Penyu Hijau itu Jadi Santapan!

1999_Desember_Edisi 106_lingkungan:
Penyu Hijau itu Jadi Santapan!
WWF

Penyu hijau (Chelonia mydas), di banyak tempat merupakan hidangan istimewa. Wajar saja harga binatang laut yang dulu mudah ditemui pantai-pantai Bali ini bertarip tinggi. Bukan dagingnya saja yang dikonsumsi, telurnya pun dicari. Ratusan ribu telur penyu diambil dari tempat-tempat bersarang alami di Kepulauan Anabar, Pantai Terupa Flores Barat, Kepulauan Aru-maluku Tenggara, Pantai Matasari di tenggara Kalimantan, Pantai Bengkulu, juga Pantai-pantai Sambas Paloh.

Laporan IUCN (Internasional Union for Conservation of nature Resource) menyebutkan, sedikitnya 25.000 ekor penyu setiap tahunnya dibantai di Indonesia. Sedangkan Greenpeace mencatat, tahun 1969-1989 rata-rata 17.889 ekor penyu di bongkar di Pulau Serangan dan Tanjung Benoa, Bali. Penyu-penyu ini selain menjadi santapan juga diekspor tempurungnya ke Hongkong, Korea, Jepang, Taiwan dan Singapura.

Indonesia sebagai negara yang menandatangani CITES (Convention on International Trade In Endangered Species of Wild Flora and Fauna) selayaknya Indonesia memperhatikan pelestarian penyu-penyu tersebut. Apalagi semua penyu yang ada didunia saat ini terdaftar dalam Appendix 1 CITES yang berarti binatang-binatang atau yan dihasilkannya seperti telur dan tempurungnya tidak boleh diperdagangkan.

Dengan telah terbentuknya kementrian Explorasi Kelautan di cabinet Persatuan Nasional seperti sekarang, selayaknya perlindungan penyu juga menjadi perhatian. Tanpa itu kekayaan hayati Indonesia tidak berarti apa-apa jika terus berkurang.

Leave a Reply

Close Menu