Perpusnas:: fasilitas bagi pembayar pajak?

Akhirnya, aku mengunjungi Perpustakaan Nasional lagi. Konon, mencari materi lawas dalam bentuk majalah, koran, buku, memang di sini tempatnya..

Karena kartu anggotaku sudah entah di mana, maka aku mendaftar lagi. Ternyata, mereka tidak memeriksa namaku. Jadi, aku bayangkan nantinya akan ada dua namaku di ‘buku’ anggota mereka.. hihi.

Bagi pendaftar baru kategori umum, kartu plastik ‘siap saji’ hasil printer Polaroid, harus ditebus seharga Rp 15.000,-. Untuk pelajar dan mahasiswa Rp 10.000,-. Isi formulir, antri sebentar, foto sebentar, kurang dari tiga puluh menit kemudian, kartu anggota sudah di tangan. Layanan yang relatif cepat untuk ukuran birokrat di jam hampir makan siang.

Aku naik lift ke lantai tujuh. Menggunakan lift ‘belakang’. Sampai di ruang penyimpanan majalah.Isi formulir permintaan, tunggu sebentar, tak lama ‘pesanan’ diantar ke mejaku. Baca sana-sini, selip kertas di sana-sini sebegai penanda, aku serahkan kembali ‘bundle’ majalah itu ke seorang ibu yang sejak tadi membantu dengan cekatan, untuk di fotocopy. Rp 700,- per lembar duplikat A3 untuk majalah berumur lebih dari 50 tahun.

image1572lantai7.jpg

image1610lantai7.jpg

Aku naik tangga ke lantai delapan. Di sana ‘bagian’ penyimpanan media cetak harian/koran. Isi formulir permintaan dengan nama dan kode koran yang diinginkan. Tunggu sebentar. Tak lama, setelah petugas menyelesaikan makan siang, beberapa ‘bundle koran diserahkan. Kondisi mereka menyedihkan. Untuk mendapatkan duplikat artikel-artikel yang diinginkan, aku beri tanda dengan menyelipkan potongan kertas dan menyerahkan kepada ibu berkacamata yang santun. Ia kemudian membalik alat pindainya ke atas salah satu halaman yang ku tandai, dan mulai memindai (scan). Rp 5.000,- per lembar pindai yang kemudian di print di atas kertas A4.

image1618lantai8.jpg

image1619lantai8.jpg

image1620lantai8.jpg

Sambil menunggu, aku lihat-lihat ruangan. Ia bersebelahan dengan ruang yang dipenuhi banyak sekali ‘bundle’ koran. Di satu pojok,’teronggok’ sebuah scanner berukuran jumbo. Wow! Itu alat yang tepat untuk dapat memindai bidang sebesar satu lembar koran, tanpa harus melakukan scan berulang untuk satu halaman. Aku tanya.. mengapa alat itu tidak digunakan. Ibu itu menjawab, bahwa sudah dua tahun alat itu di situ tanpa komputer. Jadi tidak berfungsi. Wow!

image1628lantai8.jpg

Aku tidak ‘komplain’.. hari itu aku terbantu oleh Perpusnas, mendapatkan cukup materi yang aku harapkan.

Lain kali aku akan coba ke lantai empat. Konon di lantai itu media cetak dapat diakses denganĀ  format microfische.

This Post Has 2 Comments

  1. Makasih ric, keren…!
    hiks, saya tidak diajak.

  2. hihi..
    besok2 kita bareng laa..
    kemarin itu dadakan.. hihi

Leave a Reply

Close Menu