Ragam Etnik

1998_Juni_Edisi 091_peduli:
Ragam Etnik

Dalam bermasyarakat selalu saja terbentuk suatu stereotip etnik. Dalam bukunya “The Roots of Racism”, Mark Rose mengungkapkan bahwa stereotip antar etnik sudah berlaku sejak awal keberadaan kelompok manusia dan juga telah menjadi sumber peperangan antara manusia. Seperti halnya binatang, maka manusia biasanya berkelompok untuk mempertahankan hidupnya, seperti berburu, mengumpulkan makanan, dll. Dalam memperebutkan sumber daya alam inilah ada ketakutan atau rasa terancam dengan kelompok lainnya. Untuk itulah mereka membutuhkan batasan dalam budayanya untuk menentukan siapa yang termasuk dan tidak termasuk kelompoknya. Disinilah muncul kategori “kami dan mereka” berdasarkan perbedaan kepercayaan, ciri-ciri fisik, garis keturunan, dll. Untuk semakin memperkuat identitas kelompoknya, maka muncul berbagai stereotip tentang kelompok lain yang diyakini dan diturunkan di setiap generasi. Hal ini menjadi masalah ketika stereotip yang dibangun adalah stereotip jelek tentang suatu kelompok.

Yang lebih berbahaya adalah ketika keadaan etnik ini dijadikan sarana permainan kepentingan politik atau kekuasaan. Bahwa adanya ragam etnik bisa dielakkan siapapun, karena itu adalah proses akulturasi yang terus terjadi dalam kehidupan manusia di berbagai jaman. Dan perbedaan bukanlah barang lengka dalam peradaban manusia, namun itu menjadi berbahaya ketika perbedaan “ kami dan mereka” disertai kami lebih dari mereka”, lebih berhak untuk melakukan apapun.

Pada kenyataannya “ saya dan anda” berbeda, tapi “saya dan anda” adalah sesama manusia. Hanya dengan cara inilah ragam etnik menjadi sebuah keindahan bumi, bukan sumber penderitaan manusia.

Muhatmanto, gunungkidul: keperbagian adalah realitas dimana saya ada, realitas yang saya temui dan sadari kemudian, kesadaran itu mendapatkan saya merasa sebagai orang yang terlempar dan yang tak bisa menolak apalagi lari darinya, saya menyadari bahwa ternyata kepelbagaian adalah bagian dari hidup saya di nusantara dan ini, “taken for granted” tidak hanya bahwa kepelbagaian itu berlangsung di luar diri saya yang mengamati ini, namun saya pun tidak bisa dianggap sebagai genuine, aku pun tersusun dari jalinan kepelbagaian asal-usul etnik.

Karena itu, saya tidak percaya dengan konsep identitas, karena itu pula saya menganggap pencarian jatidiri (arsitektur indonesia, misalnya) adalah upaya yang aneh. Keinginan untuk mendapat yang hakiki, genuine, adalah persis yang dilakukan hitler, termasuk akibat dahsyat karena sikapnya itu.

Aktor Dan Aykriyd: Kita harus punya satu pandangan bahwa konsep tentang ras adalah sebuah kesalahan. Karena hanya ada satu ras, yaitu ras manusia.

Penyanyi, Celine Dion: sebagai seorang penyanyi, saya memiliki banyak kesempatan pergi ke berbagai negara. Dan satu hal yang saya pelajari melalui musik : saya bisa menerima segala manusia dari berbagai macam bangsa. Saya seringkali heran, mengapa banyak orang dinegara saya tidak bisa menerima perbedaan orang lain? Sangat tidak bijaksana bila kita mencurigai orang dari ras, etnik, agama lain. Bukankah kita semua sama?

Musisi, Oscar Peterson : Musik merupakan profesi pertama yang harus menghancurkan rasialisme, karena untuk bisa membuat musik maka, kita harus mencintai satu sama lain dulu. Dan jika anda mempunyai sikap rasis maka kamu tidak akan bisa menciptakan musik.

Bakdi Soemanto, sastrawan: You took me from the heart of Afrika and you said me: “YOU ARE NEGRO !” “inilah sajak yang menggambarkan pahitnya penindasan yang dialami kulit hitam di bawah kekuasaan ras kulit putih Amerika”, ujar pak Bakdi. Namun lain dengan yang terjadi di Amerika, kerusuhan anti cina yang baru terjadi di Indonesia bukanlah sekedar rasialisme, tapi gerakkan oleh sekelompok orang yang terorganisir dan bukan gerakan masyarkat. Sejarah Indonesia memang menorehkan luka yang panjang baik terhadap penduduk pribumi maupun terhadap penduduk keturunan Cina. Ketika Belanda menjajah rakyat pribumi maka pra raja dan bupati dipakai sebagai kaki tangan mereka. Selain menggunakan tentara kompeni, para raja pun meminta bantuan orang Cina untuk mendatangi rakyat agar menyerahkan upeti. Sehingga yang langsung berhadapan dengan rakyat kecil adalah orang Cina. Hal ini menjadi salah satu sebab yang membuat kebencian penduduk terhadap golongan Cina mulai mengkristal. Menurutnya, Indonesia itu sudah dari dulu punya ragam etnik, jadi persoalan yang sebenarnya adalah kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin. Dan ia pun sangat yakin bahwa anti-cina memang sengaja dihembuskan untuk menutupi keobrokan sistem kekuasaan. Sehingga dia berharap bahwa reformasi yang semakin marak belakangan ini akan membawa iklim yang lebih demokratis, sehingga kita tidak lagi dihantui oleh sara yang justru memicu sara. Kita perlukan sebuah iklim demokrasi sejati seperti ucapan seorang tokoh Peracis yang dikutipnya “Demokrasi yang sejati akan kelihatan ketika orang-orang minoritas merasa sejajar dengan yang mayoritas. [santi]

Aktor Graham Greene: Rasialisme adalah hal yang paling bodoh di dunia ini. Jangan biarkan anak anda terlibat di dalamnya, tapi apakah anda termasuk didalamnya?

Penari, Karen Kain: Seringkali ragam etnik disikapi dengan sikap rasialisme yang merupakan penyakit manusia. Misalnya banyak peperangan antara bangsa, manusia antara manusia. Rasialisme sendiri bukan sesuatu yang kita bawa dari lahir, tapi karena adanya rasa takut dan kepicikan. Untuk menentang rasialisme, kita mulai dengan mengikis kebiasaan  saling mencurigai dan sadar bahwa keberbedaan kita merupakan hal yang alami.

Musisi John Mann [Spirit of the West]: toleransi adalah kemampuan untuk memahami kebodohan, dan juga tanda kematangan seseorang.

NEIL OSBORNE, Vokalis 54-40: Saya tidak suka dengan siapapun yang mengatakan kita lebih baik.

 

Leave a Reply

Close Menu