Perburuan Paus

2001_Juni_Edisi 125_Lingkungan:
Perburuan Paus
Rohman Yuliawan

Libasan industri di tengah samudera

Populasi paus di seluruh dunia pernah mencapai 2 juta ekor sebelum dimulainya era perburuan komersial di abad ke-17 untuk mencukupi kebutuhan industri. Meski belum ada angka pasti, diperkirakan sekitar 30.000 ekor paus ditangkap setiap tahunnya. Kecaman sudah sering dilayangkan, tapi nasib paus belum juga beranjak dari ambang kepunahan.

Pada tahun 1610, English Muscovy Company menjadi perusahaan pertama yang melakukan perburuan paus secara komersial di kawasan Kutub Utara. Tidak sampai seabad kemudian dimulailah gelombang perburuan paus secara besar-besaran yang melibatkan ratusan armada pemburu dari berbagai negara. Ketika kapal bermesin mulai digunakan, harpun (jempuling) berhulu ledak ditembakkan dengan meriam dan pabrik pengolahan blubber (lemak paus)dengan trywork (ketel besi untuk memasakblubber menjadi minyak) dipindahkan ke atas kapal besar, lemgkaplah sudah ketidakberdayaan raksasa laut ini menghadapi manusia.

Diburu daging dan lemaknya
Semenjak 3000 tahun silam, bangsa Makah di benua Amerika telah mengenal perburuan paus yang dilakukan secara tradisional. Perburuan serupa juga dilakukan oleh bangsa Spanyol, Norwegia, Jepang, Eskimo dan Indonesia. Dengan kapal layar dan peralatan berburu sederhana, mereka memburu paus terutama untuk memperoleh dagingnya sebagai bahan makanan. Sementara itu perburuan komersial, yang dimulai diparuh awal abad ke-17, lebih mengincar lapisan lemak paus (blubber) yang menjadi bahan pembuatan bahan bakar, pelumas, parfum dan produk lain yang bernilai tinggi. Meskipun identitasnya perburuan paus sempat mengendur dengan ditemukannya sumber minyak pertama di Pennsylvania, AS di tahun 1859, tapi sampai tahun 1940-an masih sekitar 30.000 ekor paus dibantai setiap tahunnya.

Bayang-bayang kepunahan beberapa jenis paus mendorong negara-negara yang terlibat perburuan paus secara komersial mendirikan Interntional Whaling Company (IWC) di tahun 1946 untuk membatasi tingkat perburuan paus diseluruh dunia. Namun lembaga ini agaknya tidak bergigi, buktinya dalam rentang sepuluh tahun saja, dari tahun 1957-1967, setiap tahun hampir 15.000 paus biru dan paus sirip memasrahkan nyawanya di tangan para pemburu. Kini populasi paus biru diperkirakan tinggal 400-1300 ekor dan paus sirip hanya tinggal sekitar 4000 ekor saja di seluruh dunia.

Menyikapi perburuan paus yang masih terus berlangsung, pada tahun 1982, tigapuluh delapan negara anggota IWC melakukan pemungutan suara untuk moratorium wahlling penghentian perburuan paus sementara) yang diberlakukan tiga tahun kemudian di tahun 1985. Namun Jepang dan Norwegia menolak kesepakatan tersebut dengan embel-embel “tujuan ilmiah”. Tahun lalu, Norwegia masih bisa menangguk devisa setara ASS 5,5 juta dari hasil penjualan daging dan blubber ke Jepang. Pemburu paus Jepang di tahun 1998 diperkirakan berhasil menjual 1700 ton daging paus senilai 9 milyar, yen. Dengan hasil yang demikian menggiurkan, tak heran jika kedua negara tersebut terus berupaya mengakhiri larangan perburuan oleh IWC. Keserakahan manusia lain menuju kepunahan, kali ini mungkin tiba giliran baginya.

Leave a Reply

Close Menu