Orang Gila

1998_Agustus_Edisi 093_lintas:
Orang Gila

Sebagian besar orang rasanya akan sepakat bahwa orang yang duduk di perempatan jalan dalam keadaan dekil dan setengah telanjang sambil bernyanyi atau tertawa sendirian termasuk dalam kategori ‘orang gila.’ Namun siapakah yang sebenarnya dicap sebagai orang gila? Gila vs tidak gila bukanlah suatu dikotomi hitam-putih melainkan suatu gradasi yang mengandung daerah abu-abu yang luas, sehingga tidak ada batasan yang jelas. Dan sebagian besar orang pada dasarnya memiliki ciri-ciri kegilaan, hanya dengan kadar yang berbeda-beda. Namun cerita dasar untuk menentukan batas gila vs tidak gila antara lain sejauh mana perilaku itu menyimpang dari norma-norma sosial sehingga muncul keluhan dari lingkungan; Adanya keluhan dari dirinya sendiri; sejauh mana orang tersebut masih bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Sekarang yang lebih penting ialah bagaimana kita harus memperlakukan orang yang notabene di cap “gila”? membawa ke rumah sakit jiwa memang salah satu jalan keluar. Namun apakah situasi sosial dan budaya masyarakat cukup kondusif untuk menyembuhkan? Banyak kasus orang gila yang keluar dari rumah sakit jiwa ternyata tetap mengalami tekanan ketika kembali ke lingkungan sosialnya. Cap “gila” sudah keburu menempel padanya, sehingga membuahkan tekanan baru. Mungkin kita perlu kembali pada metode paling manusiawi dan tanpa biaya-cinta kasih dan kesabaran.

Kegilaan: Musibah atau Berkah? Kegilaan memiliki dua sisi-musibah sekaligus berkah!. Dianggap berkah karena tidak harus mempertanggungjawabkan perbuatan dan kebebasan dari tuntutan sosial. Semisal banyak peristiwa dalam sejarah maupun dalam fiksi yang menggambarkan tokoh yang berpura-pura gila. Shakespeare menggambarkan Hamlet berpura-pura gila setelah ayahnya meninggal. Tokoh utama dalam Shogun (James Clavell), Anjin San atau Blackthorne juga berpura-pura gila setelah bertindak tidak sopan di hadapan seorang dalmyo  besar yang sangat berkuasa.

Dalam film A Time to Kill (yang diangkat dari novel yang berjudul sama karya John Grisham) yang berlatar belakang suasana Amerika Serikat bagian selatan, dalih kegilaan sementara (momentary insanity) dijadikan alasan pembelaan terhadap seorang ayah yang membunuh dua laki-laki yang memperkosa putrinya, Di Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Pasal 44) menyebutkan bahwa orang yang terbukti gila tindak pidananya akan dihapus dan sebagai gantinya terkena masa percobaan selama satu tahun di rumah sakit jiwa. Namun tentu saja tidak semudah itu kita dapat membebaskan diri dari tanggung jawab hanya dengan mengaku gila. (JAW)

Gila dalam sejarah!
Perilaku abnormal diartikan sebagai terperangkapnya arwah jahat ke dalam tubuh seseorang, Untuk menyembuhkannya, dilakukan trepinasi (trephination) bagi penderitanya – yaitu sebuah benda tajan seperti batu digunakan untuk melubangi tengkorak, dengan diameter kira-kira 2 cm di dahi.
ZAMAN YUNANI KUNO
Homer, penulis Illiad dan Odyssey (800 SM), perilaku yang terganggu merupakan bentuk hukuman dari perilaku menentang dewa. Ia percaya bahwa orang yang akan dihancurkan oleh dewa, terlebih dulu akan dibuat gila. Terapi dilakukan di kuil-kuil tempat pemujaan Ascelepius, dewa penyembuh. Setiap kuil memiliki struktur seperti maze, dimana pasien diminta untuk berjalan sampai ke tengah kuil dan di sanalah mereka tidur. Dalam proses ini Ascelepius akan muncul dalam mimpi dan menyembuhkan penyakitnya.

ZAMAN PERTENGAHAN
Rasionalitas yang dibangun oleh para filsuf Yunani Kuno dalam menjelaskan perilaku abnormal lalu ditinggalkan pada masa akhir zaman pertengahan. Ilmu tentang setan dan takhayul lalu mendapat tempat yang sangat penting dalam menjelaskan perilaku abnormal. Penguasa gereja pada masa itu merasa perlu untuk membuat sebuah dokumen yang lengkap tentang pengertian dan hukuman bagi para tukang sihir yang dianggap seagai agen utama dari Iblis. Kebutuhan akan dokumen ini terwujud dengan terbitnya Malleus Maleficarum (The Witches Hammer yang ditulis oleh Pastur Henry Kramer dan James Sprenger pada tahun 1484. Tulisan ini lalu menjadi bahan rujukan utama unutk menyelidiki fenomena yang dianggap perbuatan setan.

Dalam Malleus Maleficarum digambarkan sebuah kasus seorang anak muda yang selalu mengulurkan lidahnya dan mengeluarkan kata-kata kotor ketika ia berusaha untuk berdoa. Perilaku ini diartikan kerasukan setan. Walau demikian, Paracelcus (1493-1541) menentang dengan kuat pendapat itu, ia beranggapan bahwa gangguan mental disebabkan oleh fenomena alam, yaitu letak bintang dan planet. Pada abad ke-16 Juan Harte (1530-1589), menulis sebuah publikasi yang diberi judul “Probe of The Mind”. Di dalam tulisannya, ia membedakan antara teologi dan psikologi dan secara gigih berpendapat bahwa penjelasan rasional tentang perkembangan psikologis anak sangat dibutuhkan.

ZAMAN PENCERAHAN
Inggris membuat gerakan dalam penanganan penderita gangguan mental setelah Raja George III mendeita Psikosis pada tahun 1765. Hal ini menimbulkan krisis konstitusi di Inggris dan menimbulkan kesadaran bahwa orang-orang penting dan mulia pun dapat terkena gangguan mental. Untuk pertama kalinya pada tahun 1774, parlemen di Inggris mengeluarkan peraturan tentang lisensi pendirian rumah sakit jiwa dan peraturan-peraturan di dalamnya.

Sebuah langkah penting bagi penanganan manusiawi terhadap penderita gangguan jiwa ialah dikeluarkannya keputusan penting oleh parlemen Inggris pada tanggal 25 Mei 1815. Kekerasan dan penyalahgunaan yang kepada para penderita gangguan jiwa dilarang, temasuk yang dilakukan di salah satu rumah sakit jiwa yang paling terkenal saat itu, Rumah Sakit St. Mary of Betlehem di London. Rumah sakit ini menjual tiket bagi siapa saja yang ingin menyaksikan tingkah laku yang aneh-aneh dari para penderita gangguan jiwa.

GERAKAN REFORMASI
Pada awal abad ke 19, Pinnel membuat tulisan yang diberi judul “treatise on in sanity” dimana dia mengunakan cara-cara ilmiah dalam merawat panderita gangguan jiwa yang disebut moral treatment atau penanganan moral. Aplikasinya antara lain sesedikit mungkin membatasi pasien; kunjungan setiap hari oleh para pengawas dan pimpinan rumah sakit, menghadirkan suasana tenang dan menyenangkan, tempat tinggal yang memisahkan pasien yang berbeda gangguannya, diet yang tepat, pemberian obat dan kegiatan mental yang terencana. [Isdar Andre Marwan]

Sumber:
Penulis A. Wirawan, Bagus Takwin dan Isdar Andre Marwan, Psi LEMBAGA PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UI
Abnormal Psychology, The Problem of  Maladaptive Behavior (7th ed.) Irwin G. Sarason & Barbara R. Sarason
Morgan dkk. (1988) Introduction to Psychology (ed ke-7).New York:McGrawHill.
Chaplin, J,P. (1975) Dictionary of  Psichology (ed ke-2), New York; Dell Publishing.
Morgan, C.T. dkk (1986) Introduction Psychology (ed ke-7). New York;McGraw Hill.

Leave a Reply

Close Menu