Mengolah keindahan bambu

2002_Februari_Edisi 131_Lintas:
Mengolah keindahan bambu
Ade Tanesia

Bambu bukanlah benda asing bagi-masyarakat Indonesia. Ia hadir di dapur rumah tangga, menjadi dipan di beranda rumah, juga dimainkan oleh anak-anak kecil, atau berfungsi sebagai alat pemanggil warga desa yang disebut kenthongan. Dengan sebilah bambu pula, para dukun bayi di masa lampau memotong ari-ari bayi yang baru lahir. Dan di tangan seniman, bambu menjadi materi menarik yang bisa diolah.

Adalah Nane Kollgard, seniman asal Denmark yang mempunyai ide untuk merancang proyek seni bambu dengan melibatkan seniman Denmark dan Indonesia. Pertemuan antara dua kebudayaan ini akan menghasilkan interpretasi serta perlakuan yang berbeda terhadap medium bambu. Bagi para seniman Denmark, bambu merupakan bahan yang eksotik dan sarat akan imajinasi. Sementara bagi seniman Indonesia, bambu adalah benda keseharian yang bisa dielaborai tanpa batas. Setelah memperoleh dana dari kedutaan Denmark, Nane Kollgard pun memilih seniman Denmark yaitu Alfio Bonanno, Jane Balsgaard, Brit Smelvae dan Vibeke Glarbo. Keempatnya merupakan seniman yang kerap membuat karya dari bahan-bahan alami seperti ranting, dedaunan, batang. Sementara seniman Indonesia yang dipilih adalah Mella Jaarsma (perupa kelahiran Belanda yang sudah lama tinggal di Indonesia), Nindityo Adi Purnomo, Anusapati dan seorang arsitek, Eko Agus Prawoto. Ketiganya sudah terkenal dengan olahan bahan alaminya Nindityo Adi Purnomo dengan konde raksasanya yang terbuat dari rotan. Anusapati, pematung yang mengolah bahan kayu, dan Mella Jaarsma mempunyai pandangan khas komunitas, hibrid, yang hidup di antara tradisi Timur dan Barat. Eko Agus Prawoto, arsitek yang selalu berprinsip bahwa arsitektur harus mempunyai tautan dengan tradisi, artinya tidak lepas secara kultural. Para seniman Indonesia ini ingin merancang sebuah karya permanen yang memiliki fungsi sosial bagi penduduk setempat.

Proyek Art Bamboo akan berlangsung sejak tanggal 23 Februari hingga 19 Maret. Kegiatan utamanya adalah workshop pembuatan karya seni, pameran, diskusi dan seminar tentang bambu oleh ahli bambu dari UGM dan Universitas Duta Wacana. Di samping itu ada pula kegiatan yang melibatkan masyarakat setempat dengan tema “Bambu Aja”. Bentuknya berupa festival makanan dengan baham bambu dan pasar kerajinan bambu, lomba lampion kreatif bagi anak dan dewasa, ketoprak lesung dan jatilan, kemudian workshop membuat kerajinan keranjang dari bambu dan lomba memancing ikan oleh kaum Ibu.

Banyaknya kegiatan ini tentu akan memeriahkan tiga desa di Jogjakarta yang menjadi lokasinya, yaitu Desa Nitiprayan, Jeblog dan Kersan di bilangan Bantul. Pos kegiatan ini terletak di Pendopo Legan dan Limasan milik Harry Wahyu Ong di Desa Nitiprayan. Bukan hal yang mudah untuk melibatkan tiga desa dalam sebuah proyek kesenian. Nindityo Adi Purnomo dari Rumah Seni Cemeti yang menjadi panitia penyelenggara mengungkapkan bahwa banyak persoalan birokrasi yang harus dilaluinya, dari tingkat Bupati hingga RW dan RT. “Waktu audiensi dengan aparat pedesaan, mereka menganjurkan agar saya meminta pak Lurah turut campur menggerakkan keterlibatan penduduk dea. Selain itu soal, keamanan juga disorot sehingga mereka ingin kita minta bantuan polisi,” ungkap Nindityo Adi Purnomo. Inilah langkah yang harus ditempuh agar kesenian tidak terjebak seperti proyek pembangunanera orde baru yang datang tanpa melibatkan penduduk setempat. Proyek Art of Bamboo yang akan diliput oleh televisi Denmark ini, tentunya sebuah kegiatan sangat menarik, karena akan mengayam hubungan seniman, pelajar seni dan arsitektur, pengrajin bambu serta masyarakat setempat.

Informasi Selengkapnya:
Rumah Seni Cemeti
Jl. DI Pandjaitan 41
Jogjakarta 55143
t: 0274-371015
e:cemetiah@indosat.net.id
w: www.artofbamboo.com
Kontak: Riris D. Nugrahini

Leave a Reply

Close Menu