Performance Art

1996_mula Desember _Edisi 058_seni:
Performance Art

Satu bentuk perluasan media ekspresi seni
Peralihan bentuk “performance” kedalam wilayah seni rupa merupakan sebuah cara untuk memperluas media ekspresi seni yang biasanya hanya dilakukan melalui dua tau tiga dimensi. Sejarah bentuk performance di abad 20 juga merupakan sejarah para perupa yang tidak tunduk pada pembatasan-pembatasan dalam dunia seni yang telah mapan. Hingga, salah satu ciri dari karya performance adalah saratnya muatan anarki. Tindak distorsi dalam wilayah seni rupa santer sejak tahun 1913-an dengan tokoh perupa terkenal, Marchel Duchamp (1913) yang karyanya selalu mencari makna baru dari makna denotative sebuah benda. Lalu distorsi ini semakin menemukan bentuknya melalui gerakan dadaisme (1919) yang konsepnya adalah menolak estetika (non estetika), destruktif. Kemudian pada tahun 1950, gerakan neo dada dengan tokoh Robert Ruchnberg semakin menggeser kejenuhan pada media 2 dimensi. Di tahun 1960-70’an kebosanan terhadap karya seni di museum dan galeri semakin akut, sehingga bentuk performance yang menggunakan tubuh perupa sendiri sebagai media ekspresi menjadi pilihan ekspresi. Tentunya bentuk ini tak bisa dimuseumkan dan dijual belikan.

Performance sendiri baru pada tahun 1970’an, diterima sebagai medium ekspresi artistik. Keberadaanya tidak bisa dipisahkan dengan munculnya genre conceptual art yang menekan konsep atau ide pada sebuah karya seni, dan biasanya tak dapat diperjual belikan. Performance seringkali menjadi bentuk eksekusi para perupa ‘conceptual art”. Setiap manifesto performance merupakan ekspresi dari kelompok penaganan yang selalu berusaha mencari arti seni dalam pengalaman sehari-hari. Oleh karena itu, performance biasanya menarik publik secara langsung, misalnya membuat kejutan pada penonton denagn mengacaukan gagasan tentang seni yang telah terlanjur menempel di kepala publik.

Bentuk performance ingin melebur keterasingan jarak antara perupa dan publik, sehingga diharapkan proses seni dapat dirasakan oleh kedua pihak secara langsung. Dalam penerapannya, karya performance biasanya melibatkan dan mengkombinasikan berbagai media dari disiplin lain seperti hiteratur, puisi, teater, musik, seni rupa, video film, slide dan naratif. Berbeda dengan happening art yang sifatnya lebih “tiba-tiba”, tidak terencana, performance merupakan tampilan secara total yang juga mempunyai alur, perhitungan durasi dan ruang. Hanya, tampilannya bisa dilakukan dimana pun, misalnya di café, jalan raya, trotoar, dll. Menurut pengamat seni rupa Yogyakarta, Dei Marianto, performance yang baik dapat terasa ketika pelaku menjalankannya dengan totalitas penuh dan terdapat kejernihan hubungan anatara konsep dan karya performance.

Sumber:
1. Wawancara dengan M. Dwi Marianto, MFA
2. Roselee Glodberg, “Performance Art” : From Futurism to Present”. World of Art : 1988.

Leave a Reply

Close Menu