Penundukan Ba-ha-sa

1998_September_Edisi 094_peduli:
Penundukan Ba-ha-sa

Ada suatu cerita menarik tentang bagaimana bahasa bisa membuat orang stress. Ini terjadi pada teman dari daearah Banyumas yang tinggal di Yogyakarta. Sudah menjadi sebuah stereotip masyarakat Jawa yang hidup di pusat kerajaan seperti Yogyakarta atau Surakarta, bahwa dialek Jawa Banyumas adalah Jawa kasar, ngapak-ngapak, yang menjadi bahan tertawaan dan diremehkan. Meghadapi pelanggaran hak asasi di tingkat bahasa ini, teman tadi akhirnya berusaha keras menghilangkan dialek Banyumasannya dan berusaha mengikuti tataran Jawa harus yang adiluhung. Gunawan Mohammad mengatakan bahwa mereka inilah yang bahasa ibunya telah dibikin gagap oleh konstruksi sejarah dengan legilitimasi dominasi kebudayaan tertentu. Hal ini yang sama pula terjadi pada masyarakat etnis tionghoa, ketika mereka harus menghilangkan identitasnya dengan mengubah nama agar berbau Indonesia.

Pendudukan bahasa juga bisa terjadi secara kasar lewat cara penjarahan kata yang dimainkan oleh berbagai pihak dengan kepentingan kekuasaan. Misalnya kata “reformasi” yang dimunculkan oleh mahasiswa telah dipakai pula oleh pihak yang seharusnya direformasi, sehingga kata itu mejadi lumpuh tanpa kedalaman makna sesungguhnya. Ketika masyarkat berbicara antikorupsi, pihak-pihak yang ada dalam komunitas pelaku korupsi ikut-ikutan memakai kata anti korupsi. Makna bahasa menjadi rancu, dan masyarkat menjadi bingung dan berusaha menciptakan istilah-istilah baru yang bisa memelihara makna sebenarnya. Terlambat sedikit, bahasa mereka sudah menjadi milik orang lain dengan makna lain.

Yang mengenaskan, penundukan masyarakat lewat bahasa ini biasanya tidak didasari dan tiba-tiba muncul secara otomatis dalam sebuah kepatuhan, ketakutan absurd. Agaknya banyak juga masyarkat yang sadar, misalnya sebagai salah satu bentuk perlawanan, ada seorang sastrawan Aljazair yang tidak mau menulis dalam bahasa Perancis. Dalam kehidupan sehari-hari muncul pula kepekaan terhadap dominasi budaya tertentu lewat bahasa. Hal yang muncul pernah terjadi di suatu kafe di Yogyakata, orang Amerika berbahasa Inggris dengan seorang Jerman. Kemudian orang Jerman tersebut menjawabnya dengan bahasa Jerman. Selain itu, terjadi pula kegesitan menciptakan bahasa baru biasanya pada kelompok paling marjinal di masyarakat, seperti kaum gay, anak jalanan. Mereka sangat kreatif memproduksi bahasa baru untuk menjaga solidaritas di tengah kekejaman sosial lewat cap-cap negatif terhadap kelompok marjinal.

Sumber:
Latif, Yudi, & Ibrahim, Subandy ldi, Bahasa dan Kekuasaan, Mizan:1996

Leave a Reply

Close Menu