Pemenang hadiah NOBEL, berbicara tentang : Sekolah

1998_Mei_Edisi 090_peduli:
Pemenang hadiah NOBEL, berbicara tentang : Sekolah

Albert Eisntein [1879-1955]
Pemenang nobel fisika tahun 1921 “Waktu bekerja saya lebih banyak dihabiskan di laboratorium fisika. Sebagai penyeimbang, saya pergunakan waktu di rumah untuk mempelajari karya Kirchoff, Helmhotz, Hertz. Dalam belajar saya selalu mencari inti sebuah peajaran, lalu mencoba merubah esensinya. Disinilah terjadi bentrokan, tentu saja, karena kenyataannya mereka menjejalkan seluruh materi ke kepala orang untuk ujian, tak peduli apakah murid suka atau tidak. Sebenarnya metode pendidikan modern belum memberikan tempat bagi eksperimen”.

Rabindranath Tagore [1861-1941]
Sastrawan India pertama yang memenangakan hadiah nobel di bidang sastra pada tahun 1913. “Sekolah seperti sebuah pabrik yang dirancang khusus untuk memproduksi manusia yang seragam. Ketika saya masuk ke bangku sekolah, saya sadar bahwa saya bukan ciptaan kepala sekolah – bahkan saat saya lahir ke dunia. Tapi mengapa mereka harus memperlakukan murid penuh dendam. Melalui sekolah, saya sadar bahwa saya bukan ciptan kepala sekolah-bahkan saat saya lahir ke dunia. Tapi mengapa mereka harus memperlakukan murid penuh dendam. Melalui sekolah, pikiran saya telah disempitkan, seperti seorang wanita cina yang harus mengecilkan ukuran kakinya sepanjang hidupnya. Saya termasuk orang beruntung yang dapat melepaskan diri sebelum terperangkap dalam system sekolah” Ketika saya memulai hidup sebagai penyair, banyak para sastrawan dari komunitas akademis yang mengambil inspirasi karyanya dari bahan literature Inggris. Saya sangat beruntung karena tidak pernah masuk dalam pendidikan sekolah seperti anak-anak dari keluarga terhormat. Memang tidak bisa dikatakan bahwa saya terbebas dari pengaruh menguasai pemikiran anak muda di masa itu, tapi tulisan saya terselamatkan dari bentuk-bentuk tiruan.

George Bernard Shaw [1856-1950], Dublin
Pemenang nobel sastra di tahun 1925 *….Bagi saya, sekolah adalah sebuah penjara, bahkan perlakuannya bisa lebih kasar daripada seorang narapidana. Dalam penjara, kita tidak ditekan untuk membaca buku yang ditulis kepala penjara dan dipukul seandainya kamu tidak bisa ingat isinya. Di penjara kamu tidak ditekan untuk duduk sambil mendengarkan omongan yang tidak kamu sukai dan mengerti. Di penjara, tubuh kamu mungkin disiksa, tapi mereka tidak menyiksa otak. Buku sekolah telah menekan kita untuk membaca sesuatu yang tidak kita senangi dan sebenarnya kita tidak belajar apapun dari itu semua”.

Sigrid Undset [1882-1949]
Pemenang hadiah nobel tahun 1928 untuk bidang sastra. “Saya sangat membenci sekolah yang telah mencampuri kebebasan saya. Selama di kelas, saya menghindari mata pelajaran dengan mengembangkan teknik-teknik melamun”

Winston Churchill [1874-1965]
Pemenang hadiah nobel di bidang literature. Dalam bukunya “my early life, 1930”, Winston Churchill mengungkapkan hari-hari pertama ketika ia memasuki bangku sekolah. Dalam *… memasuki usia 7 tahun, saya harus pergi ke sekolah dan harus pula pergi jauh dari rumah selama berminggu-minggu untuk belajar dari seorang guru. Tadinya saya berpikir, akan sangat indah jika bisa hidup dan berpetualang bersama anak-anak sebaya. Saya pun dibekali sebuah pemikiran bahwa hari-hari sekolah merupakan saat paling menyenangkan dalam kehidupan manusia. Setelah mengalami sendiri, ternyata begitu banyak hal yang membuat saya tidak menyukai sekolah. Betapa hidup menjadi sangat membingungkan selama 2 tahun pertama di sekolah. Saya harus menghitung hari dan jam menunggu segalanya berakhir. Yang paling indah bagi saya adalah saat membaca buku “Treasure Island” pemberian Ayah. Guru langsung mengamati saya di belakang, ia pun langsung berusaha memaksa saya membuang buku itu. Menurutnya buku itu tidak sesuai untuk anak seumur saya. Tapi saya masih tetap keras kepala menghadapinya. Akhirnya saya memahami bahwa saya tidak bisa belajar selama segala imajinasi dan alasan saya tidak sesuai dengan guru”.

Sumber: Ensiklopedi Nasional Indonesia (Cipta Adi Pustaka, Jakarta, 1990). Kota Yogyakarta 200 tahun. Microfilm Surat Kabar Perpustakaan Nasional. Soloeh Peladjar dan Tjahaja Timoer. Ensiklopedi Indonesia edisi Khusus Vol. 4. Rethinking Schools, Volume 11, No. 4: Summer 1997. Wawancara dengan Prof. DR. RM. Wisnoe Wardhana pada tanggal 5 Mei 1998 di Padhepokan Puser Widya Nusantara Jawa Suryadiningratan MJ II/837 Yogyakarta (0274-372363). My Early Life (1988 reorint), pages 8-9, 12-13. Ivan Illich, Deschoolling Society (1971) (In saying “we.” Illich is referring to his fellow teacher, Everett Reimer, author of School is Dead (1974)]. “Autobiographical Notes,” in Albert Einstein : Philosopher:Scientist, Apul Schilpp, ed. (1951), pp 17-19© 1951 by the Library of Living Philosophers, Inc. “School is dead, Learning in freedom” bya Karl M. Bunday, P.O. Box 33  Excelsior, MN 55331-0337. “A Treatise on Parents and Children,” preface to Misalliance (1909), reprinted in Bernard Shaw, Collected Plays with Their Prefaces, volume IV (1972), page 35. Twentieth Century Authors, Kunitz and Haycraft, editor (1942). Page 1432.200 tahun Kota Yogyakarta

Leave a Reply

Close Menu