Salvar Kameez & Jeans !

1998_November_Edisi 096_selip:
Salvar Kameez & Jeans !

“Anda adalah apa yang anda kenakan”, Urvash Butalia, seorang warga India ternyata memilih pakaian tradisional India daripada jeans. Simaklah pengalamannya menimbang antara jeans dan salvar kameez, pakaian tradisional India Utara berupa celana longgar dan kemeja panjang.

Dimasa mudanya, Urvash selalu mengenakan Salvar Kamezz – saat menginjak perguruan tinggi, ia baru mengetahui jeans yang dianggap sebagai pakaian orang barat. Dan waktu itu, lingkungan biasanya sering mencemooh kaum pria yang begitu mudah mengenakan produk barat. Hal ini mungkin disebabkan kebanggaan sebagai bangsa India, atau mungkin karena tak ada televisi, dan India memang tidak punya akses untuk barang-barang impor.

Urvash baru mengenal jeans lebih dalam saat berusia 24 tahun, yaitu saat ia harus bepergian ke Inggris, “pertama kali saya tetap memakai Salvar Kamezz atau celana panjang, sementara teman-teman saya mengenakan jeans. Dan saya pun ingin tampil seperti mereka, maka saya beli satu helai jeans yang mampu merubah penampilan saya. Ada satu hal yang saya pelajari, bahwa dengan memakai jeans berarti bergabung dengan klub anggotanya menyerukan egaitarianisme – kendati mereka sama sekali tidak menerapkan sikap egaliter. Jika mereka hidup di masa Gandhi yang menggalakkan pakaian khadi dari tenun untuk melawan Inggris, mungkin mereka akan menolak mentah-mentah cara berpakaian barat.

Di luar sisi nasionalis, Urvash berhenti memakai jeans karena tidak berhasil meratakan perut. “saya tidak kuat lagi menahan ketidak nyamanan jeans dan kebanyakan orang di India hanya bisa bertahan 4 bulan”, jelasnya. Beberapa teman Urvash akhirnya menanggalkan celana ini karena perutnya mulai menggelambir. Dan ada pendapat yang mengatakan bahwa jeans memang dibuat bukan untuk orang yang berpaha Bharay Natyam [tarian klasik India yang kerap ditarikan wanita dengan pada lebar dan besar]. Seorang dokter gineakologi juga bercerita pada Urvash bahwa banyak pasiennya yang lecet di bagian selangkangan karena memakai jens ketat. Dan yang lucu, mereka harus berbaring beberapa waktu sebelum dapat memakai lagi jeansnya.

Urvash juga punya kisah lucu tentang pegawainya, seorang pemuda asal India Utara. Setiap kali Urvash ke luar negeri, kurirnya selalu menitip jeans. Urvash sudah berkali-kali mengatakan dia bisa membeli jeans di toko di India. Tapi si kurir bersikeras memperoleh jeans luar negeri, karena menurutnya di negeri Barat jeans sudah menjadi pakaian kerja, sementara jenas di India adalah simbol naiknya staus sosial sehingga harus di beli di toko mewah. Si pegawai merasa enggan menginjakkan kakinya ke butik karena akan diolok-olok.

Menghadapi kenyataan ini, Urvash menyadari bahwa jeans adalah simbol negara barat yang mengkategorikan seseorang dalam kelas tertentu. Dan ketika jeans diiklankan, maka benda ini mampu memberikan semacam kekuatan tambahan saat dipakai.

Akhirnya Urvash semakin kuat untuk menolak ekspansi jeans yang adalah ekspansi budaya barat. Bagi Urvash, pertama seseorang seharusnya mencari pakaian yang memang sesuai dengan tubuhnya. Dan ia memilih pakaian India sebagai busana yang paling pas, karena longgar dan tetap bisa terlihat elegan. Kedua, menurutnya jeans sebagai gaya yang diiklankan telah melumpuhkan daya kritis orang demi mengikuti trend dan menaikkan status sosial. Dulu para pekerja India pernah mengadakan protes terhadap pemerintah Inggris yang mengeksploitasi penanam indigo.Tapi  kini indigo telah masuk kembali ke India dalam bentuk berbeda yaitu blue jeans. Dan Urvash memilih salvar kamezz, sari, dhoti, dan berbagai pakaian tradisional India.

Sumber

  • Disadur dari artikel “Jimi Hendrix Manfriday and Salvar Kamezz oleh Urvash Butalia dalam “New Inernational Issue 302, June 1998.
  • The Encylopeedia of Fashion, Georgia O’Hara, London: Thames and Hudson Ltd, 1989

Leave a Reply

Close Menu