak geografis ini seakan bisa digantikan oleh berita-berita yang mereka ikuti lewat media massa. Sehingga puisi-puisi Agam Wispi lebih lantang bicara soal Timor Timur, Kedunggombo, Marsinah sampai Widji Thukul, daripada masyarakat multiras di Amsterdam. Novel Utuy Tatang Sontani lebih terinspirasi oleh pertentangan TNI dan PKI sejak awal 1965, daripada kesendirian dan perjuangan hidupnya di Moskow. Mereka juga rajin mengikuti perkembangan sastra, seperti perdebatan sastra kontektual tahun 70-an. Dengan tujuan harapan kalau mereka pulang nanti, mereka bisa langsung ‘nyambung’ dengan situasi sastra Indonesia mutakhir.

Sejarah membabat semua harapan itu. Saat kesadaran eksil muncul, usia lanjut menjadi penghalang. Belajar bahasa untuk menulis karya sastra bagi orang berumur diatas 50 tahun sama sekali bukan hal mudah. Ditambah lagi kemungkinan untuk pulang setelah perubahan tahun 1998 di Indonesia, semakin menggamangkan situasi para sastrawan eksil ini. Kata pulang yang sebelumnya menjadi impian, justru menjadi beban kala kemungkinan itu terbuka. Keseharian lalu menjadi masalah besar. Seperti penyesuaian iklim, perbedaan standar hidup Indonesia dan eropa (di mana 90% di antara mereka tinggal) dan terutama masalah akan dihentikannya uang pensiun kalau mereka ke Indonesia. Padahal hanya inilah sumber penghidupan mereka selama ini. Kalaupun mereka punya pekerjaan lain (yang biasanya tidak ada hubungannya dengan sastra), mencari pekerjaan baru di Indonesia juga masalah rumit, apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga.
Sampai di sini muncul pertanyaan “apa yang bisa kita harapkan dari sastra eksil Indonesia?” Pertama, bahwa perubahan politik Indonesia mengakibatkan lahirnya satu kelompok atau genre sastra tertentu, itu harus diakui dan diterima sebagai bagian sejarah sastra Indonesia modern. Lalu apresiasi dan kritik bisa dimulai. Kedua kita bisa belajar bagaimana sebuah ingatan kolektif atau individual di suatu masa tempat tertentu, walau sudah terpisah oleh waktu dan jarak yang panjang, diolah menjadi sebuah ekspresi sastra. Bukankah jarak kadang melahirkan kearifan tertentu yang bisa diambil manfaatnya bagi generasi mendatang.

Dari ratusan judul karya yang berhasil kita peroleh dalam penelitian akhir tahun lalu, sejauh ini hanya ada dua karya eksil Indonesia yang mulai diterbitkan di tanah air. Pertama kumpulan puisi Asahan Alham (1998), disusul kumpulan cerpen Sobeon Aidit (2000). Penerbitan ini adalah awal baik untuk menjadikan karya sastra eksil Indonesia diterima di negeri sendiri. Semoga.

Mencari Jejak Satra Eksil Indonesia
Tak terbayangkan bagi Alex, bahwa bahasanya tentang Sastra eksil dalam Media Kerja Budaya mendapat respon dari sastrawan eksil. “Sejak tahun 1997, saya telah memberikan perhatian khusus pada sastra eksil”, ungkapnya. Menurutnya para penulisnya seolah dianggap tidak ada dalam catatan sastra Indonesia modern. Jejak mereka sama sekali tidak diakui, bahkan karya-karya mereka dianggap bacaan haram. Atas alasan inilah Alex Supartono dan Lisabona Rahman membuat sebuah penelitian tentang sastra eksil Indonesia.

Kebetulan Alex mendapat beasiswa bahasa dari Goethe Institut ke Jerman, dan pada kesempatan inilah ia kemudian melakukan rangkaian untuk meneruskan jejak pencariannya meneliti karya-karya eksil seperti di Prancis, Rusia, Koln, Berlin, Hungaria dan Belanda. Mereka tidak saja mencari informasi lewat media yang diterbitkan oleh sastrawan eksil di berbagai negara itu, tetapi juga bertemu dengan para satrawannya. Penelitian yang menurut Lisabanon mendapat bantuan dari Food Fondation dan sebagian uang pribadi ini, ini masih dalam proses penyelesaian. “ Sekarang sedang dalam proses. Tidak tahu, akan dijadikan buku atau tidak terserah nanti.” Kata Alex yang masih tercatat sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Dalam penelitian Alex dan Lisabanon mencatat hampir 300 karya sastra eksil berupa karya yang terbit, belum terbit, maupun karya-karya dalam terbitan-terbitan eksil. Ragam dari karya-karya itu ada yang berupa kumpulan puisi, cerpen, artikel-artikel satra, biografi, essai, otobiografi, naskah drama hingga skenario film. Yang menarik bahwa karya-karya pribadi maupun terbitan-terbitan berkala tersebut berbahasa Indonesia, dan sebagian besar bercerita tentang Indonesia yang jauh dari jangkauan mereka, bukan dilatarbelakangi tempat di mana mereka tinggal.
Ada banyak hal yang ditemukan Alex dan Lisa dalam penelitiannya. Misalnya bagaimana kelompok eksil Indonesia terbagi atas kubu-kubu yang saling bertentangan, juga kiat pemerintah setempat yang sengaja memisahkan para eksil karena pengaruh kebijakan politik negerinya, hingga karakter pembaca eksil di lingkungannya sendiri. Dengan sabar kita akan nantikan rampungnya penelitian dua anak muda ini.

Leave a Reply

Close Menu