Punk : Do It Yourself Culture

1997_akhir September_Edisi 077_lepas:
Punk : Do It Yourself Culture

Waktu itu tahun 1976, London sedang mengalami musim panas yang sangat menggerahkan. Di antara cuaca panas itulah, King’s Road London mengawali debutnya untuk menerbitkan majalah musik penuh sensasional. Melalui majalah itu, mereka menggoncang kota London dengan memunculkan sebuah gaya baru dalam musik dan kostum, yang kemudian terkenal dengan sebutan Punk.

Di bidang musik, kelompok yang menamakan dirinya sebagai Sex Pistol kemudian melejit sebagai symbol legendaries para penganut aliran punk. Tidak hanya puas berteriak melalui musik-musik berlirik anarki, para Punker (sebutan untuk penganut aliran Punk), mulai mendandani tubuh mereka dengan berbagai hiasan yang tidak lazim. Bila seniman dadaisme Marcel Duchamp pernah menggegerkan dunia seni dengan memindahkan kakus WC sebagai media ekspresi seninya, hal ini yang kurang lebih sama dilakukan pula oleh Punker. Rantai dijadikan ikan pinggang dan peniti pun tidak lagi hanya sekedar penyemat pakaian, karena pipi, telinga dan mulut pun mereka perindah dengan benda ini.

Vivien Westwood menyebut model pakaian Punk sebagai “pakaian konfrontatif”, artinya “apapun yang kelihatannya tidak cocok, langsung saja dipakai”. Kalau seorang pria diharamkan memakai make up, maka para pria Punker malah kerap kali mengoleskan mascara di sekitar matanya. Mereka mengoles kuku-kuku dengan cat kuku berwarna gelap seperti hitam dan biru.

Di balik gayanya yang urakan, Punk membawa semangat pemberontakan terhadap segala bentuk kemapanan dalam masyarakat. Semangat ini berasal dari komunitas anak-anak muda kulit putih kelas buruh di London. Mereka adalah kelompok marginal dalam masyarakatnya, yang tentunya sering menghadapi tekanan persoalan dan ekonomi. Anak-anak muda ini telah mencapai titik jenuh sekaligus pesimis terhadap kehidupannya, bahkan ada yang mengatakan, mereka adalah kaum terasing akibat krisis kehidupan modern. Cetusan ketidakpuasan mereka sering terdengar slogan-slogan seperti “no career”, “no heroes”. Katerasingan ini juga bisa dilihat dalam rias wajahnya yang abstrak, pucat pasi seperti tidak ada gairah hidup. Di samping itu, symbol-simbol punk banyak diambil dari kehidupan pabrik. Misalnya warna rambutnya dicat warna hijau, merah, kuning, oranye, atau malah diputihkan seperti warna-warna zat kimia yang banyak dijumpai di pabrik-pabrik.

Dalam kondisi seperti inilah, mereka berontak dan membentuk subkultur tersendiri seperti yang digariskan dalam slogan DO IT YOURSELF CULTURE. Komunitas Punker telah membangun kultur mereka sendiri yang sangat berbeda kontras dengan kultur masyarakat pada umumnya. Jika anggapan umum mengatakan hanya seorang pemusik yang bisa main musik, maka kultur Punk membenarkan siapapun untuk bermain dan menciptakan musiknya sendiri. Hal ini Nampak dari ungkapannya “kebebasan” kaum Punk adalah perancang kondang Amreika, David Carson.

Sejarah terbentukya subkultur Punk tidak dapat dilepaskan pula dari hubungan mereka dengan kaum kulit hitam di Inggris. Mereka bekerja di pabrik yang sama, minum di satu pub sama, tinggal di area yang berdekatan, sehingga ada kesatuan pengalaman pada dua komunitas etnik yang berbeda ini. Namun kaum kulit hitam ternyata lebih dulu mengembangkan subkulturnya yang terkenal dengan sebutan kaum Rastafarian, yang mengorbitkan musik reggae. Menurut Dick Hebdige, penulis buku Subculture, estetika komunitas Punk sebenarnya terjemahan anak muda kulit putih kelas buruh terhadap kultur kaum kulit hitam. Perbedaanya, jika kaum kulit hitam atau para Rastafarian berorientasi pada akar mereka di Afrika, maka komunitas Punk tidak mencari akar pada kejayaan Inggris, mereka hanya terikat pada masa kini dan tidak mempunyai harapan untuk masa depan.

Hubungan baik di antara kedua etnis ini bisa terlihat di Roxy Club, Covent Garden, London. Tempat berkumpulnya para Punker ini telah memberikan ruang paling istimewa untuk kaum Rastafarian pula. Selain itu, pada tahun 1977-an, setiap malam Minggu di sepanjang Kings Road, para Punker dan Rastafarian kerap bersatu untuk melawan gangguan dari kelompok lainnya. Punk tidak sama dengan skinhead.

Dari sikapnya ini, para punker sering dicap sebagai kelompok anti rasis, tidak seperti komunitas skinhead. Salah persepsi ini kerap ditemukan di kalangan anak muda Jakarta yang mengaku sebagai penganut aliran Punk, tetapi memakai asesoris symbol Nazi atau fasis, yang menjadi milik kaum Skinhead. Tentu saja ini merupakan sebuah kesalahan besar dari peniruan tanpa bekal pengetahuan sejarah yang benar.

Dalam penyebarannya, pengertian tentang punk memang semakin beragam. Artinya, tidak selalu sama dengan apa yang ditemui di komunitas aslinya. Seperti yang diceritakan Anna Blume, wanita kebangsaan Jerman yang pernah hidup dalam komunitas punk:

“Sekarang tidak hanya satu punk, masing-masing orang memiliki intepretasi sendiri-sendiri, namun esensinya tetap sama yaitu anarki dan pemberontakan terhadap kehidupan mapan. Ada Punker yang sangat pesimis, tidak mau peduli dengan persoalan sosial dan politik. Menurut mereka tidak ada gunanya memperbaiki sistem, karena sudah hancur dan sekaligus dihancurkan oleh mereka. Lain lagi dengan Punk Politik, mereka kerap kali melakukan demonstrasi terhadap pemerintah dan peduli terhadap persoalan sosial politik di negerinya. Saya termasuk dalam Punk politik, atau sering disebut ekoPunk . Saya dulu hidup berkelompok di rumah-rumah kosong yang tidak bertuan sehingga sering harus berhadapan dengan polisi. Masyarakat sering menganggap punk adalah makhluk agresif. Tetapi sebenarnya kita menjadi agresif karena hidupnya diganggu oleh orang lain. Prinsip kita hanyalah igin hidup dengan cara sendiri. Memang terdapat macam-macam cara hidup para Punker, Ada yang tidak pernah membersihkan rumahnya. Ada yang pesimis dan suka heroin. Tapi ada juga seorang dokter, arsitek yang menganut ideologi punk. Dan kalau di Jerman, musuh Punk adalah para skinhead yang anti kulit berwarna (rasis) dan pro rasis. Saya sendiri sudah tiga kali dipukul oleh skinhead sehabis demonstrasi.”

Di Indonesia sendiri, punk masuk melalui musiknya, baru kemudian dana-dananya yang sangat menyolok mulai diikuti oleh banyak anak muda. Di Yogyakarta, misalnya, terdapat beberapa grup musik punk antara lain “Black Boots” dan “I Hate Monday”. Seorang pentola dari kelompok Black Boots menyampaikan alasannya berkarir  di aliran musik ini, “Saya menyukai musik, punk karena bisa mewakili semangat saya. Saya mengikuti kostumnya karena saya menyukainya sebagai karya seni. Dan lagi, menurut saya, punk cocok dengan kondisi Indonesia:, ujar Arya.

Meskipun komunitas, punk tetap menjadi komunitas marginal di masyarakatnya, ada hal menarik dari semangatnya yaitu untuk tidak meniru dan tidak tergantung. Seandainya semangat ini yang menjadi panutan, tidak mustahil setiap orang bisa membuat buku sendiri, menciptakan mode sendiri, dan berkembang menjadi diri sendiri.

Sumber: Hasil wawancara dengan Anna Blume. Hasil wawancara dengan Ari Diyanto. Hasil wawacara dengan Arya dan Aris, anggota Black Boots. Hebdige, Dick Subculture, the meaning of style. Meutheun:1985. Rouse Elisabeth, Understanding Fashion. BSP Profesional Books:1989. Kiriman Ilustrasi : Black Boots dan Ari Diyanto.

 

Leave a Reply

Close Menu