merancang tempat sampah

2000_April_Edisi 111_bahas:
merancang tempat sampah
Ade Tanesia

Saat di jalan raya , sering kali kita melihat seseorang membuang sampah seenaknya di jalan. Uhh…makanya! Mungkin itu yang terlintas dalam benak. Padahal bisa saja sebab musabab kemalasan ini dilatari oleh benuk dan penempatan tampat sampah yang asal jadi. Kini banyak desainer yang memandang bahwa perilaku malas ini bisa saja diubah jika dibuat tempat sampah yang lebih menarik dan efisien dari segi fungsi dan bentuk.

Febiamona, seorang desainer lulusan Universitas Trisakti, adalah salah satunya yang sangat memperhatikan desain fasilitas umum di perkotaan yang disebutnya “street furniture”, sepertinya shelter kendaraan umum, telepon umum, lampu-lampu jalan dan taman, papan nama jalan, kotak bis surat, bangku taman, polisi tidur, pagar shelter polisi, dan tempat sampah. Sebagai contoh kasus, diambil kota satelit Bumi Serpong Damai. Sebelum membuat rancangannya, Febiamona mengenali lebih dahulu karakter penghuni kota tersbut, misalnya seberapa besar kebutuhan mereka akan informasi, rekreasi apa saja yang diminati oleh masyarakat, bahkan sampai pada ukuran tubuh rata-rata penghuni. Dengan pengenalan yang mendalam, diharapkan desain “street furniture” yang dihasilkan dapat fungsional, dioperasikan dengan mudah, bersih, mudah dirawat, nyaman, ergonomis, serta estetis.

Khusus untuk desain tempat sampah, pada tahap pertama Febiamona membedakan jenis-jenis sampah. Misalnya jenis sampah basah yang cepat membusuk (garbage) dan sampah kering (rubbish) yang sukar membusuk (termasuk di dalamnya kaleng, plastik, kertas, serta gelas). Sampah kering ini dibaginya lagi dalam jenis sampah yang mudah terbakar (kertas, kayu, plastik) dan sukar terbakar (logam, besi, timah, tembaga, kaca, botol, beling).

Dengan mengenali karakter penghuni kota dan jenis buangan sampahnya, maka Febi dapat mencatat berbagai pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum membuat keputusan desain. Misalnya, sebelum menentukan wadah sampah, maka ia harus mengetahui lebih dahulu volume sampah hariannya. Di setiap lokasi akan ia letakkan dua buah tempat sampah untuk menampung sampah basah dan kering. Juga diperhatikan sisi informatifnya, maksudnya tempat sampah tersebut mudah dilihat oleh orang dan petugas keberihan. Disamping sampah untuk membuang kotoran dari mobilnya. Sebaliknya, mereka akan melempar sampahnya lewat kaca jendelanya. Nah, di sini Febi memperhitungkan besaran lubang tempat sampah, sehingga dalam kecepatan dan jarak tertentu, buangan sampah itu masuk ke lubangnya dan tidak berceceran di jalan. Penutup tempat sampah juga menjadi bahan pertimbangan, misalnya sering kita jumpai tutup sampah yang kotor dan basah, sementara jika hendak membuang sampah, kita masih harus menyentuh tutupnya. Hal ini tentunya menimbulkan rasa jijik, sehinga kita pun enggan membuang sampah. Oleh karena itu, Febiamona membuat tutup sampah yang memungkinkan sampahnya tidak beterbangan dan baunya tidak menyebar. Saat petugas mengambil sampah, maka pada tutup sampah juga diberikan kunci jenis pengait sehingga antara badan tempat sampah dan tutupnya menyatu. Mengenai warna, Febi memilih warna-warna menyolok agar menarik (eye catching), mudah diketahui masyarakat serta memperindah lingkungan kota.

Tentunya masih banyak catatan-catatan baik dari segi sosial budaya cuaca, estetika, fungsi, kenyamanan yang harus diperhitungkan dalam merancang sebuah desain tempat sampah. Ketika sebuah tempat sampah sudah berdiri si sepanjang jalan raya, kadang kita tidak membayangkan bahwa benda itu dibuat dengan proses pemikiran yang panjang, Febiamona sudah memulainya. Kalau semakin banyak desainer yang tertarik pada bidang “public design”, penghuni kota pun semakin menikmati kenyamanan fasilitas kota.

Leave a Reply

Close Menu