Menyusuri Jeron Benteng Kraton

2001_September_Edisi 128_Sekitar Kita:
Menyusuri Jeron Benteng Kraton
Rohman Yuliawan

Seharian menelusuri masa lalu di bangunan yang tengah meruntuh, mengagumi ukiran kaya makna, atau mencicipi jajanan tradisional di pendapa rumah kuno sembari menggali filosofinya? Mengapa tidak? Kesempatan langka semacam itu ditawarkan panitia Jogja Heritage Week 2001, sebuah gelaran sepekan untuk mengkampanyekan pelestarian pusaka budaya, yang berlangsung 6-8 Agustus lalu di Yogyakarta.

Dengan tajuk Jero Benteng Heritage Traill,pada tanggal 5 Agustus 2001, sekitar 70 peserta yang kebanyakan mahasiswa dari Yogyakarta dan Solo, dibawa menyusuri kawasan Jero Benteng untuk mengunjungi tujuh pusaka budaya berupa bangunan kuno beserta aspek social budaya yang melingkupinya, diantaranya Keraton Yogyakarta. Masjid Hargoyuwono, Tamansari dan Alun-alun Selatan. “Acara ini digagas sebagai rintisan paket wisata budaya yang arahannya kelak bisa dikelola masyarakat setempat” kata Laretna T. Adhisakti, salah seorang pegiat konservasi budaya dan pencetus even tersebut. Bu Sita, panggilan akrab Laretna, menambahkan bahwa pada tiga hari berikutnya acara semacam ini juga diadakan untuk anak-anak sekolah dasar.

Dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, dengan dipandu guide setempat, para peserta berjalan kaki menyusuri sudut demi sudut bangunan Keraton Yogyakarta sembari menyimak ulasan seorang pakar bangunan tradisional yang menguasai makna filosofi yang terpendam dibalik ukiran, warna, bentuk-bentuk arsitektural maupun tata bangunan kediaman raja Yogyakarta tersebut. Alun-alun Selatan dan kawasan Tamansari mendapat giliran berikutnya, kemudian disusul Dalem Kaneman, kediaman salah seorang putrid Hamengkubuwono IX. Di pendapa bangunan yang didirikan pada tahun 1855 ini, para peserta disuguhi tarian yang disajikan oeh murid-murid sanggar tari Among Bakso.

Perjalanan dilanjutkan dengan andhong kereta kuda tradisional, menuju Masjid Hargoyuwonoto yang artistik, kemudian dilanjutkan ke sebuah rumah tradisional di kawasan Silbiran. Acara heritage traill diakhiri dengan kunjungan ke Masjid Gedhe, Kauman. Sayang, pada beberapa obyek selain Keraton Yogyakarta pemandu yang bertugas kurang cakap dalam mengurai nilai-nilai adiluhung yang tersimpan. “Pesertanya terlalu banyak sih. Jadi apa yang digali tidak dapat tersampaikan secara maksimal” komentar Puntho, Lepas dari hasil yang dicapai, acara semacam ini perlu terus diadakan untuk mengais rasa cinta masyarakat pada pusaka budaya.

Leave a Reply

Close Menu