Pulauku NOL Sampah

Pulauku NOL Sampah

Pulauku NOL Sampah, merupakan kegiatan konservasi lingkungan di dalam sebuah strategi senyap yang mendorong kembalinya budaya bahari. Di dalam kegiatan Pulauku NOL Sampah warga didorong untuk berinisiatif, bergiat bersama melakukan penye- barluasan pola pengembangan sumberdaya kebudayaan (cultural resources) dan mengaktifkan simpul jaring modal sosial (social capital). Kohesi ikatan kedua entitas ini dapat ditransformasikan sebagai kekuatan untuk meneguhkan keadaban dan muruah mart- abat kemanusiaan yang berkeadilan.

Kebudayaan bahari sebagai wacana direalisasikan dengan proses kerja bersama antarwarga pulau dalam menangani persoalan sam- pah di pemukimannya. Kegiatan ini dapat menjadi sangat relevan ditempatkan sebagai laku perlindungan, pengembangan, peman- faatan, dan pembinaan kebudayaan bahari demi mengembalikan martabat komunitas pulau-pulau kecil yang tersisih selama ini. Kedalaman gerakan budaya nir-ucap, berbuat nyata secara praksis, memampukan individualitas dalam kebersamaan komunitas yang menyentuh sisi kemanusiaan berdimensi spiritual, mental, dan fisikal, yang tentunya erat berkait dengan nilai menjaga kes- eimbangan lingkungan.

Kegiatan Pulauku NOL Sampah tidak semata merupakan aktivitas di dalam bilik lingkungan fisik alami yang berdiri sendiri. Gairahnya perlu didampingi denyut ekspresi melalui kerja keseni- an dengan visi prospektif tertanam bersama, yang akan mendor- ong kreativitas komunal sebagai pemicu berbagai inovasi dengan komitmen peduli pada daya dukung lingkungan.

Menuju Pulauku NOL Sampah beberapa rangkaian aktivitas telah disiapkan oleh Rumah Hijau komunitas Pulau Pramuka dan Lab Teater Ciputat yang bertahun kerjabersama orang pulo Kepu- lauan Seribu. Rangkai kegiatan tahap 100 hari pertama yang telah dimulai per 21 November 2017 akan berpuncak pada peringatan Hari Sampah Nasional 21 Februari 2018, dan berlanjut sepanjang tahun 2018 sesuai tahapan per kuartal.

A. Mandiri Kelola Sampah

Rangkai kegiatan dengan target telah ditetapkan oleh
komunitas Rumah Hijau di Pulau Pramuka seperti
tercantum pada tabel berikut, dengan tujuan jadikan rumah warga menjadi rumah yang sehat dan produktif. Gerakan di Rumah Hijau jadi gerakan budaya yang lebih luas melalui siklus edukasi, kerjakan, apresiasi.

Saat ini sampah domestik belum sistemik dikelola dengan efek budaya bersih yang melibatkan tanggungjawab orang pulo. Untuk itu sangat penting mengajak masyarakat yang dapat mandiri men- gelola sampahnya sendiri dari rumah, dengan harapan hasil tidak ada lagi tong sampah di jalanan pemukiman di pulo yang malah bikin kumuh dan menjadikan warga kian malas untuk mengurus sampahnya. Rumah Hijau berupaya secara swadaya membangun kemandirian tersebut berbasis Rumah Tangga, beberapa kegiatan yang telah dan sedang berlangsung meliputi:

  1. Memilah dan mendaur ulang sampah an organik ekonomis. 2. Menyediakan Lubang Resapan Biopori, tempat
  2. Menyimpan sampah organik skala rumah tangga untuk keperluan pemulihan air tanah, mengurangi genangan, menyediakan kompos.
  3. Membuat kebun organik di halaman rumah untuk mengurangi ketergantungan terhadap sayuran dari darat dan ketersediaan sayuran sehat skala rumah tangga.
  4. Membuat produk kuliner kemasan dari dapur rumah tangga yang bisa dijual dan jadi oleh-oleh khas dan sehat.

Kegiatan Pulauku Nol Sampah Gerakan Pése telah diinisiasi komunitas Rumah Hijau, dimulai dari Pulau Pramuka Kepulauan Seribu, Jakarta per September 2017 dan
berpuncak pada Hari Sampah Nasional 21 Februari 2018

B. Wisata Eko-Budaya

Kepulauan Seribu sebagai satu dari beberapa Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang telah ditetapkan pemerintah, tidak semata soal investasi dan infrastruktur, melainkan tentang bagaimana menempatkan orang lokal pada posisi sepatutnya. Wisata pemukiman yang berkembang saat ini diterjemahkan masyarakat pulo sebagai wadah transaksional semata. Setidaknya ada dua dampak buruk yang muncul yaitu dampak ekologis dan budaya. Tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan, belum adanya regulasi yang membatasi berapa banyak penginapan boleh dibangun, berapa banyak tamu boleh berkunjung, berapa banyak air tanah yang boleh dipakai, berapa banyak orang boleh bere- nang/snorkeling/di-ving pada kawasan tertentu. Bahkan hingga saat ini belum diketahui apakah kita memiliki kalkulasi ecological & cultural cost recovery yang harus dikeluarkan untuk menghadapi dampak dari aktivitas wisata yang berkembang pesat.

Untuk pengembangan wisata pemukiman, penting membuka alternatif agar menempatkan penduduk tanpa terkecuali sebagai subyek kegiatan wisata, komunitas sebagai entitas ekonomi ber- basis nilai budaya lokal. Satu di antara banyak metode yang dapat menjawab kepentingan tersebut adalah wisata budaya dengan pendekatan live-in. Dengan metode ini, maka pariwisata akan memberi daya dorong orang pulau sebagai manusia bermartabat tanpa menafikan kebutuhan ekonomi. Selain dapat sebagai satu diantara banyak cara untuk melakukan pintu penataan lingkun- gan sehat dan layak di pulau pemukiman, metode ini pun dapat turut mengendalikan pembangunan fisik yang diperuntukkan bagi kegiatan pariwisata yang seringkali abai terhadap daya dukung lingkungan.

C. Aktivisme Seni

Pada Tahap Pertama yang berpuncak pada tanggal 21 Februari 2018, Lab Teater Ciputat (LTC) melakukan pendekatan kese- nian yang diorientasikan pada kerja kolaborasi instensif. Target produksi pertunjukan yang melibatkan warga lokal. Pilihan pertunjukan kolaborasi LTC dengan komunitas Wayang Pulo di Pulau Pramuka ini diharapkan dapat segera membangun proses kerjasama yang efektif terkait dengan kebutuhan empat aspek kemanusiaan, antara lain;

Intelektual, Fisikal, Emosional dan Spiritual. Di luar proses, LTC akan lakukan pemetaan ulang atas kebutuhan masyarakat pulo hari ini dengan keluaran ativitas Pertunjukan Seni Nol Sampah yang memanfaatkan dan menghidupkan Hutan Kreatif Pulau Pramuka.

Berbarengan dengan proses itu, LTC mengundang sejumlah seniman potensial yang memiliki kepedulian pada isu kebaharian untuk terlibat program ini. Bentuknya, sejenis artist live in selama minimal dua minggu di pulau Pramuka-Panggang. Terdiri dari berbagai lintas disiplin kesenian, mulai dari seni pertunjukan, musik, tari, tari, sastra, patung, disain, kriya, film, lukis, dll. Mere- ka adalah seniman hasil seleksi ketat Tim Pése, seniman terpilih diharapkan dapat memahami kondisi masyarakat setempat dalam waktu singkat. Dengan referensi wajib baca buku “Orang Pulo di Pulau Karang” edisi pertama, pemahaman seniman terpilih akan alam dan budaya setempat itu akan diekspresikan di berbagai media yang menjadi keahlian mereka. Durasi waktu kerja satu bulan; Minggu pertama Januari, Minggu ketiga Januari, Intensif dua minggu pada 9-21 Februari 2018.

Tahap Kedua pendekatan kesenian diorientasikan pada penyempurnaan riset yang pernah dilakukan LTC tahun 2013, berupa revisi buku “Orang Pulo di Pulau Karang”. Beberapa hal yang perlu dimasukan antara lain; Saran dari Bisri Efendi, catatan Mahariah, tradisi pulang babang, data perkembangan pulau hari ini, wawancara instansi kebudayaan, aktivitas swadaya masyarakat yang dilakukan komunitas hijau dan lainnya, serta kisah sukses orang pulau di negeri seberang. Dengan durasi kerja persiapan buku tiga bulan antara April-Mei, peluncuran buku akan dilaku- kan 6-7 Juli 2018.

 Tahap Ketiga adalah pendampingan festival rakyat Pulang Babang. Tradisi masyarakat Kepulauan Seribu yang berarti kesadaran untuk pulang ke kampung halaman setelah melaut untuk waktu yang lama, kembali untuk keluarga dan masyarakat dengan keberkahan rezeki yang dibawa nelayan dari laut. Hajatan Pulang Babang yang didampingi LTC digelar pada 30 Mei – 2 Juni 2013 lalu di Plasa Pulau Pramuka dan Dermaga Pulau Panggang ini menjadi momentum penting bagi penguatan potensi budaya masyarakat kepulauan seribu, khususnya di Kelurahan Pulau Panggang. Mengokohkan nilai-nilai tradisi masyarakat setempat, menguatkan peran pemuda dalam proses internalisasi identitas budaya masyarakat Pulau Panggang, sekaligus menjadi momen- tum penyebarluasan potensi masyarakat yang memiliki nilai budaya, sejarah, sosial, ekonomi, dan ekologi. Kegiatan Festival ini akan lebih disempurnakan untuk bisa helar utuh pada 7-8 De- sember 2018 dengan sekaligus bersamaan ikhtiar wujudkan hajat warga untuk memiliki Museum Budaya Pulau Panggang.

Leave a Reply

Close Menu