Menjadi seniman

2000_Mei_Edisi 112_seni:
Menjadi seniman
Ade Tanesia/Rohman Yuliawan

Seringkali kita melihat bocah-bocah dalam iklan di televisi berujar penuh harap….”saya ingin jadi dokter” atau “saya ingin jadi pilot.” Tapi jarang sekali yang mengatakan “saya ingin menjadi seniman.” Profesi ini memang kurang popular di masyarakat kita, bahkan banyak orang tua yang khawatir jika anaknya punya bakat seni. “Jangan sampai mereka jadi seniman,” mungkin ungkapan ini yang akan muncul dalam benak. Yang menarik, di tengah menekuni profesi ini dengan sungguh-sungguh. Keberanian memilih dan ketahanan mereka merupakan hal langka, dan pelukis Yuswantoro Adi, I Gusti Ayu Kadek Murniasih serta pemusik Untung Basuki merupakan salah satunya.
“Ketelanjuran” Yuswantoro Adi
Pelukis asal Semarang ini terkenal dengan komitnmennya untuk tetap berada di jalur gaya lukisan realis. Kepiawaiannya menguasai teknik lukis realis dan kecerdasan sudut pandang yang dimilikinya telah menghantar pria ini memperoleh penghargaan Philip Morris Asean beberapa tahun lalu. Lebih dari itu, ia pun kini dikenal sebagai pelukis realis tangguh yang dimiliki Indonesia.
Bermula pada tahun 1986. Seusai menyelesaikan tingkat SMA, Yuswantoro diterima di jurusan ekonomi UNDIP dan sekolah seni rupa ISI di Yogyakarta. “Dihadapkan pada dua piliha itu, saya akhirnya memilih sekolah seni rupa. Alasannya sederhana kok, saya sudah cape mikir, bayangin dari SD sampai SMA….. begitu aja. Sekolah semacam itu tidak memanjakan aspek rasa yang ada dalam diri saya, “ungkap Yuswantoro saat ditemui [aikon!] di kediamannya di Jl. Dagen, Yogyakarta. Ia menolak jika dikatakan bahwa keputusannya didasari oleh keinginan, tapi lebih pada pilihan, ketelanjuran dan garis yang ditentukan Tuhan. Bagi Yuswantoro, keterlanjuran itulah yang harus dituntaskan. Ayahnya hanya mengingatkan bahwa jika ia memilih sekolah seni rupa, maka ia harus menjadi pelukis. Kata-kata inilah yang selalu membayangi Yuswantoro. Sehingga saat di kampus, ia menggunakan segala kesempatan yang ada untuk membentuk dirinya menjadi pelukis. “Sejak pertama saya masuk ISI, tak pernah terpikir dalam benak untuk melirik profesi lain. Yah saya hanya ingin jadi pelukis, itu yang saya pelajari,” tegasnya.
Ketika dirinya cukup aktif mengikuti berbagai pameran serta memiliki komunitas seni yang mengakui keberadaannya, dan juga mulai mampu menghidupi keseniannya dengan menjual lukisan, maka saat itulah ia berani menyatakan dirinya sebagai pelukis. “Ini terjadi setelah 4 tahun di ISI, lalu saya berhenti kuliah. Bagi saya daripada memperoleh uang untuk bayar kuliah, lebih baik beli kuas, cat dan kanvas,”ungkap ayah dari satu anak ini. Komitmennya tidak hanya berhenti disitu saja. Keterlanjuran juga terjadi saat ia jatuh cinta pada lukisan realis, sehingga ia pun tidak akan mundur dari gaya lukisna tersebut. Padahal melukis realis memakan waktu cukup lama, untuk menyelesaikan satu lukisan saja bisa sampai satu atau dua bulan. “Dalam setahun, saya hanya bisa menelurkan kira-kira 10 karya saja, “ujarnya. Namun kendala ini pun tidak menjadikan dirinya merubah gaya lukisan, bahkan segala cara yang bisa memperkuat lukisan realisnya dilakoni. Misalnya, sebuah lukisan realis membutuhkan pengenalan karakter yang detil, sehingga jika Yuswantoro akan melukis sebuah obyek maka selama berbulan-bulan ia akan mengadakan peneliatian tentang obyek tersebut. Walhasil, Yuswantoro pernah berkutat menekuni tema uang sampai 4 tahun.
Disamping itu, atmosfer kesenian di Yogyakarta yang sarat dengan persaingan antar seniman, juga menjadi pemicu baginya. “Dulu kita di kampus itu akan diejek kalau lukisannya mirip dengan orang lain. Menghadappi hal seperti itu, mau nggak mau kita dipacu untuk menemukan gaya lukisan sendiri. Dan bukanlah itu berarti proses mengenali diri sendiri? Jadi Yogyakarta memang sangat kondusif untuk memproses seseorang untuk jadi seniman,”tambahnya. Konsekuensi yang mengerti pilihan hidup Yuswantoro telah disadarinya sejak semula. Ketika ia menikah, sedari awal dirinya seudah meyakinkan dan menyamankan isterinya bahwa ia bisa menghidupi keluarga. “Untung isteri saya bisa mengerti profesi seniman yang tidak tetap. Kita mulai dari nol sekali, tidak punya apa-apa, “kenangnya. Saat menghadapi lingkungan sekitar, ia pun siap menjelaskan profesinya kepada tetangga. “Kan sering tetangga bilang….wah lagi prei mas. Maksudnya mereka bertanya, kok libur terus nggak pernah ngantor. Apakah saya ini pengangguran? Yah, saya pelan-pelan memberitahu bahwa pelukis itu memang bekerja di rumah.” Lanjutnya. Ada teknik menarik agar dirinya lebih akrab dengan tetangga, yaitu mendekati anak-anaknya. Yuswantoro biasanya menyediakan ayunan di halaman rumahnya agar banyak anak tetangga yang bermain disana. Nah lewat anak-anak akan menyambung rasa dengan tetangga, terutama saat ia menempati rumah kontrakan resiko inilah yang dengan senang hati diajarkan oleh Yuswantoro Adi. “Saya mengatakan bahwa ketika dirinya ditanya apakah dia yakin menjadi seniman? Lalu di mengatakannya bukan yakin, tapi siap. Mungkin ini juga yang saya putuskan dalam hidup saya, bahawa saya siap unutk menjalaninya sampai kapanpun, “tutur Yuswantoro mengakhiri bincang-bincangnya di sore hari.
I Gusti Ayu Kadek Murniasih Yang Otodidak
Mengikuti kisah perjalanan hidup I Gusti Kadek Murniasih, maka tidak ada kata lain bahwa alamlah yang telah membawa dirinya menjadi seniman. Tanpa pernah mengecap pendidikan seni rupa, Muniasih mampu menciptakan karya lukis yang sungguh indah. Lukisannya merupakan sebuah gagasan sederhana yng diungkapkan dengan puitis sekaligus tragis.
Murniasih, anak terakhir dari sepuluh bersaudara ini sejak kecil telah dikenal sebagai sosok yang sangat berani mengungkapkan pendapatnya. Masih segar dalam ingatannya, saat ia sungguh protes melihat orang tuanya menjual berhektar-hektar sawahnya di Bali untuk mengikuti transmigrasi ke Sulawesi.
Hanya bertahan dua bulan di sebuah kampong di Sulawesi, Murniasih kecil pun lari pergi ke kota Ujung Pandang menjadi pembantu rumah tangga. Ia tidak tahan menghadapi perilaku orang tuanya yang memperhatikan anak pria, dan tidak pernah memberikan kesempatan sekolah untuk anak perempuannya.
Di kota Ujung Pandang Murniasih bertemu dengan majikannya yang baik hati. Ibu majikannya tidak tega memperkerjakan Murniasih, dan akhirnya menyuruhnya dia bersekolah. Berjalan 5 km dari rumah ke sekolah bukanlah hal sulit baginya. Namun saat menginjak kelas 2 SMP, Murniasih akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah. Ia keletihan harus menekuni pekerjaan sekolah dan pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga. “Saat itu saya bilang sama ibu, bahwa saya ingin bekerja di garmen saja bersama beliau. Akhirnya disanalah saya belajar menjahit,” ungkapnya. Bekerja sebagai penjahit belumlah memberikan kepuasan bagi Murniasih. Majikannya hanya bisa menangis saat hatinya ingin kembali ke kampung halamannya, pulau Bali. Namun itulah tekad Murniasih, dan ia berangkat ke bali untuk menemui sanak saudaranya.
Memulai hidup di Bali, Murniasih sebagai penatah perak. “Wah, mata saya berair terus saat bekerja. Saya sungguh tidak kuat, “lanjutnya. Bergelut dengan perak akhirnya ditinggalkannya, dan Murniasaih bekerja kembali di perusahaan garmen di Ubud. Disanalah ia bertrmu dengan Mundo, seorang pelukis Italia yang akhirnya menjadi suaminya.
Waktu itu sekitar 12 tahun silam. Murniasih bekerja kembali sebagai pembantu rumah tangga Mundo. Rasa cinta tumbuh pada diri Mundo terhadap Murniasih, sehingga akhirnya ia memberikan kesempatan baginya untuk belajar melukis dengan seorang pelukis tradisional. Pengosekan yang bernama Mokoh.Sejak itulah Murniasih secara otodidak menekuni bidang lukis. Setelah ia tidak lagi kesulitan dengan persoalan teknis. Murniasih mulai bosan dengan obyek lukisan yang selalu sama. “Hampir seluruh desa menggambar flora dan fauna, dan saya bosan. Saya ingin melukis yang mengekspresikan pikiran saya sendiri,” ujarnya. Murni pun mencoba menciptakan simbol-simbol dalam lukisanya sangat ekspresif sekaligus erotis yang menampilkan tampakan alat kelamin wanita. Saat itu ia menerima banyak kecaman, karena lukisannya dinilai sangat berani. Murniasaih tidak terpengaruh dengan berbagai kecaman tersebut, dengan tegas ia mengatakan bahwa dirinya tidak mungkin menipu gagasan yang keluar dari pikirannya sendiri. “Tidak mungkin saya memilah….oh…yang ini harus dihilangkan….dan yang ini boleh dilukis. Semua keluar begitu saja,” tegasnya. Kekuatan untuk mengekspresikan diri dengan jujur inilah yang dipunyai oleh Murniasih. Berbekal keberanian ini ia terus melaju sebagai seniman, sampai-sampai ia tidak ingin membuang waktunya tanpa menghasilkan sebuah karya. “Inilah kebahagiaan saya. Dan kepada Mokoh dan Mundo lah saya mengucapkan terimakasih,” ungkapnya dengan lirih.
Pemusik Untung Basuki
Jalan yang membawa Untung Basuki sebagai seniman tidak lepas dari pilihannya untuk bersekolah di SSRI Yogyakarta (Sekolah Seni Rupa Indonesia yang kini bernama SMSR) pada tahun 1966. Walaupun orang tuanya menyarankan agar dia mengambil sekolah menengah umum, yang “jalurnya jelas” dan menjamin masa depannya. Untung Basuki tetap teguh dengan pilihannya. Ketertarikannya pada dunia kesenian semakin kuat saat ia berjumpa dengan penyair Rendra yang kala itu baru pulang dari Amerika. Akhirnya, di awal 1970-an ia bergabung dengan komunitas Bengkel Teater yang didirikan Rendra di daerah Ketanggungan. Sebelumnya Untung Basuki sudah bergabung sengan Sanggar Bambu dan kerap mengikuti pameran lukisan. Namun pada saAT yang sama ia juga tertarik pada dunia musiK, dan secara otodidak belajar gitar. “Waktu itu lagu yang biasanya saya mainkan adalah lagu-lagu Simon & Garfunkel,” ujarnya. Lalu ia mulai memberanikan diri menciptakan lagu, dan lahirlah “Lepas-lepas”, Bunga-bungaan”, “Hutan Pinus”, dan lain-lain.
Pujian dari komunitas telah menambah semangatnya untuk menggeluti musik, walaupun ia mengaku bahwa dirinya hanyalah pemusik “ular pagar” alias tidak pernah rekaman dan hanya terkenal di kalangan sendiri. Memang diakuinya bahwa dirinya kurang gigih dalam memperjuangkan lagu-lagunya agar bisa diterima perusahaan rekaman, sehingga ia belum berhasil menjadi musik sebagai topangan hidupnya di tahun 1992. Untung mencoba bangkit lagi dengan membentuk kelompok musik Sabu.
Untung menyadari bahwa profesinya sebagai pemusik belum mampu memberinya kesejahteraan, baru sekedar hidup saja. Namun ia tetap konsisten dengan pilihannya, apalagi komunitasnya cukup mendukung dan memberikan semangat padanya. Secara bergerilya, melalui kesenian Untung terus memberikan konstribusi sosial kepada masyarakat. Dari situlah ia memperoleh pengakuan masyarakat terhadap keseniannya. Kehidupan kesenian yang selalu berada di benang tipis, juga kerap membuahkan keraguan. Terkadang terbesit pemikiran untuk beralih profesi saat terbelit kesulitan ekonomi. Namun bersama keluarganya, Untung Basuki tetap mampu bertahan. Kepuasan saat usai berkarya nampaknya tak bisa tergantikan oleh apapun.

Leave a Reply

Close Menu