Plasma Nutfah

1995_mula November_Edisi 032_lepas:
Plasma Nutfah
Yudi

Belum lama ini, orang ribut-ribut mengenai reklamasi pantai Utara Jakarta. Pasalnya, berhektar-hektar hutan bakau yang selama ini ada di pesisir pantai utara itu akan hilang dan berubah menjadi hunian orang Jakarta. Hewan-hewan yang selama ini telah memiliki tempat tinggal yang tetap akhirnya pergi karena tergusur lalu, apakah hanya sebatas hilangnya hutan bakau dan berpindahnya hewan-hewan tersebut yang menjadi masalah untuk diributkan? Tentu saja tidak!

Tahun 1983, dunia geger akibat kebakaran hutan di Kalimantan Timur yag menghanguskan hutan seluas 3.5 juta hektar. Bencana yang terjadi antara bukan oktober 1982 hingga April 1983 tersebut sampai-sampai dianggap sebagai kerusakan hutan terbesar abad ini. Belum lagi ditambah pada tahun 1987. Dimana terjadi kebakaran hutan di 10 propinsi yang menghangsukan areal hutan seluas 34.813.75 hektar. Akibatnya para ahli lingkungan hidup dari luar negeri pun berkoar-koar untuk supaya menjaga lingkungan hidup. Namun orang Indonesia tenang-tenang saja. Kebakaran hutan di Indonesia dianggap kejadian rutin. Karena peristiwa kebakaran itu sebenarnya pernah ada dan mungkin seterusnya akan selalu ada.

Apa yang selam ini terjadi pada alam Indonesia, adalah hal yang biasa. Kebakaran hutan penggusuran lahan maupun pembukaan area baru merupakan resiko yang harus ditanggung alam demi pembangunan. Selama hal tersebut tidak mengganggu ketentraman manusia itu sendiri, tidak akan ada masalah untuk selanjutnya. Tetapi, tanpa disadari, ternyata dari proses penggusuran lahan maupun pembukaan areal baru telah mengakibatkan bangsa kita menjadi bangsa yang selalu ketinggalan dari bangsa-bangsa yang lain.

Dahulu, ada periode yang disebut masa revolusi industry. Sekarang ini, kita hidup dalam era informasi, dan di masa depan akan ada masa bioteknologi. Untuk bisa menghadapi masa bioteknologi tersebut, tentu saja memerlukan plasma nutfah guna memenuhi kebutuhan manusia akan makanan, obat-obatan dan lain-lain di masa mendatang. Dengan terjadinya kebakaran, serta penggusuran lahan berarti kita telah menghancurkan plasma nutfah yang sangat dibutuhkan di masa depan.

Lalu berapakah sebenanrnya harga plasma nutfah? Jawabnya nol kalau masih berada di tengah hutan. Buktinya nutfah itu sering dibiarkan hancur sewaktu diadakan penebangan hutan maupun penggusuran lahan. Tetapi begitu dijadikan bahan bioteknologi, harganya akan mahal sekali. Negara-negara Industri besar berani membayar mahal hanya untuk membeli sesuatu yang bisa dikembangkan demi kelangsungan hidup di masa mendatang.

“Selama ini setiap kali muncul masalah gangguan atau kerusakan lingkungan hidup, kita selalu melihatnya sebagai masalah ekologi semata. Namun dibalik itu ada harga yang harus ditebus. Plasma nutfah yang menjadi sumberdaya alami di masa mendatang telah ikut hancur dalam proses tersebut sebelum kita sempat mengetahuinya. Mungkin tidak mustahil jika di dalamnya terdapat obat penyakit AIDS atau Ebola yang tengah melanda dunia sekarang ini. Atau mungkin juga terdapat jenis tumbuhan serta hewan yang belum pernah dikenal sebelumnya. Terlebih lagi wilayah Indonesia yang termasuk di dalam Wawasan Oriental, adalah tempat hidupnya ribuan jenis tumbuhan serta pusat persebaran vertebrata.

Apa yang telah terjadi di Pantai Utara Jakarta, mungkin hanya sebuah kasus kecil dari hilangnya plasma nutfah yang ada di pantai tersebut. Masih beruntung jika wilayah lain kita masih dapat menjumpai hutan bakau yang terlindungi dari gangguan manusia hingga bisa dimanfaatkan demi masa depan. Tetapi kacaunya jika kita tidak bisa menemukan lagi. Akhirnya kita telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari sekedar hidup yang layak.

Leave a Reply

Close Menu