peta wilayah takut

2001_Februari_Edisi 121_bahas:
peta wilayah takut
Ade Tanesia

Sejak masa reformasi ini, pastinya anda sering mendengarkan radio yang memberikan informasi tentang wilayah-wilayah yang penuh ancaman sehingga perlu dihindari, misalnya, jangan arahkan tujuan ke kawasan Senen, kawasan Glodok atau titik-titik yang dianggap rawan. Gambaran peta wilayah yang penuh ancaman ini tentunya akan menempel di benak kita, sehingga walau tak ada ancaman, tetap saja kita takut pada kawasan tersebut. Seorang teman yang memiliki mobil BMW tak pernah membiarkan kendarannya ke wilayah tertentu. Inilah yang disebut The Geography of Fear.

Yeoh Brenda dan Yeow Pei Lin dari Fakultas Geografi di National University of Singapore pernah menganggkat konsep The Geography of Fear dalam sebuah penelitian. Secara khusus mereka meneliti wilayah-wilayahy dianggap ancaman bagi wanita. Singapura sebagai salah satu kota teraman di dunia, ternyata masih menyisakan ruang-ruang publik yang bisa membangkitkan rasa takut. Setiapa pria dan wanita tentunya takut oleh ancaman kriminal, tetapi banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa rasa takut itu lebih besar melanda kaum wanita. Setiap perempuan sejak sudah diajar bahwa kebanyakan ruang publik adalah milik pria. Dan perempuan telah membangun strategi untuk menghadapinya, misalnya dengan menghindari kontak mata dengan pria tak dikenal di ruang umum, memperkeras gerak tubuhnya, berjalan lebih cepat.

Penelitian ini mengambil lokasi di Bishan and Development Board Estate dan sebanyak 153 perempuan dan 75 yang diwawancarai sebagai korespondennya. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata jenis kriminal yang paling ditakuti wanita adalah pemerkosaan, dan pembunuhan di peringkat kedua. Lalu ada 4 hal yang menjadi sumber dari rasa takut tersebut, yaitu pengalaman nyata korban, sosialisasi keluarga, media massa dan komunikasi informal. Berita tentang pengalaman korban perkosaan merupakan aspek penting dalam mendistribusikan ketakutan. Biasanya kaum perempuan sangat rinci menceritakan kembali peristiwa perkosaan tersebut. Dan jika perkosaan itu terjadi di ruang publik yang berbahaya, maka yang dipersalahkan adalah korban sendiri yang dianggap tidak berhati-hati. Sementara perkosaan yang terjadi di ruang-ruang yang selama ini dianggap “aman”, maka akan menjadi catatan penting perempuan lain untuk berhati-hati di ruang tersebut. Penelitian ini juga mengungkapkan wilayah-wilayah yang dianggap berbahaya bagi perempuan, adalah lift, tangga, tempat parkir, stasiun kereta api, terminal bis, lorong bawah tanah, dan jalan setapak. Dan waktu-waktu yang ditakuti adalah antara jam 11.00 malam sampai 07.00 pagi. Akhirnya penelitian ini menyimpulkan bahwa perempuan tentang ruang dan waktunya sungguh diatur oleh kesepakatan masyarakat tentang wilayah dan waktu yang dianggap berbahaya dan tidak berbahaya. Hal ini memunculkan ketakutan pada perempuan sehingga membatasi kegiatannya serta memposisikan mereka selalu tergantung pada pria.

Leave a Reply

Close Menu