potret diri

2000_Desember_Edisi 119_seni:
potret diri
Joni Faizal/Ade Tanesia/Rohman Yuliawan

Kesadaran manusia akan akhir dari kehidupan telah menggerakkan kehendaknya membuat sebuah kenangan.Potret diri berupa foro atau lukisn merupakan saah satu pengabadian diri pada sebuah ruang waktu. Saat itulah manusia menciptakan citra yang diinginkannya. Ia ingin orang mengenang masa lalu dirinya seperti “ini” atau “itu” di masa depan.

Teknologi Mencetak “Keindahan”

Kebanyakan orang ingin menciptakan dirinya yang indah, seksi, ganteng, atau apapun. Mereka bisa berdandan habis-habisan hanya untuk difoto. Teknik fotografi juga semakin canggih untuk menghasilkan wajah agar tampak indah dari aslinya. Mrnurut fotografer Eko Birowo, memperindah wajah saat difoto bila dilakukan melalui soft filter, atau soft box di lampu studio. Ada pula teknik bounch, yaitu memantulkan cahaya ke dinding. Dlam praktek pengambilan foto diri, seringkali fotografer mengalami kesulitan karena konsep ‘’indah” antara dirinya dengan yang difoto berbeda. Eko Birowo sempat dikritik oleh model fotonya akibat hasil foto big close-nya justru mempertajam pori-pori wajah sang model. “Dibutuhkan negosiasi antara pemotret dan yang dipotret. Kadang kita akhirnya membagi beberapa frame untuk memenuhi keinginan yang dipotret, dan selebihnya untuk kepuasan fotografer sendiri, “ ungkap Eko Birowo.

Kalau ada yang tidak ingin rumit menghadapi negosiasi dengan fotografer, maka hal ini dapat diatasi dengan munculnya boks studio foto di berbagai mal yang memungkinkan kita memotret diri sendiri. Hanya dengan menekan tombol, maka alat foto itu secara otomatis menjepret wajah kita. Dan satu hari kemudian, potret diri kita siap diambil dengan membayar hanya Rp. 5000,- (untuk wilayah Yogyakarta) per foto. Boks studio foto yang bisa menampung 4 orang ini sangat diminati masyarakat, seperti studio Swagaya di Malioboro mal, Yogyakarta setiap harinya kedatangan 100 orang. “Habis foto model ini bikin kita nggak malu, mau bergaya apa saja nggak akan ada yang ngeliat. Saya saja sudah tiga kali foto disini,” ugkap Tien, mahasiswi Atmajaya asal Kupang. Tak hanya kebebasan bergaya yang diperoleh, boks studio foto ini juga menyediakan pilihan latar belakang foto. Mungkin kelak akan terdapat teknologi lebih canggih lagi untuk merekayasa wajah agar nampak lebih cantik saat dilakukan lewat foto. Seperti yang dikatakan oleh Albert Canus, seorang sastrawan Prancis bahwa manusia adalah makhluk yang enggan menjadi dirinya sendiri serta selalu ingin keluar dari keaslian dirinya.

Perangko Potret Diri

Kini kesempatan untuk mengabadikan wajah tak hanya melalui foto atau lukisan, tapi juga perangko yang disebut Perangko PRISMA. Pihak pos memakai motto “Prangko identitas milik Anda”, artinya setiap orang dapat menampilkan wajah atau identitas lain seperti merk, tanda tangan, atau cap jempol. Seperti halnya jenis prangko lainnya Prisma berlaku untuk pengiriman kiriman pos sesuai dengan nominal yang tertera. Perangko ini juga dicetak dengan security printing di atas security paper seperti halnya kertas berharga lainnya. Rupanya perangko prisma banyak digemari, sehingga si sebuah kantor pos di Jakarta saja, setiap harinya mereka memperoleh 1 sampai 2 juta. Ada dua tipe pembuatan perangko potret diri ini, pertama anda difoto oleh pihak kantor pos, atau anda bisa membawa foto sendiri yang nantinya akan di scan. Untuk tipe pertama, harga paketnya untuk 10 perangko sebesar Rp. 20.000,- sedangkan yang terdiri dari 20 perangko seharga Rp. 28.000,-. Sementara pada tipe kedua, seseorang menambah biaya scan sebesar Rp. 5000,-. Bagi masyarakat biaya ini masih terjangkau untuk mengalami masa sensani unik. “Bayangkan saja, di seluruh dunia hanya ada satu perangko Prisma. Ramadhan, 32 thun yang berprofesi sebagai kurir sungguh penasaran untuk ikut membuat perangko prisma…”harganya nggak mahal lagi jadi sekalian buat kejutan untuk teman-teman kampung yang dapet surat saya,” ungkapnya. Perangko potret diri memang sebuah ide yang menarik, karena mampu mengkombinasikan keinginan seseorang untuk dikenang plus memiliki fungsi sebagai alat pengiriman surat.

Potret Diri Seniman

Jika kebanyakan orang menginginkan citra dirinya yang indah menurut standar tertentu, maka potret diri seniman biasanya sebuah catatan ekspresinya disuatu ruang dan waktu, yang tentunya tidak melulu menggambarkan hal-hal indah. Frida Kahlo, pelukis wanita asal Meksiko merupakan salah satu seniman yang tak mengindahkan konsep indah dalam potret dirinya. Di tahun1940, ia menggambarkan dirinya sedang mengenakan celana panjang dan jas pria serta memotong rambutnya sangat pendek, sementara untaian rambut yang indah baru saja dipotong dan tercecer di lantai. Melalui lukisan potret dirinya, Kahlo sedang mengabadikan kemarahan dan kesedihannya yang amat sangat. Lain lagi dengan Rembrandt, pelukis pria asal belanda yang terkenal dengan potret diri selama periode 50 tahun hidupya. Salah satu lukisan potret dirinya yang paling dahsyat adalah “Rembrandt by Himself” yang dibuatnya saat sedang mengalami kesedihan akibat kematian isterinya. Saskia, Pada tahun 1656, ia melukiskan kesedihannya akibat kebangkrutan. Saat itu Rembrandt telah mengumpulkan kembali berbagai macam benda berharganya, lukisan untuk dijualnya. Pada lukisan tersebut ekspresi wajahnya kelihatan sangat kuatir, dan matanya penuh dengan luka batin. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Rembandt melukiskan dirinya sebagai Zeuxis, seorang seniman yunani yang sering menertawakan dirinya sampai ajal menjemput. Jika potret diri Rembrandt merupakan catatan hartanya, maka Van Gogh punya cerita lain. Ia banyak melukis potret diri karena tidak mampu membayar model. Namun dari sekian potret dirinya yang paling bersejarah adalah saat ia memotong kupingnya. Sebuah keabadian yang mengatakan kepahitan hidupnya, sehingga akhirnya ia bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri pada tahun 1890. Seniman memang berbeda, pembekuan potret dirinya tidak memerlukan banyak kosmetik, melainkan apa adanya. Pemaknaan terhadap identitas diri yang ingin ditampilkan seseorang memang selalu beragam. Oleh karena itu, potret diri merupakan sebuah cara untuk memahami bagaimana manusia merepresentasikan dirinya dari waktu ke waktu.

Physiognomy-Ilmu Membaca Wajah

Bisa jadi potret diri digunakan dalam ilmu physiognomy atau ilmu membaca wajah, yang tujuannya ingin menyingkap rahasia wajah. Ilmu ini meyakini bahwa raut wajah seseorang adalah cermin yang jujur dari karakter diri dan kualitas moralnya yang dapat dipastikan melalui penelitian atas wajah. Bagi mereka yang mampu membaca pertanda dari pertautan antar jiwa dan badan, dimana wajah menjadi penanda moral seseorang, orang tersebut akan dapat menguasai arah hubungannya dengan orang lain. Phisiognoni mencoba menghilangkan misteri yang disimpan orang lain, mereduksinya menjadi bentuk-bentuk sederhana dan sebuah karakter spesifik. Ilmu tersebut juga dimaksudkan untuk mengungkapkan atau menyingkap jiwa yang diselimuti kepura-puraan badani.

Ilmu ini berkembang di Eropa pada abad kesembilan belas yang ditemukan oleh Johan Kaspar lavater. Ia bersama pengikutnya mereduksi individualitas manusia kedalam sejumlah kunci-kunci visual yang terkait dengan tipologi kepribadian, suatu pendekatan yang telah ditinggalkan dalam ilmu Psikologi. Ahli-ahli Phisiognomi tidak tertarik mengamati untuk mengamati wajah secara keseluruhan namun memandangnya sebagai rangkaian-rangkaian garis raut muka: missal dari bentuk dahi, lekuk bibir cara memandang, bentuk hidung. Dan berbekal pengetahuan tersebut mereka membuat asuransi kondisi psikologis, dasar moral, tempramen, kebusukan-kebusukan yang terpendam, kualitas atau kesalahan serta ketidaksetiaan yang bahkan belum dilakukan oleh seseorang. Menurut moralis Perancis, den dela Bruyer, “Walaupun Phisiognomi mungkin dapat dipakai untuk menduga-duga, namun ilmu tersebut bukanlah alat untuk menilai seseorang,”ungkapnya.

Leave a Reply

Close Menu