Menjadi Konsumen Pro – Lingkungan

1997_akhir April_Edisi 067_peduli:
Menjadi Konsumen Pro – Lingkungan

Di awal tahun 1987, paham konsumen hijau (green consumerism) mulai marak menyebar ke seluruh dunia. Paham ini mula-mula diperkenalkan oleh para aktivis lembaga konsumen di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang. Melalui kampanye dan penerbitan buku, mereka menyebarluaskan paham konsumen hijau.

Kata kunci dari paham “konsumen hijau” adalah KURANG. Maksudnya bijaksana terhadap lingkungan mengambil sesedikit mungkin, mengurangi ketergantungan pada bahan tambahan, Juga melakukan audit lingkungan di rumah, kantor, sekolah dan lingkungan mereka. Dengan cara memisahkan produk-produk berbahaya dan dan tidak berbahaya terhadap lingkungan sekitar. Disamping itu, para konsumen hijau pun memperhatikan berbagi produk yang hendak dibeli. Kriteria produk yang diinginkan oleh konsumen hijau…….

  • Didalamnya tidak terkandung bahan yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
  • Dibuat dengan proses produksi yang tidak membahayakan secara langsung bagi manusia dan lingkungan. Juga tidak mengkosumsi energy atau sumber lain dari luar yang berlebihan.
  • Bukan barang sekali pakai lagi atau dengan masa pakai yang pendek.
  • Dapat segera dipakai lagi atau di daur ulang, baik produk maupun kemasannya.
  • Tidak memakai bahan dari binatang atau melakukan tindakan yang tidak perlu terhadap binatang (terutama untuk obat-obatan dan kosmetika)
  • Pembuatan produk tidak menggunakan bagian atau seluruh bagian dari binatang langka dan unsure lingkungan yang terancam punah.

Gerakan konsumen hijau rupanya cukup mempengaruhi para produsen. Dengan adanya permintaan tinggi dari konsumen, maka produsen pun mulai memproduksi “produk hijau”, seperti makan organik, pembersih yang mengandung bahan alami, kertas daur ulang dan tidak semua produk berlabel “hijau” benar-benar gemar lingkungan. Bagaimana di Indonesia? Paham ini baru aktif berjalan di kalangan individu tertentu. Namun sebenarnya pemerintah telah mendorong kita untuk menjadi konsumen hijau. Misalnya dengan adanya pelarangan penggunaan CFC dan berubah bentuk menjadi HFC yang hanya diperbolehkan sampai tahun 1998. Di Bali, menurut Yuyun dari Yayasan Wisnu, barang-barang yang ramah lingkungan sudah bisa ditemukan tapi toko/tempat khusus untuk itu belum ada, jadi tempatnya masih terpisah, misalnya untuk makanan di Batu Jimbar Café (Sanur) , untuk recycled paper di Naca Gallery (Jl. Legian). Kesadaran untuk mendukung green consumerism di sektor pariwisata juga sudah mulai timbul, terbukti dengan adanya PATA Green Team, suatu organisasi beranggotakan hotel, restoran dan badan usaha yang peduli dengan lingkungan. PATA Green Team membina anggotanya untuk lebih peduli dengan lingkungan kelestarian alam dan sumber dayanya, misalnya dengan miminta hotel yang sudah menggunakan barang ramah lingkungan, program penghematan listrik dan air serta pengelolaan sampah dengan baik untuk membagi pengalamannya, sehingga anggota lain bisa mengikutinya. Disamping itu mereka juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli, misalnya dengan memasang papan peringatan untuk menjaga kelestarian lingkungan rawa disepanjang antara Sanur-Nusa Dua atau dengan memberi environment education kepada anak-anak. Ada juga kabar yang mengembirakan….di Jakarta ada seorang manajer menengah sebuah perusahaan yang melarang karyawannya menggunakan kemasan Styrofoam untuk makan siang. Dan setiap hari menghitung jumlah kantung plastik yang digunakan dan selalu tidak membuang kertas yang baru sekali pakai. Bahkan seorang teman dari YLKI telah menghentikan pemakaian tisu dalam bentuk apapun!!! Sekarang…tinggal kapan kita akan memulainya?

Cerita sekitar kependudukan

Bulan Februari 1997 lalu penduduk Indonesia genap berjumlah 200 juta. Untung ada program KB, kalau tidak jumlah itu bisa dilewati sekitar 5 tahun yang lalu.

Tetapi pernahkan anda membayangkan jumlah penduduk kota Bandung awal abad ini? Menurut cacatan, pada tahun 1901, penduduk kota Bandung baru berjumlah 28.963 jiwa. Terdiri atas 1.522 orang Eropa, 2.530 China, 100 Arab dan sisanya 24.748 orang pribumi.

Untuk menjaga keamanan penduduk cukup ditangani oleh “De Schout met zijn Rakers” atau Sakaut dengan para pasukan pengawalnya yang berjumlah 60 orang. Para pengawal Tuan Sakaut ini berseragam hitam tanpa sepatu, bersenjatakan golok, gada baja dan tombak. Sayangnya mereka lebih banyak bikin onar ketimbang menjaga ketentraman penduduk.

Sumber :

Franck, Irene M. David Brownstone, 1992. The Green Encyclopedia, edisi Pertama, Prentice Hall, New York, USA.
Hasil perbincangan dengan Sdri. Indah dari YKLI
Hasil perbincangan dengan Sdri, Yuyun dari Yayasan Wisnu, Bali
Bali Echo No. 027/V/97, edisi Februari. Maret 1997

 

 

Leave a Reply

Close Menu