Pameran Biennale Jogja IX -2007

Dibuka pada hari Jum’at, 28 Desember 2007 jam 19.00 WIB
di Taman Budaya Yogyakarta, jalan Sriwedani 1 Yogyakarta.

Pameran berlangsungkan di tiga tempat;
di Taman Budaya Yogyakarta/TBY (Jl. Sriwedani 1 Yogyakarta),
Jogja National Museum (Jl. Amri Yahya 1 Yogyakarta), dan
Sangkring Art Space (Jl. Nitiprayan 88, RT 01 RW 20, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul,Yogyakarta)

NEO-NATION
(Bingkai Kuratorial Jogja Biennale IX – 2007)
Tiba saatnya Jogja Biennale IX-2007. Kali ini menyodorkan tema kuratorial yang berbasis pada ‘realitas seni visual yang ada dan tengah terjadi’, terutama dalam konteks fenomena sosial budaya yang melatarinya. Tema ini dihasratkan dapat dijadikan piranti untuk merespon fenomena sosial budaya yang terkait dengan perihal ‘identitas’. Perbincangan mengenai identitas ini dikaitkan dengan fenomena yang menggejala antar-inter generasi. Artikulasi ‘identitas’ dalam masyarakat kontemporer Indonesia , merupakan sesuatu yang kompleks dan problematis. Identitas bukanlah entitas yang memiliki kandungan esensial. Oleh karena itu, pembicaraan tentang ‘identitas’ dalam gagasan ini, akan memfokuskan diri pada pembacaan tentang bagaimana individu atau kolektif mengontestasikan pelbagai teks (seni visual, misalnya) untuk mengartikulasikan pengalaman atas identitas dirinya dalam konteks negara-bangsa (nation-state) Indonesia. Situasi hari ini menunjukkan bahwa globalisasi menyediakan sebuah tempat yang lapang bagi konstruksi identitas; pertukaran benda-benda/ simbol-simbol dan pergerakan antartempat yang semakin mudah, yang dikombinasikan dengan perkembangan teknologi komunikasi, membuat percampuran dan pertemuan kebudayaan juga semakin mudah. Dalam globalisasi, kebudayaan dan identitas bersifat translokal (Pieterse, 1995). Maka, pertanyaan dan persoalan kita kini adalah, “bagaimana kita mengalami keindonesiaan kita pada hari ini?”

Fenomena sosial budaya yang terjadi kini adalah pada gejala hibriditas budaya yang terjadi diberbagai sektor kehidupan. Mengalami keindonesiaan sebagai entitas negara-bangsa (nation-state) bagi generasi, misalnya, angkatan ’28, ’45, ’70, hingga generasi ’80, ‘90-an akan sama sekali berbeda. Asumsinya, setiap generasi melahirkan pengalaman dan langgam bahasanya sendiri, yang terkait dengan ingatan kolektif pada masanya.

Jarak beberapa decade waktu yang memisahkan, meninggalkan warisan ingatan yang khas. Peristiwa ‘kecil’ berikut ini dapat dijadikan ilustrasi; sebuah acara talk-show di stasiun TV swasta, Kick Andi (di suatu hari sekitar Mei 2007 lalu), menghadirkan nara sumber para veteran perang (’45) dengan sejumlah orang muda (’80-90an), tampak adanya perbedaan persepsi mengenai nasionalisme. Sejumlah (kaum) veteran beranggapan, bahwa kaum muda sekarang tidak lagi peduli pada sejarah. Namun realitas faktualnya kaum muda juga telah membangun historisitasnya dengan cara-caranya sendiri. Kontribusi kaum muda – dalam beberapa hal – menjadi fakta historis, yang memberi andil penting dalam membentuk citra Indonesia kontemporer. Kini terpampang jelas di sekitar kita, fenomena generasi era ’70, ’80, ’90-an, yang terlihat pada kultur anak muda (youth culture), dimana ada gejala kian berkembangnya kultur dan kelas kreatif yang tercermin pada beragam subkultur. Apa yang dipraktikkan kultur anak muda ini menunjukkan sebuah pengalaman mengalami suatu ‘keindonesiaan’ dengan cara yang ‘baru’. Suatu pengalaman ‘mengalami keindonesiaan’ bukan sekadar monopoli kultur anak muda, namun juga dirasakan oleh berbagai indvidu yang menjalani (terperangkap) mobilitas ulang-alik, keluar/dalam teritorial Indonesia. Ketika muncul realitas maya (cyberspace), ketika konsep waktu, jarak dan tempat menjadi lain sama sekali, maka seolah-olah batas-batas territorial semakin memudar. Fakta berikutnya menunjukkan, bahwa jumlah penghuni ruang sibernetik kian meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa identitas tidak lagi mencukupi jika dipahami hanya sebatas term tempat, tetapi juga pada term perjalanan.

“Mengalami keindonesiaan dengan cara pandang dan cara berpikir baru” merupakan point dan realitas yang penting, yang mendorong munculnya tajuk Kuratorial Jogja Biennale IX-2007 dengan nama: NEO-NATION. Cara pandang dan cara berpikir baru yang dimaksud adalah berkait erat dengan problem dan pergeseran situasi sosial budaya yang melingkupi keseharian kita kini. Maka Jogja Biennale kali ini berpeluang menghadirkan pengalaman Anda dalam memahami, memandang, dan menghayati relasi diri kita dengan ihwal proses menjadi bangsa “Indonesia ”.

Yogyakarta,
Juli-Agustus 2007
Kurator Jogja Biennale IX-2007:
Sujud Dartanto
Kuss Indarto
Suwarno Wisetrotomo
Eko Prawoto

Sekretariat Panitia Bienalle Jogja IX-2007
Taman Budaya Yogyakarta
Jalan Sriwedani no.1 Yogyakarta
Contact Person: Deska
Telepon: (0274) 3250622, (0274) 561914
e-mail: biennalejogja@ yahoo.com, biennalejogja2007@ gmail.com
blog: biennalejogja2007.multiply.com

Leave a Reply

Close Menu