Menjadi pekerja sosial

1999_April_Edisi 100_selip:
Menjadi pekerja sosial

“City Year”, program mahasiswa peduli kota. Sebuah program untuk mempedulikan persoalan kemiskinan serta lingkunagn kota seperti memperbaiki taman untuk masyarakat, atau mempercantik pemukiman kumuh, dll. “Sebelumnya tak terlintas dalam diri saya untuk bertanggung jawab pada apapun, selain punya BMW, rumah atau apartemen mewah. Sekarang cara berpikir ini sudah usang, lewat program ini saya belajar bahwa setiap orang harus punya peran dalam masyarakatnya,” catat Widi, seorang relawan program ini.

  • Menghindari wajib militer. Meskipun Jerman tidak dalam kondisi perang, namun hingga kini para pemudanya tetap harus mengikuti wajib militer selama 1 tahun. Tentunya peraturan ini kurang diminati mereka, sehingga banyak yang akhirnya mengambil pilihan kedua, menjadi pekerja sosial selama 1,5 tahun. Ada yang bekerja menemani orang tua panti jompo, menjadi pendamping orang-orang yang kecanduan alkohol, atau melayani anak-anak jalanan (street children).
  • Volunteer Illini Projects (VIP). Merupakan program dari Universitas Illinois, Amerika yang telah berjalan sejak tahun 1963. Kini sekitar 800 mahasiswa menjadi relawan untuk berbagai program =, diantaranya perbaikan rumah-rumah tua yang sudah kosong, memberikan permainan keratif untuk anak-anak usia 18 bulan – 5 tahun, membacakan cerita, sehingga mereka tidak kesepian karena ditinggal orang tuanya bekerja. Juga ada yang mengambil makanan dari asrama mahasiswa dan diberikan lagi bagi mereka yang kelaparan.
  • Kerabat WWF Yogyakarta. Kelompok pecinta lingkungan ini membidik misinya pada penyebaran informasi dan pendidikan lingkungan untuk masyarakat perkotaan. Sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta. Kegiatannya antara lain, memberikan materi seputar keanekaragaman hayati dan Gaya hidup Hijau (Reduce, Refill, Reuse, Recycle) ke sekolah-sekolah. Juga kampanye kegiatan daur ulang kertas dan pemakaian serat pewarna alami. Saat ini, sedang dijalankan program warung nasi seharga Rp. 500,- untuk kalangan buruh gendong di pasar Beringharjo (bekerja sama dengan YASANTI) selama 10 minggu, dari bulan Maret-Juni, setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu.

Sumber: Nuansa, Tabloid Kampus berkata. Media Mahasiswa UMY. Edisi Ospek’98 Bulaksumur, Surat Kabar Mahasiswa UGM. Edisi Khusus No. 24/VII/1997 Malay, Afnan. “Opspek Media Otensitas Manusia Bermain. “Kompas, Kamis, 31-08-1995. Hal. 17 “Masih perlukah perplontjoan diseminarkan?”. Dalam Majalah Gama Gema Intrauniversiter, ­Th.VIII No. 10 1959.”Perplontjoan di Pagelaran,”Dalam Majalah Gama Gema Intrauniversiter, Th. VII No. 12 November 1958.

Leave a Reply

Close Menu