Picik

1998_Maret_Edisi 088_peduli:
Picik

Picik merupakan kata lain dari cupet- kacamata kuda – yang esensinya adalah “cara berpikir manusia yang sempit dan tidak terbuka terhadap berbagai sisi kehidupan manusia lainnya”.

Esensi ini nampaknya sederhana, namun dalam praktek picik bukan sekedar dua suku kata, melainkan bisa menjadi bentuk kekejaman dan kegilaan fanatisme manusia yang memakan jutaan korban. Sejarah manusia telah membuktikannya melalui kekejaman apartheid, Klux Klux Klan, kekejaman sebuah museum di Inggris yang ratusan tahun silam telah membunuh orang Aborigin hanya untuk keperluan bahan penelitian evolusi manusia.

Wujud kepicikan yang paling mengerikan dalam sejarah umat manusia mungkin masih diwakili oleh praktek holocaust oleh Nazi di bawah pimpinan Hitler selama Perang Dunia II. Holocaust adalah pemusnahan sekitar 6 juta orang Yahudi Eropa secara sistematis. Tercatat pada tahun 1933 masih terdapat 9 juta orang Yahudi di 21 negara Eropa yang diduduki Jerman. Dan tahun 1945, dua dari tiga orang Yahudi Eropa yang meninggal adalah korban pembunuhan Nazi, yang percaya bahwa bangsa Jerman termasuk ras superior, yaitu ras Arya dengan ciri-ciri berbahasa Indo-Eropa, bermata biru, rambut pirang, kulit putih dan tinggi. Untuk kebutuhan memurnikan ras Arya, maka Nazi harus memusnahkan berbagai ras seperti Semit Yahudi, Gipsi. Dalam menjalankan praktek permurnian ras ini, Nazi didukung oleh kaum ilmuwan yang mengadakan penyeleksian genetik dan ras. Di tahun 1933-1935, dilakukan program sterillisasi yang bertujuan menghambat regenerasi masyarakat di luar ras Arya. Sekitar 500 kanak-kanak berdarah campuran Jerman-Afrika dan 320.000 sampai 350.000 kaum cacat mental dan fisik harus melakukan prosedur radiasi dan bedah agar mereka ridak dapat bereproduksi.

Nazi pun mendirikan berbagai kamp pusat pembunuhan massal untuk bangsa Yahudi dan kaum Gipsi. Pada Mei 1942, sekitar 200.000 orang telah pula menjadi korban kekejian ruang gas Kamp Sobibar. Dan, masih dilanjutkan dengan pemusnahan di Treblink yang mencatat korban 750.000 orang.

Sungguh menyedihkan, dari waktu ke waktu, nampaknya manusia tetap gemar akan picikan. Data-data sejarah yang berlumuran darah memang dapat mendirikan bulu kuduk , tetapi sebagai sekedar cerita romantis. Nyatanya, kepicikan manusia tetap berlangsung hingga detik ini di belahan dunia manapun.

Berpikir terbuka dan menghargai perbedaan sepertinya harus diakui sebagai suatu usaha yang sulit diterapkan dan selalu menjadi tantangan manusia di setiap jaman. Tetapi, tentu saja tidak boleh ada kata selesai untuk memerangi kepicikan, bila kita menginginkan sejarah tidak mencatat adanya korban kepicikan dalam kurun waktu hidup kita.

Sumber: History of Holocaust, summary. The Holocaust memorial.

 

Leave a Reply

Close Menu