Pameran Lukisan

2000_Januari_Edisi 108_lintas:
Pameran Lukisan
Ade Tanesia

Pameran Lukisan
Yerry Padang
16/01/2000-22/01/2000
Taman Budaya Prop. DIY,
Bulak Sumur, Yogyakarta

Karya-karya lukisan Yerry Padang berangkat dari kepingan pengalaman pribadinya. Salah satu tema yang paling menonjol adalah persoalan pengkotak-kotakan enik, konflik orang tua – anak, kegetiran perempuan. Adalah kenyataan yang tak bisa disangkal bahwa dalam diri Yerry mengalir darah Toraja dan Tionghoa. Ia hidup dalam dua latar belakang kebudayaan yang perbedaannya menjadi lebih tajam setelah terjadinya perpecahan. Pengalaman sakit menghadapi perpecahan pengalaman melihat seorang ibu yang disia-siakan pengalaman tertekan sebagai bagian dari etnik minoritas – merupakan kepingan pengalaman yang dirasakan betul dalam ruang-ruang pribadinya. Tema-tema kekerasan sosial politik yang muncul dalam karya-karya lukis Yerry bukanlah sekedar ingin mengecap “kemewahan wacana” yang kini sedang menjadi marak dalam dunia seni rupa, namun wacana ini telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Karyanya yang berjudul “kisah kelahiran,” 91997). Lahir dari kesamaan pengalaman antara dirinya dengan ribuan anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. “Di Bawah Kaki Besar” (1998) merupakan empatinya yang sangat besar terhadap perasaan seluruh wanita yang ditindas, oleh karena rasa yang sama itu pula telah dialami ibunya lebih dahulu. Jika dalam karyanya “Tragedi Kuning,” ia menggambarkan pembakaran-pembakaran yang ditujukan terhadap masyarakat Tiong Hoa, hal itu bukan sekedar terhadap masyarakat Tiong Hoa, hal itu bukan sekedar reportase kerusuhan Mei, tapi juga luapan kesedihan, kemarahan dan ketakutannya saebagai anak berdarah Tiong Hoa yang juga membawa tubuh bercirikan etnis tersebut,. Berbagai hantaman semacam ini kadang menimbulkan pertanyaan dalam dirinya… “Saya kadang merasa kabur, siapa saya? Tapi saya mencoba mengambil hal yang baik dari komunitas Ibu, seperti disiplin, ulet. Sebaliknya saya juga mengambil hal terbaik dari budaya Toraja,” jelasnya.

Nampakanya Yerry bukanlah tipe orang yang membiarkan kegamangan itu terus berlangsung. Ia cukup berpikir keras untuk memperoleh kepastian identitasnya. Pada seni Toraja mulai tumbuh. Hal ini dirasanya sangat cocok dengan bakat menulis yang ada dalam dirinya. “Waktu SMA, kami diajarkan tentang bentuk dan makna patung Toraja. Dan saat itu saya senang sekali dengan budaya Toraja,”. Hampir seluruh karyanya mengambil simbol-simbol khas Toraja yang kemudian mengalami goresan ekspresif yang cenderung chaos. Kecintaan Yerry pada budaya Toraja semakin kental ketika ia mulai sering bergaul dengan komunitas di kampung ayahnya. “Saya bangga dengan budaya Toraja dan menjadi orang Toraja, sepertinya saya lebih cocok. Itu saya rasakan sejak berada di Jawa, “tegasny. Pada tahapan ini, Yerry memperoleh identitasnya dalam budaya Toraja, sehingga ia sangat bersemangat untuk mengembangkannya. Pengotakan etnik yang dirasakannya dalam keluarga sebagai lembaga inti masyarakat, telah mengakibatkan ketidak senangnya pada pandangan-pandangan yang mengkotakkan. Baginya menjadi orang Indonesia adalah sebuah identitas yang sangat nyaman, walaupun ia tetap memilih Toraja sebagai akar keberadaannya. Akhirnya, lukisan-lukisan Yerry merupakan muatan cerita dan rasa tentang keterpecahan dalam keluarga, juga dalam masyarakat. Dan dirinya kini sedang merajut identitas dirinya. Baginya, seni lukis adalah media yang sangat membantu dirinya unutk merajut kepingan-kepingan tersebut.

Leave a Reply

Close Menu