Menjadi Cantik

1997_awal Oktober_Edisi 078_ bahas:
Menjadi Cantik

“Tidak ada orang yang sempurna, ungkapan yang sangat terkenal tapi begitu populer di dunia kecantikan. Ketika baju-baju model terbaru diperagakan, wewangian paling anyar disemprotkan, dan warna-warni rias wajah terkini diulaskan, seketika kesempurnaan wajah pun jadi tujuan banyak orang (terutama wanita, tentunya).

Dibantu oleh media massa yang kian menjangkau pelosok dunia, kecantikan pun tidak hanya ditentukan, tapi juga diseragamkan. Padahal, cantik tidak selalu merupakan predikat baik. Pasalnya, untuk menjadi cantik, sering kali sama artinya dengan mengundang petaka. Ribuan binatang harus dikorbankan hanya untuk menciptakan sebuah krem malam. Tidak hanya itu, ketika harapan untuk cantik tidak terpenuhi, rasa rendah diri pun datang menyerang.

Menjadi Seorang yang Cantik
Ide tentang “Cantik” dan “Tidak Cantik” rupanya berbeda di setiap tempat dan waktu. Karena lebih dari sekedar persoalan karunia alam, konsep “cantik” ternyata juga produksi sosial, ekonomi dan politik suatu masyarakat di suatu masa. Sebut saja era Victorian, saat itu wanita canitk bagi masyarakat Eropa adalah wanita yang sepenuhnya pasif dan tergantung, seperti malaikat di sangkar rumah. Sehingga wajah-wajah wanita tidak berdosa, halus, pucat, alami dan lugu, adalah tipikal wanita yang didambakan para pria di era itu. Ide ini diperkuat oleh lembaga gereja yang mengontrol kehidupan sesksual masyarakat, sehingga kecantikan wanita juga dilihat dari peran sucinya dalam mengontrol “keliaran” para pria.

Konsep cantik era Victoria pun berubah, ketika Eropa memasuki perang dunia 1 yang telah memporak-porandakan pola hidup tradisional. Keganasan perang telah mengakibatkan erosi keyakinan beragama dan memunculkan kelularisme. Saat itu, agama Kristen bukan lagi satu-satunya pegangan dalam menilai sebuah kecantikan.

Setelah Perang Dunia I, masyarakat Eropa mulai memasuki abad Industri yang perkembangan sangat pesat, yang menyebabkan banyak urbanisasi, banyak menikmati kehidupan yang lebih baik, dan memiliki kondisi kesehatan yang lebih prima. Dan, yang paling penting, masyarakat mempunyai banyak pilihan, termasuk untuk menggali kecantikan. Sebuah buku standar kecantikan Perancis yang terbit tahun 1920’an menyebutkan bahwa seorang wanita harus selalu mengolah kecantikannya berdandan pada saat mabuk cinta, tapi juga harus selalu tampil cantik di depan umum. Di era ini, para wanita banyak yang mulai bekerja di berbagai perusahaan, secara financial mereka mulai mandiri dan mulai mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Para feminis mulai memperdebatkan gaya pakaian yang sering kali dirancang untuk membatasi gerak wanita. Akhirnya, konsep kecantikan pun lebih menampilkan sosok wanita dinamis.

Ide “cantik” kemudian semakin ditumbuhkan oleh film. Di tahun 1920’an, ketika industry film telah lebih tertata, lapangan kerja baru pun terbuka wanita-wanita yang berwajah cantik. Sejak itu, wajah cantik jadi kebutuhan mutlak, tidak saja berlaku untuk wanita, tapi juga pria. Bahkan dalam sebuah buku yang diterbitkan sebuah perusahaan film Perancis ditulis bahwa “pendapat lama yang telah meremehkan penampilan pria harus ditumbangkan, karena para pahlawan pun (yang kebanyakan pria) harus terlihat tampan”

Buku ini telah merubah pandangan era Victoria yang berpendapat bahwa “kecantikan hanyalah milik wanita”. Namun, bila ditelaah lebih lanjut, konsep “tampan” untuk pria ternyata lebih banyak bersifat non fisik, misalnya dengan menonjolkan kejujuran kehangatan, atau kelembutan hatinya. Secara fisik, kaum pria cukup mencukur rambutnya, bersih dan rapih dalam berpakaian. Artinya, untuk menjadi seorang yang cantik….seorang wanita seringkali harus menjadi “orang lain” dengan imbuhan kosmetik atau balutan busana istimewa. Sifat, sikap, bahkan isi kepala, tidak terlalu diperhitungkan untuk memberi predikat “cantik” pada wanita. Bahkan, sampai saat ini pun pendapat tersebut masih banyak penganutnya.

Leave a Reply

Close Menu