Pewarna Makanan

2000_Januari_Edisi 108_peduli:
Pewarna Makanan
Joni Faizal

Perkara makanan bukanlah sekedar bagaimana menggoyang lidah dan mengenyangkan perut. Nenek moyang kita pun sudah sangat sadar akan pentingnya tampilan, sehingga mereka mewarnai beragam makanan agar lebih menarik. Tidak jarang minat seseorang terhadap suatu makanan bukan ditimbulkan oleh aroma dan rasanya, melainkan dari warna yang dipancarkan.

Mulai dari jenis kue tradisional semacam cenil sampai makanan kontemporer, semuanya tidak lepas dari daya tarik warnanya. Warna kuning, paling banyak digunakan masyarakat untuk memberikan kesan telur, mentega, maupun keju. Sedangnkan warna merah menjadi favorit anak-anak dan banyak kita temukan pada penjual makanan di sekitar sekolah dan jalanan.

Warna-warni makanan ini tidak akan menjadi masalah kalau yang digunakan adalah bahan pewarna alam. Namun perkembangan teknologi telah mengajak kita untuk meninggalkan zat pewarna alami dan beralih ke zat sintetik yang lebih praktis dan murah. Padahal, tidak semua zat pewarna sintetik layak dikonsumsi. Beberapa jenis zat pewarna malah telah dilarang pemakaiannya. Namun Ironisnya zat tersebut justru masih banyak digunakan oleh pedagang makanan di jalan maupun industri makanan kecil. Tidak heran jika masyarakat miskin lah yang paling beresiko tinggi.

Laporan penelitian tentang makanan jajanan dari berbagai negara mengungkapkan bahwa sekitar 62% dari zat pewarna makanan yang dijual di daerah pinggiran dan pedesaan, ternyata terdiri dari kandungan zat yang terlarang, yaitu yang mengancam kesehatan konsumen. Bahkan penelitian itu menunjukkan bahwa 6,6% makanan yang menggunakan zat warna yang diijinkan, pemakaiannya melewati ambang batas yang telah ditentukan. Sedangkan hasil survey yang dilakukan Street food Project di beberapa kota di Jawa Barat menyebutkan bahwa banyak diantara pedagang jalanan menggunakan bahan pewarna sintesis yang dilarang seperti rhodanin 8, metanil yellidw serta amarath.

Untuk mendapat sedikit gambaran tentang bahaya dari penggunaan methanol yellow dan rhodanin B. disebutkan bahwa pembuatan bahan-bahan tersebut juga mengikuti bahan baku yang tidak bereaksi. Bahan ini tidak diperlukan oleh tubuh, seperti logam berat yang berasal dari asam sulfat atau asam hidroklorida dan produk sampingan yang tidak dikenal sifatnya.

Dalam hal pembuatan metanil yellow, suatu bahan yang berwarna kuning, bahan bakunya adalah asam metanilik dan diphenitamine. Kedua bahan baku ini adalah bahan toksit pada manusia. Pewarna ini biasa digunakan untuk penambal kayu, pelapis logam, pewarna tekstil, kertas, dan sebagai Indikator. Sedangkan rhodamine B adalah bahan yang berwarna merah jambu, dibuat dari m-deethlyminophenol dan phtalk anhydride dan pengasaman dengan asam hidroksida. Bahan ini sangat baik mewarnai sutra, wol dan kertas karena memberi efek berkilau bila kena sinar . Selain itu juga sering digunakan sebagai uji reaksi pada penentuan logam-logam berat.

Jadi tidak ada alasan untuk tetap menggunakan bahan pewarna seperti kedua jenis di atas, untuk mempercantik makanan kita.

Leave a Reply

Close Menu