Pengembalian 4 Orang Utan dari Osaka Jepang

2000_Maret_Edisi 110_bahas:
Pengembalian 4 Orang Utan dari Osaka Jepang
Kerabat WWF

Pada tanggal 4 Februari 2000 yang baru lalu telah dikembalikan 4 ekor orang utan dari Osaka Jepang kepada pihak Indoneisa, yang diwakili oleh Yayasan WWF Indonesia. Orang utan tersebut disita dari sebuah pet shop bernama Wanwan Land di Osaka, Jepang. Dari Jepang orang utan tersebut diterbangkan ke Jakarta untuk selanjutnya dikembalikan ke habitat asalnya di Kalimantan Timur.

Berdasarkan laporan dari sumber yang dapat dipercaya, proses penyelundupan orang utan tersebut terjadi pada awal tahun 1999 melalui bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali dengan tujuan pengiriman ke Osaka Jepang. Disinyalir penyelundupan tersebut melibatkan staf lokal salah satu perusahaan penerbangan Indonesia. Di Jepang sendiri para kolektor sudah menjalani proses hukum di pengadilan setempat atas perbuatannya dimana mereka mendapat ganjaran denda sebesar U$ 5.000,- untuk tiap ekor orang utan.

Sebenarnya terdapat 7 ekor orang utan selundupan yang akan dikembalikan tetapi 3 diantaranya masih mengalami gangguan kesehatabn sehingga baru 4 ekor yang siap unutk dikembalikan ke habitatnya, setelah menjalani proses karantina di Wanariset Semboja di Kalimantan Timur.
Proses pengembalian orang utan tersebut diprakarsai bersama antara Kedaulatan Besar Indonesia di Jepang, Departemen Kehutanan dan Perkebunan, Yayasan Balikpapan Orangutan Society (BOS), Wanariset Semboja dan didukung sepenuhnya oleh WWF Indonesia dan WWF Jepang.

WWF Indonesia juga mengupayakan diajukannnya tuntutan hukum kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap terjadinya penyelundupan, dengan berpegang pada Undang-undang No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekonomi, dan didukung pula oleh PP No. 7/1999 dan No. 8/1999 tentang perlindungan kehidupan liar dan penggunaannya.

Dalam peristiwa langka tersebut penyanyi cilik Sherina turut serta mendampingi perjalanan orang utan dari Jepang menuju Jakarta, sebagai symbol kepedulian anggota masyarakat terhadap lingkungan.
Dan tim ahli yang terdiri dari Dr. Willie Smith, Aschita Nita Boestani, Mse. Dan Drh. Citra juga turut mengantar rombongan orang utan tersebut dari Bandara Soekarno-Hatta Airport menuju Bandara Sepinggan – Balikpapan untuk selanjutnya menuju ke Wanariset Semboja.

Semoga peristiwa ini menjadi contoh yang dapat diteladani oleh pihak-pihak lain untuk ikut serta menjaga dan mencegah terjadinya kepunahan hewan-hewan langka di muka bumi.

Sekilas Tentang Orang Utan
Orang utan hanya dapat ditemukan di Kalimantan dan Sumatera, termasuk hewan yang terancam kehidupan di alam. Diperkirakan oleh Rijksen dan Meijand total populasi di tahun 1996, di Sumatera hanya sekitar 12.770 individu dan di Kalimantan tersisa 23.133 individu orang utan. Degradasi, hilangnya habitat dan perburuan merupakan ancaman paling besar terhadap spesies ini.

Musim kemarau panjang dan kebakaran hutan di Indonesia, seperti di tahun 1997-1998 baru-baru ini yang telah menghancurkan ratusan ribu hektar hutan di Kalimantan dan Sumatera mengakibatkan pula hilangnya populasi orangutan dan habitat mereka baik langsung maupun tidak langsung.

Orangutan merupakan primate yang menghabiskan sebagian besar waktunya diatas pohon (arboreal), berbadan besar dan memiliki perbedaan fisik yang jelas antara jantan dan betina. Orang utan memakan buah-buahan, daun muda, biji-bijian, amdu , jamur dan serangga. Pada situasi yang sangat jarang dapat pula memakan daging binatang. Pada saat sedikit jumlah makanan yang tersedia di hutan, orangutan menguliti kulit kayu untuk mengambil kambiumnya yang akhirnya akan membuat pohon menjadi mati.

Penyebaran habitat orangutan terutama di temukan dataran rendah, seperti dataran yang berada di pinggiran daerah air tawar (misalnya daerah banjir, sungai, rawa atau lembah alluvial dan perbatasan daerah dataran tinggi kering (biasanya kaki bukit).

Orang utan dapat ditemukan di tiga propinsi di Kalimantan dan juga di Malaysia seperti di propinsi Sabah dan Serawak. Tapi mereka tidak menyebar secara merata di daerah ini (misalnya, terdapat kekosongan yang besar di Kalimantan Timur). Tidak ada orangutan di Brunei Darussalam. Di Sumatera, orangutan terutama terdapat di wilayah tengah utara.

Beberapa penyebab batasnya didistribusi orangutan diperkirakan masalah gizi, tersedianya mineral-mineral tanah dan penyakit seperti malaria yang menyababkan pola penyebaran orang utan menjadi terpisah-pisah. Begitu pula dengan adanya keterbatasan ketinggian dimana orangutan pada ketinggian antara 500 meter hingga 1500 meter kapadatannya berkurang dimana tersedianya makanan seperti buah-buahan menurun tajam bersama semakin tingginya suatu tempat.
Taxonomi para ahli taxonomi setuju bahwa terdapat perbedaan yang pasti dari morfologi dan genetik antara orangutan Kalimantan dan orangutan Sumatera. Dan subspecies yang dikenal dalam literature adalah : Pongo pygemacus dan pongo pygmacus abelli. Hal ini didukung dengan bukti-bukti morfologi yang ada. Perbedaan yang jelas dalam mat DNA alloeymes dan pembalikan kromosom menunjukkan pemisahan yang lebih panjang antar kedua populasi dengan setiap pulau memiliki jumlah variasi genetik dan potensi evolusioner yang berbeda. Mereka juga menunjukkan perbedaan susunan gen hasil adaptasi terhadap masing-masing hidup mereka yang akan menjadi terganggu bila digabungkan. Terpecah-pecahnya populasi dapat pula menimbulkan masalah depresi perkawinan keluarga di masa depan.

Ancaman-ancaman
Ancaman utama terhadap kelangsungan orangutan adalah kehilangan orangutan betina dewasa karena perburuan oleh manusia, hilangnya dan terpecahnya habitat (Tihoe, et al, 1993). Perburuan liar nuntuk mencari makan dan olah raga, atau usaha untuk mendapatkan bayi orangutan yang akan diperdagangakan membuat bertambah besarnya resiko bagi kelangsungan hidup orangutan betina dewasa.

Kehilangan akibat perburuan atau perdagangan hewan peliharaan diperkirakan cukup besar. Di Taiwan saja tercatat 283 ekor orangutan yang tertangkap; perkiraan ini kemungkinan lebih kecil dari keadaan sebenarnya (Leiman dan Gahaffar, 1996).

Laporan terbaru di surat kabar menunjukkan adanya peningkatan perburuan, hal itu disebabkan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Hilangnya habitat yang disebabkan oleh kebakaran hutan menambah persoalan, meningkatnya kontak antara hewan-hewan tersebut dengan manusia. Orangutan juga pernah diperjual belikan melalui iklan di surat kabar.

Leave a Reply

Close Menu