Pikun

1999_Desember_Edisi 106_selip:
Pikun

Ronald Reagan, gaek 80 tahun yang selalu berpenampilan gagah perkasa dan elegan ini dikabarkan tidak lagi mengenal siapapun kecuali istri tercintanya, Nancy Reagen. Dapat dipastikan bahwa mantan presiden AS ini mengalami gejala pikun atau demensia yang biasanya menyerang para lansia. Bagi kaum lansia, gejala pikun bukan hal luar biasa, berbagai penelitian menunjukkan bahwa 85% gangguan terjadi pada usia manusia di atas 18 tahun. Sejalan dengan bertambahnya usia, struktur otak manusia mengalami perubahan. Otak akan kehilangan puluhan ribu selnya dan beratnya pun berkurang. Penciutan permukaan otak (konteks) akan terjadi dibagian temporal (pelipis) dan frontalis (depan) yang berfungsi sebagai pusat daya ingat. Perubahan Struktur anatomi otak itu akan diikuti gangguan fungsi saat otak terutama daya ingat. Sehingga orang tua mengalami gejala mudah lupa lupa (forgetfulness). Selain kehilangan ingatan jangka pendek, penderita demensia juga sulit berfikir abstrak, mengolah informasi baru atau mengatasi persoalan. Di tingkat yang paling parah, demensia bisa menjadi kepikunan Alzheimer yang hingga kini belum diketahui secara pasti apa penyebabnya. Di Amerika Serikat dan Eropa, Alzheimer adalah penyebab kematian keempat setelah Jantung, kanker dan stroke. Gejala Alzheimer dapat dideteksi melalui mundurnya daya ingat dan penurunan fungsi luhur (neurobehavioral) seperti gangguan bahasa, persepsi, orientasi, emosi, serta gangguan kognisi atau intelektual secara progresif, hingga penderita tidak dapat melakukan apa pun kecuali berdiam di tempat tidur.

Menurut staf senior bagian Neurologi Fakultas kedokteran UI, ada banyak orang yang mengalami proses lanjut usia yang kemampuan mengingatnya tidak menurun. Hal ini berkat proses plastisitas pada penuaan otak, yaitu adanya stimulasi sehingga kemampuan struktur otak maupun fungsinya tetap berkembang. Agar proses plastisitas otak tetap terjadi, maka kaum lansia harus terus aktif berpikir dan belajar. “ Sel-sel otak itu kan saling berhubungan, sehingga bila otak sering dipakai maka yang terjadi semacam aliran listrik. Maka sering kita berfikir, hubungsn antar sel akan makin banyak, sebaliknya jika tak sering dipakai hubungan akan rusak,” jelas Prof. Dr. Sidiarto Kusumoputro, neurolog FKUI-RSCM.

Jika aktifitas belajar tetap dilakukan secara terarah, maka tingkat intelegensia para lansia akan tetap stabil. Belajar yang dimaksud bukanlah menempuh pendidikan formal, tapi bisa dari hal yang sederhana seperti mengisi TTS, menebak kuis, bermain game komputer maupun catur. Dan sebaliknya pula diperogramkan stimulasi berupa aktivitas yang memiliki unsur komunikasi sosial, musikal, artistik,maupun spiritual yang dilakukan sesuai situasi. Artinya, semakin tua bukannya semakin melempem, bahkan semakin aktif meningkatkan potensi diri.

Lansia: dihormati + dilecehkan
Orang tua dari suku Sioux itu tetap kelihatan berwibawa. Setiap orang yang lewat, pasti saja  menyapanya dengan rasa hormat. Bagi orang Sioux, kaum lansia memang dipercaya memiliki pengetahuan tentang hidup, sehingga keberadaannya disegani. Hal ini juga nampak dalam legenda-legenda mereka, dimana orang-orang tua digambarkan memiliki kedekatan hubungan dengan roh arwah nenek moyang yang diangap suci. Disamping itu, mereka juga penjaga rahasia pengobatan tradisional, sehingga sangat jelas peranannya dalam masyarakatnya. Gambaran ini dituliskan oleh Adam Smith di tahun 1776, bahwa status seseorang dalam masyarakat Indian dibedakan menurut usia, sehingga semakin tua maka seseorang semakin berperan dalam masyarkatnya. Tidak hanya di Indian, di Romawi dikenal kepemimpinan Gerontokrasi dan Roman Senate (berasal dari Senese – lanjut usia) yang memberikan posisi terhormat bagi kaum lansia.

Menurut Prof. DR. Conny Semiawa, setiap masyarakat memiliki sikap berbeda terhadap kaum lanjut usia, yang dipengaruhi oleh struktur keluarga, lingkungan maupun ekonomi. Misalnya pada suku Siriono di Bolivia, lingkungan alam yang keras dengan sumber daya amat terbatas mengakibatkan kaum lansia dianggap sebagai barang usang yang membebani masyarakat.

Pemaknaan suatu masyarakat terhadap lansia juga bisa dilihat dari berbagai legenda yang berkembang. Pada masyarakat praindustri Eropa, legenda tentang lansia biasanya dihubungkan dengan dunia gaib, dimana kaum lansia terutama wanita, digambarkan sebagai sosok yang mengerikan, membawa sial. Misalnya ada sebuah peribahasa yang mengatakan, “seandainya setan tidak datang sendiri, maka ia akan mengirimkan seorang wanita tua”, atau “mereka yang berjalan diantara dua wanita tua pada pagi hari akan mengalami nasib buruk di sepanjang hari tersebut.” Di Indonesia bagian Timur, Juga didapati mitos “suanggi” yang kadang digambarkan sebagai nenek atau kakek tua, Suanggi dipercaya sebagai manusia yang mempunyai ilmu hitam tinggi dan suka membunuh sesamanya.

Lain lagi dengan kaum lansia yang terjadi di daerah Ghana. Menurut hasil penelitian Sejak Van der Geet dari Universitas Amsterdam (1996), terjadi perbedaan perlakuan terhadap kaum lansia berdasarkan prinsip timbal balik. Jika seorang lansia memberikan kesejahteraan yang baik bagi anak-anaknya, maka sang anak akan membalasnya. Sebaliknya, kaum lansia akan menemui kesulitan di masa tuanya. Jika tidak memberikan yang terbaik semasa pertumbuhan anaknya. Posisi lansia dalam suatu masyarakat memang kadang dilematis, bisa dihormati, bisa pula dilecehkan. Tapi seharusnya siapapun menjatuhkan pada pilihan pertama, mereka patut dihormati dan dicintai.

Prangko Lansia

Tua tidak berarti kehilangan semangat! Banyak orang tua di Indonesia yang masih mandiri di usia senjanya. Mereka bahkan menekuni bidang-bidang yang tidak lagi dilirik anak muda atau generasi sesudahnya, misanya seniman batik, guru tari, ilmuwan, hingga pakar masakan tradisi.  Ketekunan para lansia dalam mencipta, menyebabkan kualitas karyanya pun jauh mumpuni dan tak jarang dianggap langka. Sehingga sangatlah wajar jika Pos Indonesia menerbitkan prangko dengan citra seorang lansia yang sedang melukis payung. Dalam prangko bernilai nominal Rp. 500,- itu terdapat tulisan “Tua Berguna dan Berkualitas”.

Menurut Abdussyukur, dari Divisi Filateli Pos Indonesia, isu lansia diangkat dalam prangko karena sesuai dengan pernyataan PBB bahwa tahun 1999 merupakan Tahun Internasional untuk Usia Lanjut. “Di Indonesia sendiri, masalah ini belum menjadi maslaah publik, padahal isu lansia menjadi masalah besar di abad mendatang,” ungkap Abdussyukur, Atas dasar itulah, penerbitan perangko Lansia dimaksudkan unutk meningkatkan kesadaran itu, sehingga peredarannya pun sangat luas.

Data organisasi kesehatan PBB menyebutkan, terdapat 550 juta orang lansia (diatas 60) diseluruh dunia dan diperkirakan menjadi 1,2 milyar lansia pada tahun 2025. Sedangkan Indonesia diperkirakan akan menjadi negara ketiga terbanyak dalam jumlah lansia setelah Cina dan Amerika. Dan menyongsong tahun 2000, jumlah lansia di Indonesia sekitar 15.3 juta.

Prangko yang terbit tepat pada Hari Lansia Se-Dunia yang jatuh pada tanggal 1 Oktober 1999 lalu ini dicetak sejumlah 1 juta buah. Sedangkan desainnya merupakan hasil diskusi tim Pos dan Departemen Sosial sebeum divisualisasikan oleh desainer prangko yang ditunjuk.

Leave a Reply

Close Menu