otopet

otopet

2001_Februari_Edisi 121_gaya:
otopet
Joni Faizal
ilustrasi oleh: Samuel Indratma

Kendaraan abad 21
Di rumah sakit Bathesda, Yogyakarta, sepeda sudah lama digunakan oleh para dokter untuk hilir mudik ke ruangan-ruangan yang jaraknya berjauhan. Jika memasuki koridor-koridor dalam rumah sakit itu, akan tampak dokter-dokter dengan cueknya berseliweran sementara pengunjung sepertinya kelelahan harus menempuh perjalanan untuk mencapai blok-blok pasien. Inilah alah satu manfaat teknologi sepeda yang masih bertahan di Kota Gudeg yang dijuluki Kota Sepeda itu.

Nun jauh di Jerman, anggota parlemen dalam komplek yang jaraknya lumayan jauh, juga tak segan-segan mendorong otopet dan meluncur ke tempat-tempat yang menjadi tujuannya. Bedanya, jika dokter di Yogya masih harus mengunci sepedanya sebelum memasuki ruangan, anggota parlemen di Jerman membiarkan begitu saja otopetnya atau melipatnya dan “plek”, dimasukkan ke dalam tas.

Otopet, akhir-akhir ini populer lagi. Dimulai dari Jerman dan Amerika, semarak otopet kini juga melanda Asia. Berbeda dengan otopet mainan anak-anak di kota-kota besar era 50-an yang hanya berupa papan luncur dengan roda dan stang. Kini otopet lebih bergaya dan modern. Batangan di depannya dilengkapi dengan pegas atau per untuk meredam goncangan, juga dilengkapi rem. Otopet yang lebih canggih adalah buatan Swiss yang beratnya hanya 6 pond dan dapat dilipat untuk dimasukkan ke tas. Di beberapa toko olahraga malah dijual aksesorisnya untuk mempercantik, sperti rodanya yang berwarna-warni, lampu sampai perlengkapan lainnya seperti helm, pengaman dengkul, dan kacamata. Dan pemakainya kini bukan lagi anak-anak melainkan juga orang dewasa yang malas berjalan kaki.

Solusi macet
Otopet atau di Indonesia dikenal dengan nama sepeda lipat, di Amerika sendiri disebut dengan macam-macam nama seperti kick scooters, kick boards dan ada juga yang menyebutnya stick boards. Namun nama yang paling lazim kickboard.

Apapun namanya, otopet, menurut sebuah laporan bisnis CNN, merupakan solusi sistem transportasi modern masyarakat kota yang acapkali dilanda kemacetan lalulintas. Terang saja karena otopet dari bentuknya tidak memerlukan ruang yang besar, apalagi tempat parkir. Kecuali itu, pemakai otopet otomatis juga menjaga lingkungannya dari polusi. Sehingga wajar jika sebuah situs otopet dijuluki sebagai “Kendaraan Abad 21”, mengingat kendaraaan ini tidak memerlukan bahan bakar yang dapat menyebabkan polusi udara dan kebisingan.

Belum lagi bentuknya yang “familiar” untuk dikendarai. Sehingga otopet sangat aman bagi pengendaranya maupun orang-orang yang berada dalam satu lintasan dengannya. Artinya, sekencang apa pun lari otopet, jika menabrak, tidak akan lebih berbahaya dibanding sepeda yang dapat lari jauh lebih kencang.

Baru di senayan
Di Jakarta, pemakai otopet masih terbilang jarang. Meskipun hampir dapat ditemukan dengan mudah di toko-toko, penjualan otopet, menurut salah seorang pemilik toko sepeda, masih dibawah penjualan sepeda. Padahal harganya tidak berkisar jauh dari harga sepeda antara 170 ribu hingga 200 ribu rupiah. Penyebabnya barangkali karena jalan-jalan di Jakarta tidak memungkinkan bagi pengendara otopet melintas. Maklum, polusi Jakarta terkenal paling parah di dunia sejaajar dengan Bangkok dan Meksiko. Belum lagi tingkat keamanan yang tidak menjamin bagi pemakai otopet karena tidak adanya jalur khusus sepeda. Lain halnya dengan Yogya atau negara-negara maju lain yang memiliki jalur khusus sepeda. Dan nyatanya, Jakarta bukanlah kota yang aman bagi pejalan kaki, sepeda ataupun otopet. Sehingga otopet baru memenuhi kebutuhan olahraga. Hal ini akan mudah dilihat sekitar Istora Senayan terutama pada hari libur.

Walaupun begitu, prospek otopet digemari masyarkat nampaknya akan terus menuju ke titik terang. “Hal ini terutama di Ibu Kota”, kata seorang pedagang penjual sepeda lipat di Toko Olah Raga di kawasan Blok M, Jakarta. Areal perkantoran, kawasan gudang, perumahan, rumah sakit, kampus, sekolah dan tempat-tempat belanja, saatnya kelak memerlukan otopet. Alasannya, orang masih malu-malu menggunakannya. “ Kalau sudah populer, semua orang ingin membeli,” katanya mengulang sukses sepeda Ferderal di era 80-an. Jadi berharaplah demam otopet suatu saat melanda Jakarta. Dengan demikian siapa tahu polusi dan kemacetan di Jakarta akan berkurang.

Leave a Reply

Close Menu