petualangan Agus Setiadi

1996_akhir Desember _Edisi 059_kenal:
petualangan Agus Setiadi

Kisah Lima Sekawan mungkin dapat disebut bacaan wajib bagi sebagian besar anak-anak Indonesia, paling tidak yang hidup di kota besar. Tidak jarang gairah berpetualang mereka muncul setiap kali sebuah buku selesai dibaca. Masuk gua…bertemu orang jahat…meloloskan diri…dan selamat. Hmm..tidak ada yang lebih mengasyikkan dari pada sebuah petualangan.

Kalau kisah Julian, George, Dick, Anne dan Timmy menjadi begitu hidup, itu karena ada Agus Setiadi yang menjadi penerjemah buku serial petualangan tersebut. Berkat pria berperawakan tinggi kurus ini, karya Enid Blyton tidak lagi terasa begitu “Inggris”. Anak-anak Indonesia tidak akan menemukan sikap rasis atau perbedaan kelas yang sebenarnya sangat terasa di karya Blyton dalam bahasa aslinya.

“Bagi orang Indoneisa, memanggil orang yang lebih tua hanya dengan menyebut nama, adalah sikap yang tidak sopan. Karena itu, ketika anak-anak ini (Lima Sekawan) hanya memanggil nama kepada penduduk dusun, saya menambah kata Pak atau Bu,” ujar Agus Setiadi.

Jalan hidup Agus Setiadi sendiri tidak ubahnya seperti sebuah petualangan. Bagaimana tidak? Pertama, dia meninggalkan bangku kuliah di Jurusan Arsirtektur ITB karena tidak setuju atas peraturan baru, yang dianggapnya “mengada-ada”. Lalu, mencoba bekerja di biro iklan beberapa waktu sampai kemudian memutuskan untuk pergi ke Jerman.

Sekalipun niat awalnya adalah untuk sekolah, hari-harinya di Jerman lebih banyak dihabiskan dengan bekerja. Mulai dari bekerja di kedutaan sampai menjadi asisten produser di Deutsche Welle (1963-1976). Akhirnya, asisten produser, yang sering kali merangkap sebagai penerjemah untuk siaran Indonesia ini, mulai merasa bosan. Ia pun menjadi kemungkinan untuk pulang ke tanah air.

“Ketika saya dan keluarga kembali ke Indonesia, saya menemui pihak Gramedia dan mereka langsung memberikan buku untuk diterjemahkan. Sejak itulah saya menjadi penerjemah. Sejak bulan September 1976. Saya bahkan ingat tanggalnya,” tutur ayah berputra tiga ini dengan mata berkilat jahil.

Pria kelahiran Selayar-Sulawesi Selatan 61 tahun lalu ini menjadikan profesi penerjemah sebagai pilihan hidupnya. Kalau kemudian ia memilih banyak menerjemahkan buku anak-anak, itu karena keprihatinan akan miskinnya bacaan bagi anak-anak ketika ia mulai menjadi penerjemah.

Bagi Agus Setiadi menerjemahkan bukan sekedar mengartikan serangkaian kata. Tapi lebih dari itu, menerjemahkan sama artinya dengan membahasakan kembali (dengan bahasanya sendiri) apa yang ingin disampaikan oleh penulis buku kepada  pembacanya. Untuk itu, ia selalu mencoba mengenal jati diri penulis buku melalui biografi atau tanggapan-tanggapan terhadap buku yang bersangkutan. Ia juga berusaha untuk memahami konteks yang melatarbelakangi sebuah cerita.

Uniknya, ketika menerjemahkan sebuah buku, Agus Setiadi hampir tidak pernah membuka kamus.

“Kalau saya selalu menggunakan kamus, berarti pembuat kamus itu yang menjadi penerjemahnya, bukan saya.”

Dari sekian banyak buku yang telah diterjemahkannya, ada satu buku yang paling berkesan baginya, yaitu “Ronya Anak Penyamun” (Ronia the Robber’s Daughter). Buku yang merupakan gabungan antara kisah Romeo dan Juliet dengan cerita petualangan ini menggantarkannya memperoleh pernghargaan dari Insternational Board and Books for Young People pada tahun 1994.

Leave a Reply

Close Menu