Otok-otok Enrico

Hari ini kapal otok-otok dari kaleng yang menjadi pemantik bagi kerja Enrico Halim masih eksis. Tentu bukan di mall. Di pasar tradisional anak-anak masih berjongkok, memperhatikan kapal-kapalan ini berputar-putar dalam semesta ember. Ya, dia berbunyi “otok-otok”, dan anak-anak yang sebenarnyalah tidak peduli mainan menarik itu harganya berapa akan sangat menyukainya. Mainan itu sungguh kreatif bukan karena murahnya, tetapi karena dengan segala kemurahannya menjadi mainan yang imajinatif. Bukankah terbukti Enrico mengembangkan gagasannya, dari segala kemungkinan yang diberikan kapal otok-otok itu?

Maka, yang menarik tentu bagaimana proses kreatif berlangsung sebagai bagian dari gejala kebudayaan yang berkelanjutan. Kapal otok-otok memang masih ada, tetapi konteks Enrico adalah kapal otok-otok dalam kepalanya sendiri, baik sebagai kenangan, maupun sumber gagasan. Bukan lagi sebagai mainan kanak-kanak atau barang dagangan, tetapi membawanya ke wilayah dimensional baru dalam dunia penciptaan seni kontemporer. Bukan berarti terangkat menjadi lebih “tinggi”, sebaliknya justru mendapat penghargaan sesuai dengan daya gugahnya.

Dalam pengertian inilah kebudayaan menjadi gelanggang terbuka, yang membongkar konstruksi sekat-sekat hirarkisnya sendiri.

Salam,

Seno Gumira Ajidarma

Jumat, 1 Februari 2019. 18:25.

Leave a Reply

Close Menu