Perta Jalanan Unik Kesenian Betawi

1994_Agustus_Edisi 02_seni:
Perta Jalanan Unik Kesenian Betawi

Bermula dari ngobrol-ngobrol dengan beberapa kalangan pengusaha kerpariwisataan Jalan Jaksa, yang didorong oleh Pemerintah DKI Jakarta, untuk berbuat sesuatu bagi lingkungannya. “Pokoknya buat sebuah acara keramaian di Jalan Jaksa yang melibatkan semua pihak”, begitu kata mereka.

Terus terang agak bingung mendengar keinginan pengusahan-pengusaha itu. Mau diapakan jalan kecil yang sudah mendunia ini? Panggil grup musik terkemuka dunia, raasanya tidak mungkin. Lalu, kami berpikir, kenapa tidak kita manfaatkan saja jalanan yang memang sudah terkenal itu. Buat sebuah pesta jalanan, tak mesti seperti Carnaval de Rio di Brasil atau pesta bunga di Pasadena, AS.

Lalu ada suara: “Berikanlah tempat kepada kesenian tradisional kita!” Ya mengapa tidak. Kesenian Jakarta sudah melayaknya diberikan tempat di sini. Kebetulan bola yang digelindingkan itu ditangkap dan didukung oleh berbagai pihak. Berkembanglah sebuah eksperimen.

Kumpulkan data tentang semua jenis kesenian Betawi yang masih dan pernah ada. Bentuk organisasi kecil-kecilan, sediakan sebuah secretariat. Galang jaringan kerja.

Di keramaian itu, nanti, hampir semua kesenian Betawi dimunculkan. Ada ondel-ondel, Topeng Betawi, Gambang Kromong, Tanjidor sampai Sahibul hikayat. Penonton menonton dan penonton ditonton begitu yang terjadi di jalan kecil sepanjang sekitar 400 meter dan macet di siang hari.

Sengaja kita pilih beberapa kesenian yang sudah kembang-kempis akibat jarang pendukungnya lagi. Ambil contoh Rancak, yang tergolong dalam seni tutur Betawi yang pernah populer, tapi kini hampir terlupakan. Tiga puluhan tahun lalu, Rancak atau masih Gambang Rancak masih sering dipentaskan di pusat kota. Tapi kini makin bergeser ke pinggiran Jakarta.

Atau mau lihat pula kesenian rakyat paling komplit, Topeng Betawi. Ada unsur musik, tari, nyanyi, sandiwara dan lawak. Di mana goyangan pinggul, dandan seronok penari topeng, suguhan sandiwara berbumbu silat, berbalas pantun serta sedikit humor vulgar, yang lebih menunjukkan kejelatannya.

Begitu juga bagi yang ingin bernostalgia tentang Jakarta tempo dulu, Kerontjong Toegoe. Atau Lenong Denes, teater Betawi hasil perkawinan dengan seni Melayu. Tak ketinggalan pula Lenong Rumpi. Semua tumplek di Jalan Jaksa.

Penyelenggara Jaksa Fair ’94 juga sadar bahwa seni Jakarta Berkembang karena interaksi bermacam-macam orang. Itulah yang kita hidupkan lagi. Jadilah bagian dari tradisi terbaru Jakarta.

(Etnodata)

Leave a Reply

Close Menu