otak atik huruf miring di KOMPAS

2000_ September _Edisi 116_bahas:
otak atik huruf miring di KOMPAS
Ukke R. Kosasih/Rohman Yuliawan/Joni Faizal

Ada yang berubah pada tampilan artikel di Harian Kompas, tepatnya sejak Rabu 28 Juni 2000 sewaktu diterbitkan edisi ulang tahun ke-3…ada banyak judul artikel yang ditulis miring! Padahal, biasanya hanya tulisan di pojok kanan halaman depan saja yang judulnya memakai huruf Italic. Sejak ulang tahun itu, huruf miring nampaknya “naik daun” terutama pada lembar Metropolitan, Teropong, Jendela, Mobil, dan Bisnis. “Dengan pembedaan huruf tegak dan miring, kami ingin melempar sinyal kepada pembaca (bahwa tulisan ini berita dan tulisan itu non –berita, yang ini serius dan yang itu ringan) pada saat mereka melihat sekelebat Harian Kompas,” ungkap Lim Bun Chai, salah seorang tim artistik Kompas, dalam e-mailnya. Dan, tanpa bersikap setuju atau tidak setuju, Riswanto Ramelan, Direktur Utama Adwi Cipta Desain, beranggapan bahwa kita harus memahami adanya strategi untuk membedakan suplemen dan halaman utama, “Huruf Italic jenis serif memiliki karakter yang emosiona, personal, dan tidak terlalu lugas. Karakter ini sangat sesuai untuk feature yang mencoba menyentuh emosi dan angan-angan pembacanya,” ungkap pendidik desain di Universitas Trisakti yang mempunyai perhatian besar pada tipografi ini.

Dilihat dari alasan dan tanggapan terhadap penggunaan huruf miring ini, nampaknya Kompas sadar benar bahwa tipografi punya peranan penting dalam penyampaian informasi. Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk memperhatikan bagaimana mereka berproses mencari tipe huruf yang paling tepat untuk menulis artikel. Kenapa demikian?
Bila huruf miring dipakai untuk membedakan tingkat keseriusan tulisan, bagaimana nasib opini-opini di halaman antara tanggal 4 – 20 Juli 2000 yang judul-judulnya ditulis dalam huruf miring semua? Apakah opini Yasraf Amir Pillang, Kamis 20 Juli 2000, yang bertajuk “Mikro Fasisme, Mesin-Mesin Antidemokrasi” bisa dikategorikan tulisan ringan? Tentunya tidak. Dan mungkin karena ada kesadaran itu pula, tepat tanggal 21 Juli 200, judul-judul di halaman opini ini kembali tegak. Berarti, penggunaan huruf miring untuk judul di halaman empat hanya bertahan 17 hari saja!
Petualangan huruf miring di Kompas sering juga menimbulkan kesan “pilih kasih”. Masalahnya, apakah huruf miring untuk judul “Yogyakarta Gamelan Festival 2000, Komposisi Tanpa Judul” (Senin, 10 Juli 2000, halaman 9) dan huruf tegak pada artikel “Unpar, Unpad, dan Elfa Sama-sama Dapat Emas (Kamis, 3 Agustus 2000, halaman 9) dipakai untuk menandai bahwa peristiwa kesenian di Yogyakarta tersebut lebih atau kurang berjaya. Atau mungkin kita memang tidak bisa melakukan perbandingan seperti itu (karena kedua artikel tersebut terkait pada hari yang berlainan) meskipun dalam rubrik yang sama.

Beberapa perubahan tampilan dalam Kompas, termasuk pemakaian huruf miring, tentunya bisa diartikan sebagai bagian dari dinamika harian nasional ini yang sudah diperhitungkan betul. “Bukan dalam waktu pendek kami mengubah tipografi. Bahkan dilakukan jajak pendapat kepada pembaca untuk mendapat respon mereka. Yang jelas, pemilihan tipografi ini tetap berpijak pada teori desain dan tetap berpegang pada asas keseriusan dan kredibilitas Kompas. Berubah tetap mendekati yang lama,” papar Lim Bun Chai.

Kalau begitu, kasus “17 hari umur huruf miring di rubrik opini” dan pilih kasih di rubric budaya” di atas mungkin bisa kita anggap sebagai kasus eksperimen. Atau ada alasan lain?
Roman, pertama diciptakan oleh Concad Sweytheym dan Arnold Pannartz. Di tahun 1465, mereka berdua singgah di biara Benedictine di Subiacco untuk bekerja. Di biara itulah huruf Roman diciptakan dan digunakan untuk menerbitkan buku berjudul “Donatus”. Sayangnya, dokumen buku ini telah hilang. Namun huruf roman kemudian dipakai dalam penerbitan “De Oradore” karya Cicero, dan buku ini menjadi dokumen cetak dengan huruf roman pertama yang dapat diselamatkan.
Italic, pertama kali dibuat pada akhir tahun 1500 oleh Francesco Griffo, seorang pembuat blok cetak 18 karakter huruf italic pertama dipakai dalam ukiran karya pada “Epistole of Saint Catherine of Siena” yang dipublikasikan Aldus Maltinus pada bulan September tahun 1500.

Garamond, diciptakan oleh Claude Garamond. Pada awalnya, Claude Garamond menekuni desain huruf, punch-cover dan pembuatan huruf di Paris untuk memenuhi pesanan para penerbit. Sepuluh tahun setelah konsekuensinya di seluruh kawasan Eropa, raja Fransisco 1 dari Perancis menitahkan Garamond untuk membuat bentuk huruf Yunani yang kemudian terkenal sebagai “Grocs da Roi”. Oleh sang Raja. Garamond memperoleh harapan bayaran sebesar 225 livezes scornoiz, suatu jumlah yang melampaui setahun penghasilan paling tinggi saat itu.¬

Giil sans, merupakan hasil rancangan karya Eric Gill, seorang pengukir batu, esais, ahli cetak huruf, Tahun 1925. Gill bertemu dengn Stanley Morrison, yang ingin menciptakan bentuk huruf baru untuk Monotype Corporation sebagai bentuk ekspresi seorang seniman kontemporer. Awalnya, Gill menggarap huruf yang bakal dikenal dengan nama Perpetua, alalu menyusul Gill Sans. Peluncuran bentuk huruf ini memicu kontroversi yang diikuti dengan sukses besar. Gill Sans tak dipungkiri menjadi huruf tipe sans-serif yang kadangkala di sebut sebagai “bentuk huruf nsional inggris”.
Goudy, diciptakan oleh Frederic W Cloudy, Desain hurufnya yang pertama diberi nama Camelot, diperuntukan bagi percetakan Camelot Press di Chicago. Karis Goudy sebagai desainer serta ahli percetakan mulai berkembang seiring dengan kemajuan Camelot Press. Di tahun 1928, dia menciptakan bentuk huruf terpenting, yaitu E-38 dan dikenal sebagai Gaudy light. Bentuk huruf karya Goudy yang banyak dipakai, Goudy Oldstyle, diluncurkan oleh American Type Founder Company di tahun 1915, dan segera menjadi gaya yang klasik.

Bodoni, ciptaan Glambista Bodoni. Meskipun huruf karyanya sering dianggap lebih banyak untuk dikagumi, karena sering menjadi sulit untuk dibaca, pria asal Saluzzo, Italia ini adalah salah satu pakar huruf yang modern yang paling berhasil. Setelah kematiannya, seleksi huruf-huruf karyanya, yang demikian banyak, dipamerkan dalam bentuk dua volume Manuale Tipografico (Parusa 1818)
MTVPE adalah tipe huruf “post melvetica” yang diciptakan oleh flash media pada tahun 1997 untuk mengidentifikasikan video dan program mtv. Tantangan yang paling berat dalam pembuatan huruf ini adalah bagaimana membuat pemirsa untuk tertarik membaca layar televisi. Karena itu mtvpe dirancang untuk tulisan-tulisan pendek yang tampil dalam waktu yang singkat pula.

Leave a Reply

Close Menu