Pasaquan=seni publik unik

1998_Juli_Edisi 092_bahas:
Pasaquan=seni publik unik

Salah satu bentuk seni publik yang juga unik adalah karya-karya dari orang eksentrik. Mereka biasanya tidak mempunyai pendidikan akademis seni, tapi mengerjakan “seni” untuk komuniti, agama maupun kepuasan dirinya sendiri dan kerap disebut dengan istilah “outsider art”. Seorang pencipta seni publik kondang adalah Eddie Owens Martin [St.EOM], peramal ulung yang membuat warna-warni bentuk ornamen di wilayahnya. Antara tahun 1957-1986, Ia telah melukis segala atap, pagar, pintu, jendela sehingga menjadi tampilan yang sangat menarik di kawasan tanah keluarganya, di pedesaan Georgia Buena Vista. Kawasan itu sendiri kini dilindungi oleh The Pasaquan Preservation Society karya spektakulernya merupakan refleksi dari simbol-simbol kepercayaan di Afrika, Guatemala dan juga legenda dari benua Atlantis dan Mu. Martin member sebutan bagi wilayahnya “pasaquan” yang berarti bimbingan roh. Pass berasal dari bahasa spanyol dan quoyan merupakan bahasa oriental yang berarti membawa masa lalu dan masa kini mejadi satu.Maksudnya ia hendak memindahkan kebijaksanaan masa lalu ke masa depan, St. EOM memang sosok yang sering mengembara keberbagai negara – dimana ia belajar mengenal macam-macam bentuk kehidupan.

Di Indonesia sendiri, desain perkotaan (urban design) baru memperhatikan persoalan revitalisasi kota tua, sementara bentuk seni publik belum diberikan porsi dalam rancangan kota. Seni publik di berbagai kota di Indonesia biasanya digagas oleh para seniman atau masyarakat setempat. Salah satu yang paling terasa adalah pulau Bali, dimana ornamen di pura bisa dikatakan seni publik yang cair bersama tradisi dan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Seni publik yang digagas oleh seniman pernah terjadi di Yogyakarta yang terkenal sebagai Kota Seni. Di awal bulan Juli lalu, beberapa mahasiswa ISI meletakkan karya patung di depan Gedung Agung; atau sebuah patung putih wanita yang sedang membawa padi berdiri megah di pusat kota. Tidak hanya patung, mural-seni publik juga diekpresikan dalam bentuk pertunjukan. Seperti yang dilakukan oleh perupa Mella Jaarsma yang telah menarik perhatian publik di trotoar Gedung Agung Malioboro, Pertunjukan ini dimainkan oleh sejumlah warga asing yang tinggal di Yogyakarta-dimana mereka bersama-sama memasak swikee yang kemudian diberikan kepada publik yang berkerubung.

Tak bisa dipungkiri, sebuah sentuhan seni dalam kota akan menyentuh warga kotanya meredam emosinya. Seperti yang dikatakan oleh seorang arsitek Perancis Le Corbusier di tahun 1927, “kamu mewujudkan batu dan kayu itu menjadi konstruksi yang menyentuh perasaan saya-membuat saya bahagia karena keindahannya. Inilah kota, ketika seni bersatu di dalamnya”.

Diberbagai negara maju, seni publik telah berkembang menjadi elemen penting dalam lingkungan sehari-hari warganya. Simbol-simbol dalam ruang seni publik menjadi penting, karena merefleksikan kondisi sosial politik masyarakatnya, dan juga ajang eksplorasi teori mengenai ruang. Disamping itu, dari segi ekonomi seni publik dikembangkan sebagai citra sebuah kota yang bisa dijadikan komoditi pariwisata. Sejak tahun 1980-an, kota-kota di Inggris telah mengkampanyekan potensi kotanya dengan mengeksploarasi strategi seni di ruang-ruang kota. Hal ini bisa terlihat dari munculnya berbagai proyek seni publik yang bernama “Glasgow’s Milles Better”, “Sheffiekd, Hallmark for the Future”, “Birmingham, the Big Heart of England”. Penggarapan seni publik di negara maju biasanya dilakukan oleh swasta yang bekerjasama dengan pemerintah, lembaga-lembaga seni dan para seniman.

Visual ART League [VAL]
Seni publik tidak selalu digagas oleh sebuah agen swasta atau pemerintah setempat, namun seringkali dimotori oleh para senimannya sebagai ajang ekspresi seni yang biasanya tidak terikat pada tujuan-tujuan komersial.

Di East Brunswick, New Jersey, Amerika, para seniman yang tergabung dalam Visual Art League [lembaga seni nirlaba] kerap menggagas ide-ide seni publik di kotanya. Misi utama mereka adalah menjembatani karya seni dengan publik dimana kesenian bisa diantarkan pada masyarakat dengan cara yang spontan dan menyenangkan. Berbagai program menarik telah dilakukan oleh VAL, misalnya membuat mural; melibatkan anak-anak sekolah untuk membuat karya yang nantinya akan dipamerkan melalui internet dan lain-lain.

Visual Art League dimotori oleh Judith Wray-seniman dari New Jersey-yang pada awalnya mengalami kesulitan, oleh karena banyak orang yang tidak merespon misi VAL. Nama Visual Art League akhirnya mulai diperhatikan orang ketika mereka meletakkan karya seni di sebuah rumah sakit perawatan pasien HIV. Brodway House. Karya itu sendiri merupakan karya foto seseorang bernama John yang kehilangan kedua orangtuanya karena virus HIV. Setelah itu, VAL mulai bergerak membuat mural botol-99 Bottles of Oil Vinagrette on the Wall-di tembok bangunan American Harvest, di Arthur St dn Route 18 East Brunswick, American Harvest menyediakan berbagai jenis makanan khas dari kota New Jersey. Para seniman lokal dan negara bagian lain bisa berpartisipasi membuat mural di tembok itu. Mulanya tembok digambar dengan pelbagai gambar buah-buahan, sayur-sayuran. Kemudian dibagian tembok lainnya dipasang sejumlah lukisan botol yang terbuat dari kayu/papan setinggi 2 meter. Lukisan botol itu akan dilapisi dengan cat pelindung sinar matahari sehingga warnanya tidak pudar. Selain mural botol, Visual Art League pun bekerja sama dnegan sebuah toko sepatu untuk membuat mural bergambar macam-macam sepatu di tembok toko. Dan yang lebih menarik, Visual Art League membuka dirinya bagi para seniman di berbagai belahan dunia untuk terlibat dalam proyek-proyek seni publik di New Jersey.

Leave a Reply

Close Menu