Sahibul Hikayat, seni lisan Betawi

1996_akhir Desember _Edisi 059_seni:
Sahibul Hikayat, seni lisan Betawi

Mulanya adalah orang Melayu yang membawa seni tutur ini ke Betawi. Ceritanya diambil dari legenda Persia dan Mesir, dituturkan semalam suntuk oleh seorang tukang cerita. Unsur humor dan dakwah Islam menjadi ciri utama. Sebelum memulai kisahnya tukang cerita dan penonton akan membacakan salawat Nabi Muhammad dan doa untuk keselamatan umat Islam. Kemudian dengan Bahasa Melayu Klasik seperti kata “sahibul hikayat”. “syahdan”, cerita pun dimulai. Seni tutur ini sering dipertunjukkan pada acara pernikahan, sunatan, pindah rumah atau malam sebelum berangkat ke Tanah Suci. Ditemani segelas air dan penganan kecil, petutur mengatur intonasi suara, mimik dan gerak tubuh agar cerita lebih hidup. Sampai sekarang Sahibul hikayat masih dikenal orang Betawi. Terutama bagi orang bermukim di sekitar Salemba, Kebon Sirih, Tanah Abang dan Kemayoran.

Kentrung, Seni lisan Blora
Pada mulanya bernama empra lesung yang dipukul-pukul dan sang pemukul membawakan cerita tertentu seperti kisah Narmoyo dan Marmadi yang sedang mencari wong agung menak dinegeri ngayaban. Kin kentrung dimainkan 3-5 terbang oleh seseorang yan menguasai cerita-cerita yang bernafaskan Islam seperti Walisongo, Tudung Adam, Perang Lakat dan juga cerita Jawa Jaman Majapahit. Di tengah cerita diselipkan pantun-pantun dan wangsalam. Sifat dari pantun atau wangsalam biasanya jenaka dan agak porno, karena fungsinya untuk menyegarkan suasana dan mendekatkan sang pemain dengan penontonnya. Kentrung di daerah Blora biasanya hanya dimainkan oleh dalangnya.. Sedangkan di Tulung Agung, Batangsaren, Blitar dalang kentrung disertai oleh panjak, jadi sementara dalang dari pembukaan – cerita – tolak sanggul yaitu doa selamat untuk pendongeng (dalang), pihak penanggap dan para tamu. Tradisi lisan ini berkembang didaerah Jawa Timur, namun menurut Pak Sutrisna, seniman kentrung dari Blora, pertunjukan kentrung sudah semakin tergeser, masyarakat lebih menyukai jogged dan video.
(sumber wawancara dengan Pak Soetrisna, seniman kentrung dari Blora, tahun 1993 di TIM)

Leave a Reply

Close Menu