nyaman menunggu dikala sakit

2001_April_Edisi 123_Bahas:
nyaman menunggu dikala sakit
Rohman Yuliawan

Pikiran apa yang muncul di benak anda ketika diminta membayangkan ruang tunggu di sebuah rumah sakit atau tempat praktek dokter? Ruang sempit yang disesaki pasien berwajah kuyu dan bosan, duduk berhimpitan di kursi panjang dari kayu yang ditata sepanjang selasar serta rak baca berisi majalah-majalah usang? Itulah gambaran sebagian besar ruang tunggu di tempat pengobatan, tempat di mana pasien mau tidak mau harus melewatkan waktu menunggu giliran periksa mereka tiba. Menurut hasil survei Medical Group Management Association (MGMA) di Amerika Serikat, rata-rata setiap pasien harus menunggu selama 19 menit sebelum mereka mendapat giliran untuk diperiksa. Rata-rata waktu tunggu terpendek adalah 16 menit, yaitu di ruang tunggu dokter ahli masalah saluran pernafasan, sementara untuk dokter bedah dan bidan sedikitnya anda harus bersabar selama 25 menit sebelum nama anda dipanggil untuk masuk ruang periksa. Agaknya masih banyak praktisi pengobatan yang enggan meluangkan waktu untuk melongok keadaan ruang tunggu untuk pasiennya, apalagi menyisihkan perhatian dan dana untuk menata ruangan tersebut menjadi tempat menunggu yang lebih nyaman.

Di Amerika, kini mulai dikembangkan pusat-pusat pengobatan dengan penataan ruang tunggu yang lebih “memanjakan” para pasien. Kursi duduk dibuat lebih nyaman dengan penataan yang tidak kaku, seringkali dilengkapi lampu duduk serta benda-benda seni yang membuat pasien serasa sedang duduk di ruang keluarga rumahnya sendiri. Pasien juga dimungkinkan untuk mendapatkan informasi mengenai dokter yang akan memeriksanya. Di Rumah sakit Celebration Health, Florida, yang dibangun oleh Walt Disney Company sebagai rumah sakit model untuk balai pengobatan masa depan, para pasien di ruang tunggu bahkan boleh mengenakan radio panggil (pager) yang disediakan di sana. Selagi menunggu giliran periksa, mereka dapat menikmati saluran TV yang dilengkapi koleksi CD pendidikan yang menarik, memanfaatkan pusat kebugaran atau bahkan berbelanja sampai staf rumah sakit memberitahukan lewat pager jika giliran periksa pasien tiba.

Para arsitek maupun ahli penataan ruang mengakui bahwa menunggu memang tak terhindarkan walau di sebuah kantor yang paling efisien sekalipun, terutama kerena keadaan-keadaan darurat dan masalah-masalah medis yang diperkirakan. Dibutuhkan pemikiran mendalam untuk menciptakan ruang tunggu yang benar-benar efisien. Mesti begitu, untuk mewujudkannya tidak selalu berati membutuhkan biaya besar karena anda dapat memulainya dengan langkah yang sederhana; coba ubah penataan kursi tunggu pasien untuk menciptakan atmosfer rumah yang akrab atau memperbarui persediaan majalah anda. Ruang tunggu yang sempit tidak hanya memaksa pasien untuk duduk berdesakan, tapi juga mempersulit gerak pasien berkursi roda atau pemakai tongkat berjalan. Oleh sebab itu sediakan ruang tunggu yang lebih lebar.

Konsultan manajemen ruang praktek, Jeff Denning dari California memberikan rumus sederhana untuk menghitung kebutuhan ruang tunggu anda. Hitung jumlah pasien pada jam tersibuk dan kurangi dengan pasien yang berada dalam kamar periksa. Kalikan hasilnya dengan angka 3 untuk mendapatkan jumlah kursi yang dibutuhkan. Kalikan jumlah kursi dengan 20 kaki persegi untuk mendapatkan ukuran lebar ruang tunggu yang ideal. Sementara Deborah Walter dari MGMA malah melontarkan usul untuk mengubah nama “ruang tunggu” (waiting room) menjadi “ruang penerima tamu” (reception area) untuk menyingkirkan pikiran “adalah wajar untuk menunggu diperiksa dokter yang laris.

Leave a Reply

Close Menu