Mereka menyebutnya “angkringan”

2001_Agustus_Edisi 127_Bahas:
Mereka menyebutnya “angkringan”
Ade Tanesia/Rohman Yuliawan

“Kelurahan Bukan Ajang Judi Pak…..! Demikian salah satu isi surat pembaca media komunitas “Angkringan”. Selanjutnya warga desa Timbulharjo yang tidak mau disebutkan identitasnya itu menceritakan pengalamannya saat memergoki aparat kelurahan yang sedang bermain judi di kantor.

Media komunitas “Angkringan” yang terbit perdana pada 6 Januari 2000 memang telah memungkinkan suara warga desa memperoleh tempatnya. Menurut Achmad Nasir pendiri Angkringan-kontrol warga lewat media ini membuat edit desa lebih berhati-hati. Misalnya dalam penyaluran dana Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (PEKP) sebesar Rp. 205 juta, media Angkringan secara kritis menyoroti proses distribusi dana tersebut dengan membeberkan data yang ada. Walhasil bunga yang dinaikkan oleh aparat hingga sebesar 5% akhirnya dikembalikan sesuai aturannya yaitu 1,5%. Lalu adakah orang-orang yang merasa dirugikan dengan pemberitaan di media Angkringan? “Tentu saja ada. Biasanya mereka adalah para elit desa. Ada yang bertanya soal keabsahan media ini. Lalu kita mencantumkan saja UU no. 40 tahun 1999 tentang Pers dalam media itu, dan tidak ada yang tanya-tanya lagi. Selain itu kita tetap mempertahankan independensi, sehingga tidak ada istilah pelindung dalam struktur kerja media ini”, tandas Nasir yang lulusan jurusan Sosiologi UGM ini.

Hingga kini media Angkringan menjadi media yang ditunggu-tunggu warga desanya. Media yang awalnya berasal dari obrolan ringan tentang ketidakberesan pengelolaan dana JPS (Jaring Pengaman Sosial) ternyata disambut antusias oleh masyarakat setempat, apalagi isinya menjadi sarana kontrol kerja aparat desa. Kini sekitar 200 kopi siap diedarkan ke seluruh kampung di timbulharjo, 170 eksemplar diantaranya untuk pelanggan yang ditarik iuran Rp. 1.500,00 perempat edisi. Angkringan juga dijual dengan harga ecean per eksemplar Rp. 400,00. Dan yang menarik, sejak awal 2001, kerabat Angkringan mengunjungi warga Timbulharjo lewat gelombang radio lokal, Angkringan FM, untuk menyampaikan informasi bagi warga yang tidak mendapatkan edisi cetak ataupun bagi warga yang belum mengenal tulisan.

Di awal langkahnya, kerabat kerja bulletin Angkringan, kebanyakan didukung oleh siswa SMU yang masih buta dengan liku-liku dunia media. Nasir, yang pernah aktif di media kampus, mencoba membekali mereka dengan pengetahuan jurnalistik secara bertahap. Mula-mula mereka dikenalkan dengan aplikasi komputer sederhana, baru kemudian cara mengetik dan melakukan editing serta mengatur tata letak dan perwajahan bulletin. Kini setidaknya ada 11 orang yang menjalankan penerbitan bulletin Angkringan, lima diantaranya termasuk dari generasi pertama. “Kedekatan dan cairnya hubungan antara pengelola bisa jadi melatari alasan betahnya mereka mengelola media ini, terlepas dari ketiadaan kompensasi financial,” terka Nasir menambahkan. Biarpun bermodalkan kesederhanaan, Angkringan mampu menjadi wadah bersuara masyarakat Timbulharjo yang cukup representatif dan bahkan menjadi inspirasi bagi pertumbuhan media komunitas lainnya. Tak salah jika Institut Studi Arus Informasi (ISAI) memberikan penghargaan kategori Pers Alternatif Terbaik 2000 dengan kategori khusus.

Leave a Reply

Close Menu