polysterene

2000_April_Edisi 111_lingkungan:
polysterene
Joni Faizal

Kurangi penggunaan Styrofoam!
Styrofoam atau polystyrene (PS) pernah menjadi isu hangat di Jepang beberapa waktu lalu. Isu yang menimbulkan pro-kontra ini dimulai dari penelitian yang mengabarkan bahwa kemasan mie instan yang dibungkus dari polystyrene dapat merusak system endokrin. Sebelumnya tahun 1996, pernah juga muncul gosip serupa yang mensinyalir bahwa kemasan mie instan dari polystyrene dapat mengganggu system reproduksi (Endoreine Disrupting Chemicals/EDC). Ini yang muncul terakhir ini dipicu pula oleh rendahnya tingkat fertilitas masyarakat Jepang. Meskipun pada akhirnya penelitian Universitas Nasional Yokohama dan Japan Convenince Food Industry Association tidak membuktikan hal tersebut, namun polytstyrene tetap perlu diwaspadai terutama dampaknya pada lingkungan dan masa depan bumi.
Polystyrene untuk pertama kalinya dikomersilkan di Amerika pada tahun 1938. Delapan tahun kemudian, produksi ini diperkenalkan ke Jerman. Dalam referensi literature disebutkan pula bahwa Inggris pernah mematenkan semacam PS Eesin di tahun 1911 (Pobleman & Echter; 1981). Dan baru pada sekitar Perang Dunia II Polystrene mulai menunjukkan pengaruhnya di daratan Eropa.

Di jaman seperti sekarang, penggunaan Polysterene berkembang dengan pesat. Selain lebih murah, praktis dan tahan lama, material ini juga mudah digunakan untuk berbagai keperluan. Di stasiun, kafe-kafe, pasar swalayan, taman, dan kedai-kedai makanan siap saji, penggunaan polystyrene dengan mudah dapat kita jumpai. Untuk wadah makanan fastfood, wadah minuman dingin, hingga cangkir untuk kopi panas. Parahnya, penggunaan form cup seperti ini digandrungi anak-anak muda, karena lebih praktis dan sekali pakai bisa langsung dibuang (disposable). Padahal, penggunaan seperti ini tidak ramah lingkungan.

Di beberapa kota negara maju, penggunaan cangkir plastik polysterene ini sudah banyak dilarang. Di Belanda misalnya, para mahasiswa dianjurkan menggunkan cangkir sendiri setiap mereka membeli kopi atau teh di kafetaria. Sedangkan di Portland Oregon, penggunannya sama sekali dilarang. Alasannya, selain sangat tidak biodegradable, polystyrene ini menimbulkan gas HCFC-22 yang memberikan konstribusi terhadap rusaknya lapisan ozon.
Pengertian konsep biodegradable adalah cara penghancuran sampah dengan proses alam, misalnya melalui bakteri mikroba dan photobiodegradable. Teknologi ini pun tidak 100 persen dapat menghancurkan limbah sebagaimana yang diinginkan. Apalagi polystyrene, membutuhkan waktu 500 tahun untuk musnah. Dan lebih bahaya lagi jika polysterene ini dibuang ke laut karena jika dikonsumsi oleh satwa laut yang dilindungi dapat mengakibatkan satwa tersebut mati karena kesalahan makan.

Penggunaan Polystyrene yang tidak sedikit juga terjadi pada industri – industri elektronik maupun rekaman. Untuk pengiriman atau pengepakan barang-barang elektronik, polystyrene masih menjadi “pengaman” primadona. Dan penggunaannya sebagai pelindung juga dilakukan pada pengepakan telur dan buah-buahan, mengingat polystyrene memberikan perlindungan serta menjadi kestabilan suhu yang diperlukan.

Apa yang Harus Dilakukan?
Tidak mudah memang untuk menolak pemakaian wadah-wadah yang menggunakan polystyrene pada makanan yang kita pesan. Tapi berusaha untuk membawa wadah makanan sendiri atau tidak mengkonsumsi makanan yang menggunakan wadah dari polysterene adalah sikap awal yang bijak. Memang sangat jarang, di sekitar kita ada yang mengumpulkan dan mendaur ulang polysterene seperti halnya material lain. Langkah ini adalah buang polystyrene yang telah kita pakai di tempat-tempat seperti toko di mana kita membeli makanan tersebut. Dan jangan sungkan untuk mencari tahu di mana kita bisa membuang sampah polystyrene bekas yang kita pakai di toko saat kita membeli. Usaha ini setidaknya menyadarkan bahwa kita adalah konsumen yang peduli pada lingkungan. Jika setiap orang bersikap sama, kebijakan untuk mengolah ulang limbah nonorganik ini oleh produsennya berangkali akan menjadi prioritas karena menyangkut masa depan perusahaan mereka. Tidak mudah, tapi harus kita lakukan.

Leave a Reply

Close Menu