Monumen yang Semakin Merana

1999_Desember_Edisi 106_konservasi:
Monumen yang Semakin Merana
Hidayat Suryalaga

Bersamaan dengan raibnya beberapa taman-taman di Jakarta, bentuk-bentuk seni publik seperti monument, yang sepertinya menjadi pertahanan terakhir daya pikat kota, kian merana. Tengok saja misalnya patung-patung ASEAN yang tersebar di Taman Surapati, hampir tak tersentuh oleh perawatan dan dikuasai oleh gelandangan sebagai tempat tinggal. Belum lagi merebaknya tenda tentara di masa pasca –lengser mantan preseiden Soeharto, tekad mengubah aura taman yang indah ini menjadi garang. Tak hanya monumen di taman-taman, Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia pun tak mampu dijaga aparat dari aksi panjat oleh para demonstran. Padahal, patung yang beratnya lima setengah ton ini, tidak cukup kuat untuk menampung beban beberapa orang dalam waktu yang lama.

Jika mencatatnya satu persatu hampir semua monument di Jakarta menjadi sasaran tangan jahil, baik yang dilakukan secara sengaja ataupun tidak. Vandalisme tersebut beragam bentuknya, mulai dari graffiti dengan menggunakan cat semprot, hingga kerusakan fisik patung akibat benturan benda-benda keras. Satu hal pula, ada pandangan beberapa orang yang mengaku sebagai demokrat menganggap bahwa monument-monumen di Jakarta yang kini berdiri adalah warisan Orde silam, jadi tidak masalah jika ia rusak, karena melambangkan rezim masa lalu. Anggapan ini tentu saja keliru, karena banyak monument di Jakarta dibangun tidak atas nama politik. Pun kalau ia berasal dari rezim masa lalu, bukan berarti harus begitu saja dirusak dan dihancurkan.

Leave a Reply

Close Menu