Nostalgia Indis

2001_Agustus_Edisi 127_Bahas:
Nostalgia Indis
Ade Tanesia

Kini mengamati kehidupan masa lalu bangsa ini tak hanya diperoleh dari sumber sejarah. Dengan cara yang lebih efektif, berbagai visual bergaya indis yang menggambarkan kehidupan di era kolonial dapat kita nikmati melalui kartu pos, cover buku dan agenda. Tak sekedar menyajikan eksotisme gaya, tentunya gambar-gambar ini membangkitkan ingatan kolektif masyarakat tentang potongan peristiwa bangsanya di rentang waktu tertentu.
Munculnya gaya indis tak dapat dilepaskan dari konteks kebijakan ekonomi politik kolonial di negeri jajahan hindia Belanda. Setelah sistem tanam paksa dihentikan di tahun 1860, maka proses modernisasi ekonomi dengan masuknya arus penanaman modal asing semakin marak. Dengan berdatangannya investor, laju pendatang asing ke negeri jajahan pun semakin tinggi. Proses akulturasi antara kedua kebudayaan tak terelakkan dan memunculkan gaya indis yang nampak dalam berbagai unsur kebudayaan. Gaya hidup indis ini dapat kita telusuri melalui karya-karya lukisan, grafis, maupun iklan yang muncul di sekitara abad XVIII hingga pertengahan abad XX. Bentuk-bentuk visual yang menjadi kesaksian jamannya, kini merebak kembali dalam bentuk kartu pos, illustrator cover buku. Kita seperti dihantar dalam sebuah nostalgia.

Pelukis-pelukis dari Eropa

Berita-berita tentang kehidupan di negeri jajahan tidak hanya diungkapkan melalui laporan para pejabat Balanda. Di samping itu, banyak pelukis yang mengadakan ekspedisi serta memvisualisaikan bentuk pemukiman, kota, bangunan rumah hingga kehidupan masyarakat. Visual itu dituangkan dalam bentuk karya sketsa, grafis, lukisan maupun encreux relief yang dipahatkan pada lempengan tembaga atau perungu, Nama-nama seperti J. Rach dan Heydt merupakan salah satu pelukis yang sering menggambarkan bengunan rumah. W. Schouten melukis kota Batavia dengan teknik gravure dan Beekman menggambarkan situasi pasar ikan di Batavia. Yang ini juga menarik adalah lukisan yang menggambarkan adu harimau di pusat kota Kartasura yang menggunakan teknik litho berwarna. Di samping out ada pula pelukis yang dikirim khusus untuk menggambarkan berbagai jenis tumbuhan seperti yang dilakukan oleh Junghun, atau binatang darat dan laut oleh Rumphius, serta lukisan alam yang dilakukan oleh Bemellen. Kebanyakan karya-karya visual ini bersifat dokumentasi dan sesuai dengan perkembangan lukisan Eropa sejak abad XVI hingga abad XIX, maka gaya visualnya mengikuti aliran naturalisme yang menghendaki ketepatan dalam menvisualisasikan objeknya. Kini, dokumen visual tersebut seringkali kita temui kembali dalam bentuk cover-cover buku.

Tumbuhnya Iklan

Selain hasil karya dari para perupa Eropa, visual di jaman kolonial juga dapat dideteksi melalui iklan-iklan yang muncul di masa itu. Adalah tiga serangkai desainer iklan asal Belanda, F. van Bemmel, Is van Mens dan Corvan Deutekom yang mengawali karya-karya iklan di era kolonial. Atas biaya perusahaan raksasa Betaafsche Petroleum Maatschappij dan General Motors, mereka didatangkan khusus dari Belanda. Setelah itu, mereka pun membentuk kelompok usaha periklanan yang tergabung dalam kantor berita dan perusahaan peiklanan milik pemerintah ANETA (Algemeen-Generaal Nieuws en Telegraf Agentschap). Dalam perkembangannya, perusahaan iklan juga dikelola orang-orang Cina dengan perintisnya Yap Goan Ho. Sementara perusahaan iklan milik pribumi yang pertama dimiliki oleh R. Tirtoadisuryo dan dikelola oleh R. Gunawan. Saat itu ia menangani lembaran iklan atau suplemen di surat kabar Medan Prijaji. Suplemen itu disebut Soerat kabar Minggoen dan Advertentie.

Berbagai iklan yang muncul pertama kali kebanyakan berbentuk piktografi yang disampaikan secara sederhana dan komunikatif. Sementara perancangan yang lebih kompleks dengan mempertimbangkan aspek artistik baru muncul tahun 1880 an seperti yang tampak dalam iklan parfum dan toiletries merk Ed Pinaud yang dimuat pada surat kabar Pemberita Betawi tanggl 9 Januari 1886. Bentuk-bentuk pribumisasi dalam bidang desain grafis iklan dimulai pada awal abad ke-20, yaitu dengan munculnya iklan yang mengangkat visual kehidupan masyarakat lokal, khususnya Jawa sebagai daya pemikat. Awalnya pribumisasi desain ini tampil jelas dalam rancangan iklan obat-obatan tradisional Jawa yang berjudul Doekoen Djawa karangan seorang wanita Belanda Njonja Van Blokland yang dimuat pada surat kabar Pemberita Betawi tanggal 1 Juli 1903. Disamping itu, gaya Art Noveau juga yang sedang berkembang di Eropa juga mempengaruhi para desainer iklan di tanah Hindia, khususnya oleh perancang asal Belanda. Contohnya adalah iklan toko busana Au Bon Marche yang dimuat di surat kabar Soerabaiasch Handelsblaad 26 April 1908. Jejak-jejak yang telah direvitalisasi kembali oleh para desainer grafis Indonesia masa kini.

Leave a Reply

Close Menu