Pameran Semsar Siahaan

1998_April_Edisi 089_peduli:
Pameran Semsar Siahaan

Semsar Siahaan, “The Eco Seeds Action”

Sungguh tidak mudah memiliki kiat sadar memelihara lingkungan sekitar. Dari yang paling sederhana saja-yaitu memilah sampah organik dan nonorganik sudah membutuhkan kedisiplinan yang tidak main-main. Oleh karena itu ada hal paling esensi yang bukan sekedar diketahui, tapi harus dihayati setiap orang-mencintai alamnya.

Semsar Siahaan,dalam pamerannya selama bulan maret di Yogyakarta, menggelar karya seukuran 20 meter yang berjudul The Eco Seeds Action. Melalui tema ini, ia ingin mengajak masyarakat untuk belajar mencintai alamnya-yang menurutnya merupakan keputusan ekstrim yang harus dilakukan setiap orang untuk menyelamatkan bumi ini.

Tema ini diangkat dari kebiasaanya menebarkan benih bunga, buah-buahan dana tanaman lainnya. Lalu ia pun melihat benih itu tumbuh hingga menjadi sebuah kehidupan yang mandiri yang spesifik yang saling memberi kelangsungan hidup alam sekitarnya. Selama bertahun-tahun, Semsar Siahaan tidak pernah bosan mengamati dan mengagumi proses alam yang memiliki kesederhanaan sekaligus kearifannya.

Namun dalam karyanya ia tidak romantis menggambarkan keindahan alam, justru dengan keras ia mengecam kerusakan alam berikut kehancurannya melalui rangkaian simbol, antara lain simbol wanita sebagai wakil kesuburan alam. Simbol ini diungkapkannya dengan ekspresi wanita yang larut akan kebahagiaan sekaligus luka saat pertumbuhan benihnya dihancurkan oleh kekuasaan manusia. Selain wanita, dihadirkannya pula sosok-sosok pemilik kekayaan yang sangat berkuasa untuk menghabisi sumber daya alam dan juga melahirkan ketidak seimbangan kehidupan sosial. Juga disertakan ekspresi kesakitan manusia akibat hancurnya tanah, air, udara. Keseluruhan karya ini termakan oleh konteks waktu, karena prinsip merupakan hal yang paling esensi di segala bidang kehidupan.

Segala kerusakan moral, kekuasaan dan fatalnya nasib lingkungan hidup yang semakin mengerikan di negeri ini, disikapinya melalui sebuah ajakan untuk kembali belajar dari proses pertumbuhan sebuah benih. Apakah ini sebuah keputusan terlambat, karena saat ini hutan kita semakin habis terbakar, kekurangan pangan sudah mencapai titik klimaksnya, dan kini berbagai sisi kehidupan seakan menemui jalan buntu? “Karya ini tidak terlambat, bahkan bagi saya merupakan upaya untuk mencari jalan keluar dari kondisi terburuk negeri ini. Sama halnya seperti petani yang saat ini semakin sudah hidupnya, toh mereka tetap berupaya memecahkan persoalannya dengan jalan apapun”, ujarnya.

Leave a Reply

Close Menu