Pameran komik tembok di Djogja!

1997_akhir Mei_Edisi 069_rupa-rupa:
Pameran komik tembok di Djogja!

Bagaimana komik dinikmati? Lazimnya melalui buku, majalah, atau Koran. Nah, oleh Apotik komik Djogkakarta, genre komik hendak dipindahkan ke media tembok. Walhasil, komik hasil karya 13 perupa Djogja ini dapat dinikmati secara bersama di halaman seluas 700 meter. Pun di sebuah kampung kecil bernama Nitiprayan di Djogjakarta.

Dengan satu tema yaitu “melayang”, bisa dinikmati rupa-rupa atau ini”. Bahkan beberapa karya tidak hanya menggunakan cat tembok, juga kaleng-kaleng bekas, pecahan piring dan botol, boneka yang disemen atau dipaku di tembok untuk membangun sebuah cerita. Keseluruhan  proses dan hasil akhir pameran komik tembok ini direkam dalam bentuk slide oleh Eko Birowo dan Ulis dari media Rekam ISI. Kedua fotografer melakukan dokumentasi dengan eksperimen teknik fotografi.

Sensasi menikmati komik di tembok pun berbeda dengan di buku. Mungkin sama seperti musik, kendati dapat didengar secara pribadi melalui kaset, toh orang pun ingin keluar rumah untuk menikmati musik secara di panggung pertunjukkan. Interpretasi perupa tentang tema “melayang” pun beragam. Misalnya Pahlevi mengartikannya sebagai piring-piring yang melayang dan pecah karena kondisi kemarahan; Ana Blume menerjemahkan sebagai cerita mata yang melayang menuju matahari, lalu mata itu terkena oleh polusi-polusi. Mungkin cerita ini refleksi dari pengalaman Ana sebagai orang Jerman yang tinggal di Indonesia, negeri penuh matahari.

Lalu timbul pertanyaan…Apakah pameran ini termasuk upaya menentang komik asing?

“Ya tidak..komik asing itu bagus, dari segi visual maupun ceritanya, nggak perlu ditentang. Kita selalu hanya dihimbau untuk memilih yang baik dan membuang yang buruk. Akhirnya, jadi sibuk memilih dan membuang, tapi nggak pernah mencipta” ungkap Samuel Indratma, penggagas pameran ini.

Tanpa kepedulian-kepedulian klise, Apotik Komik tetap ingin melakukan eksperimen komik tembok setiap 3 bulan satu kali plus diskusi membuat tabloid dan buku-buku komik, serta kolaborasi dengan para fotografer.

Sumber: Apotik Komik, Jl. Nitiprayan 24, Yogyakarta.

Tertinggi dari yang paling tinggi
Ditemukan pada tahun 1963 oleh Paul A. Zahl, sebatang pohon dari jenis “redwood” diproklamirkan sebagai pohon tertinggi di dunia. Tercatat pohon tersebut memiliki ketinggian 365 kaki, 6 inci atau sekitar 110 meter.

Bagaimana Membuktikannya?

Pada tanggal 24 Maret 1995, Steve Sillet dan Mark W. Moffett dari National Geographic berhasil melakukan “pendakian” ke puncak pohon yang tumbuh di Redwood National Park, California ini. Hasilnya, pencatatan rekor tersebut. Sebenarnya, masih ada beberapa pohon yang diperkirakan menyaingi ketinggian pohon tersebut, namun, berhubung tidak ada yang mendaki ke pucuknya, maka tidak ada pula catatan keringgiannya.

Salah satu penghuni di daerah pucuk pohon raksasa itu adalah burung “marbled murrelet” yang jumlahnya kian hari kian menyusut. Burung ini biasa membuat sarang di ketinggian pohon sehingga mengharuskannya terbang sejauh 50 mil ke lautan Paifik untuk mencari ikan kecil bagi anak-anaknya.

Saat ini mendaki puncak pohon menjadi oleh raga yang mulai digemari. Karena itu, beberapa ahli “pohon tinggi” mulai menciptakan metode dan etika lecet atau terkelupasnya kulit pohon akibat gesekan tali pengaman.

Bila Anda tertarik melihat pemandangan dari ketinggian pohon, masih ada beberapa pohon yang tercatat sebagai pohon-pohon tertinggi, antara lain Douglasfir(98,7 meter), Stika spruce (94,5 meter), Giant sequola (93 meter), Western hemlock (64,8 meter), Big-leaf maple (17 meter). Semua pohon tersebut dapat ditemui di berbagai taman nasional di kawasan Utara Amerika.

Sumber: National Geographic, Januari 1997

Leave a Reply

Close Menu