Pada Mulanya Otok-Otok

Heru Joni Putra

Tahun 1983, penyair Sapardi Djoko Damono (SDD) menerbitkan sebuah buku puisi berjudul “Perahu Kertas”. Sampai sekarang, berpuluh-tahun kemudian, buku itu tetap menjadi bacaan wajib para pecinta puisi di Indonesia. Puisi yang menjadi judul buku itu, bagi saya, adalah salah satu puisi terbaik yang pernah ditulis SDD. Berikut saya salin seutuhnya:

Perahu Kertas

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan

“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun
menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindumu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, “Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

Puisi di atas tak hanya menunjukkan
pelayaran sebuah perahu dari kali menuju lautan, tetapi juga pelayaran dari suatu imajinasi ke imajinasi yang lainnya.
Sebuah perahu kertas, secara material, tak hanya sekadar menjadi perkakas bermain, tetapi juga menjadi piranti untuk membayangkan dunia yang lebih luas; tak hanya sekadar mengingatkan kita tentang bumi melalui siklus air, tetapi juga menunjukkan bahwa sebuah perahu kertas yang sederhana menjadi titik-temu bagi berbagai narasi yang sudah ada sejak zaman para pendahulu bumi ini, dari alusi sebuah kapal layar sampai ke bayangan tentang kehidupan bandar, dari simbolisasi tentang petualangan sampai ke alusi kisah banjir di zaman nabi Nuh, dan seterusnya.

Bagaimanapun juga, negeri ini lebih panjang usianya sebagai peradaban laut dan oleh sebab itu, ingatan kultural kita tentang kehidupan maritim begitu berlimpah-ruah. Kehidupan maritim selalu membuat kita terpukau. Entah berapa peribahasa yang menggunakan proyeksi kehidupan laut. Entah penyair Indonesia, dengan suatu dan lain cara, yang gemar menggunakan anasir laut dalam karya mereka, mulai dari pantai, gelombak, ombak, pelayaran, kapal, perahu, nelayan, karam, karang, samudra, buih, dan seterusnya. Entah berapa lagu-lagu rakyat yang menggambarkan semesta maritim. Entah berapa mitologi di negeri ini yang berasal dari kehidupan laut. Begitu juga lukisan-lukisan, apalagi yang klasik, berusaha menampilkan kehidupan maritim kita, baik dalam pengertian kehidupan rakyat kecil di lautan ataupun kehidupan makhluk lain yang menjadi penghuni dunia lautan.

Dalam konteks itu, pameran “Oom Otok-otok Oom” dari Enrico Halim dapat menyebakan mencuatnya kembali berbagai memori kita, entah itu memori individu ataupun memori kolektif, perihal semesta maritim negeri ini. Pada mulanya otok-otok, tapi akhirnya menjadi narasi bercabang-berkelindan. Sekalipun tidak semua kita dibesarkan dalam kultur maritim, namun setiap orang cenderung punya memori tersendiri tentang semesta laut, baik memori yang sifatnya personal ataupun memori yang
diturunkan dari generasi ke generasi, dari satu orang ke orang lain, dan sebagainya. Atau paling tidak, negara ini mempunyai memori tersendiri – memori nasional –
tentang dunia maritim, memori yang terus disebarkan ke masyarakat menggunakan berbagai instrumennya, memori yang bisa saja tidak sepenuhnya dekat dengan memori kita, atau mungkin bertolak belakang sekalipun.

Pada satu masa, negara menghadirkan dunia maritim kepada kita sebagai sebuah ancaman seumur hidup serta ketakutan tiada tara: Kisah para pejuang yang dibunuh dan dibenamkan di dasar laut, kisah tenggelamnya kapal perang usang yang dipaksa jadi kapal angkutan penumpang, kisah keberangkatan jemaah haji yang terkatung-katung, dan sebagainya. Di lain masa, negara muncul dengan cerita yang berbeda dan heroik: Cerita kekuataan militer kita di laut dengan segala perkakas perangnya, kisah penenggelaman kapal-kapal asing yang mencuri di laut kita, kisah nenek-
moyang kita yang seorang pelaut, dan seterusnya.

Begitulah, setiap memori selalu bersitegang di sana sini, antara yang kita inginkan dan yang kita hindari, antara yang ingin kita abadikan dan ingin kita lupakan, antara yang memukau dan yang mencekam, dan seterusnya. Sebagaimana otok-otok, bila puisi pun diposisikan sebagai pengampu memori, maka puisi yang disampaikan di awal tadi mengampu lebih banyak pukau dari dunia laut. Dan kini, tulisan singkat ini ditutup dengan sisi yang mencekam dari dunia laut, melalui puisi “Rumah di Atas Gelombang” karya penyair Esha Tegar Putra tahun 2014 lalu:

Rumah di Atas Gelombang

Rumah kami
rumah di atas gelombang gadang
getar lantai, getar badai
dingin palang, dingin retakan karang
hempasan pintu, hempasan lambung perahu.

Dinding dengan jarum jam
berputar seiring nafas pemburu hiu
Kelambu tua dengan nganga lubang
serupa pukat siap menerima amuk mangka
kamar dengan angin yang terus berpiuh hebat
pijar lampu menghamburkan sisik ikan.
Sembulan kapuk dari bantal
seakan kiriman gatal dari asin air dangkal.

Rumah kami
rumah di atas gelombang
tempat kami meramu obat
segala demam tak tertanggungkan.

Leave a Reply

Close Menu